Akhlaq

Cara Berbakti Setelah Orang Tua Meninggal Dunia

Dikisahkan pada masa kekuasaan Al-Abbasiyyah ada seorang laki-laki mendatangi rumah seorang wanita, untuk menagih hutang.  Perempuan itu menampakkan ketidakmampuannya untuk melunasi utang sehingga orang itu marah dan memukulnya lantas pergi. Hingga di suatu hari dia datang lagi, akan tetapi kali ini yang membukakan pintu adalah anak kecil, putera dari wanita itu. Tamu itu menanyakan di mana ibunya. Anak tersebut menjawab, “Ibuku pergi ke pasar.” Laki-laki itu menyangka bahwa anak tersebut berdusta sehingga ia memukul anak itu dengan pukulan yang tidak begitu keras.

Tiba-tiba ibunya muncul dan melihat laki-laki itu memukul putranya maka ia menangis sejadi-jadinya. Hingga Laki-laki itu bertanya kepadanya, “Aku tidak memukulnya dengan keras, mengapa engkau menangis? Padahal kemarin aku memukulmu lebih keras, tetapi engkau tidak menangis.”

Sang ibu menjawab, “Kemarin engkau memukul kulitku, dan sekarang engkau memukul hatiku ….” Laki-laki tersebut terharu dan memaafkannya, serta bersumpah untuk tidak menuntut utangnya lagi semenjak itu.

Saudaraku, begitu besar kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Akankah kita lupakan jasa dan kasih sayang orang tua, karena usia kita yang telah ikut menua?

Bakti Sepanjang Hayat

Kebanyakan orang mengira bahwa birrul walidain tidak lagi wajib bila ia sendiri telah berkeluarga dan beranak cucu. Seakan beban birul walidain adalah untuk anak dalam artian orang yang belum berkeluarga. Padahal selama kita masih hidup meski sudah kakek nenekpun tetap berkewajiban birrul walidain. bahkan birrul walidain tidak terhenti meski orang tua telah meninggal dunia.

Bakti saat hidupnya orang tua adalah dengan mentaatinya, memenuhi keinginannya,bertutur kata lembut, tawadhu’, menyampaikan berbagai macam kebaikan, dan bila memungkinkan mencegah berbagai ganguan terhadap mereka. adapun bila orang tua sudah meninggal. biruul walidain bisa berupa:

  1. Perbanyaklah Istighfar/taubat

Mungkin ini seakan tidak nyambung dengan bakti anak kepada orang tua, tetapi birrul walidain itu sendiri adalah perintah Alloh. Maka memulai kesadaran untuk birrul walidain dengan memohon ampun kepadaNya, dan bertaubat kepadaNya adalah dianjurkan karena bukan tidak mungkin saat orang tua masih hidup dahulu, kita belum mampu menunaikan perintah ini dengan baik.

Dengan memohon ampun, Alloh akan memudahkan tekad kita untuk birrul walidain setelah  wafatnya orang tua kita.

  1. Mensholati Jenazahnya

Bisa menolong orang tua selepas meninggalnya tentu harapan setiap anak sholih. Dan peluang itu ada karena Beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disholati oleh 40 orang lelaki yang tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu, melainkan Alloh memberi syafaat pada mereka lantaran hal itu” (HR Bukhari).

Beliau juga bersabda:

“Jika kalian mensholati  mayat, ikhlaslah berdo’a untuknya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan” (HR Ibnu Majah).

Maka siapa lagi yang lebih diharapkan untuk sungguh-sungguh dalam berdoa penuh dengan keyakinan dan keihklasan kalau bukan anak si mayat sendiri. Maka mensholati dan mendoakannya dengan khusyuk adalah bentuk bakti anak selepas meninggalnya.

  1. Membayarkan hutang-hutangnya (bila ada)

Beliau Rasululloh sholallohu alaihi wa salam bersabda:

Siapa yang terpisah ruh dan jasadnya, dan dia terbebas dari tiga perkara maka pasti masuk surga: yaitu Kesombongan, khianat (korupsi) dan hutang” (HR. Bukhari)

Anak yang berbakti tentu tidak ingin orang tuanya terganjal untuk masuk surga gara-gara hutang yang ditinggalkannya.

Maka, termasuk bentuk birul walidain setelah wafatnya orang tua adalah dengan membayarkan hutang-hutang orang tua bila orang tua meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan hutang.

  1. Melaksanakan wasiat-wasiatnya (yang ma’ruf)

Diantara bentuk birul walidain lain selepas meninggalnya orang tua adalah dengan melaksanakan wasiat orang tua. Sebagaimana disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud bahwa Al Ash ibnu Wa’il as Sahmi terlah berwasiat agar 100 orang budak dimerdekakan untuknya (bila dia meninggal).

 Maka anaknya, Hisyam memerdekakan 50 budak dan anaknya, ‘Amru memerdekakan sisanya. Maka ia mendatangi  Rasululloh dan bertanya:

Wahai Rasululloh sesungguhnay ayahku telah berwasiat agar dimerdekakan untuknya 100 orang budak. Dan sungguh Hisyam telah memerdekakan 50 budak untuknya sehingga sisanya masih 50 budak. Bolehkah aku memerdekaan mereka?” Jawab Nabi : “Sesungguhnya jika ia muslim, maka merdekakanlah budak untuknya, bersedekahlah untuknya, berhajilah untuknya! Karena, pahala dari itu akan sampai padanya.”

  1. Menyambung silaturahmi, dengan kerabat orang tua

Sesungguhnya sebaik-baik bakti adalah seseorang menyambung tali silaturahmi kepada orang-orang yang dicintai oleh bapaknya sepeninggalnya.” (Sunan Abu Daud 4477). Maka seorang anak selepas meninggalnya orang tua bisa berbuat baik kepada saudara bapak, saudara ibu, dan itu terhitung bakti kepada orang tuanya.

  1. Terus Beramal bija untuk orang tuanya

Seorang anak bisa beramal untuk orang tuanya yang sudah meninggal seperti, terus mendoakannya, memohonkan ampun untuknya, berhaji untuknya, bisa juga dengan bershodaqoh atas nama mereka. Sebagaimana disebutkan didalam hadits shahih, Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasululloh SAW:

Bapakku meninggal dunia, dan ada meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosa-dosanya bila saya shodaqohkan?” Jawab Beliau: “Dapat!” (HR. Ahmad & Muslim).

Adapun tentang mengirim pahala, Ibnu Taimiyah dalam majmu’ fatawa menjelaskan, adapun amalan-amalan seperti sholat, puasa, hadiah bacaan qur’an untuk orang tua yang telah meninggal, maka para ulama ada dua pendapat. Imam Ahmad dan Abu Hanifah berpendapat akan sampai kepada mereka, sedangkan yang masyhur dari pendapat Imam Syafe’i pahala tersebut tidak akan sampai.

Inilah birrul walidain selepas wafatnya orang tua, yang jelas kewajiban ini tidak terhenti dengan wafatnya orang tua. Berbaktilah kepada mereka, niscaya anak-anak kita pun akan bakti kepada kita… Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close