Akhlaq

Binasa Karena Lisan

Faktanya, betapa banyak orang yang jatuh martabatnya gara-gara mulut sendiri. Betapa banyak orang mulia jadi hina, yang dipuja jadi dicela, yang dipuji jadi dicaci, dan sekali lagi sebabnya adalah karena apa yang keluar dari mulutnya. Mungkin benar ungkapan “Mulutmu Harimaumu” maksudnya orang bisa celaka/binasa karena mulut dia sendiri, sebagaimana pemilik harimau bisa celaka karena piaraannya sendiri.

Yang jadi masalah, mulut tidak cuma bisa menyebabkan kehinaan seseorang didunia, lebih dari itu mulut bisa menjadi sebab rusaknya agama seseorang yang pada akhirnya menjadi sebab kebinasaan akhiratnya. Banyak riwayat tentang ini diantaranya:

Pernah Abdullah bin Mas’ud radliyallahuanhu bertalbiyah di atas bukit shofa. Kemudian berkata,

“Wahai lisan, berkatalah yang baik niscaya engkau akan memperoleh kebaikan atau diamlah niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesal”. Mereka bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman (maksudnya; Ibnu Mas’ud), Apakah ini suatu ucapan yang engkau ucapkan sendiri atau yang engkau pernah dengar?”. Beliau radliyallahu anhu menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya” (HR Thabrani)

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. (HR Bukhari)

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, aku bertanya,

“Wahai Nabiyullah! Apakah kita akan dihukum hanya lantaran apa yang kita ucapkan?”. Lalu Beliau bersabda: “Celaka ibumu wahai Mu’adz. Tidaklah manusia itu ditelungkupkan di dalam neraka atas wajah-wajah atau hidung-hidung mereka melainkan hanyalah karena hasil dari lisan-lisan mereka” (HR Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Al Hakim).

Inilah diantara dalil yang menekankan mestinya seorang muslim berhati-hati dengan lisannya, karena bisa menjadi sebab kebinasaanNya di akhirat.

Ucapan Kufur

Diantara ucapan yang membinasakan adalah ucapan yang mengandung kekafiran. Bisa berupa berdoa kepada selain Alloh (meminta perlindungan dan pertolongan kepadanya), atau ucapan-ucapan yang mengolok-olok ajaran islam, menghina Alloh, menghina Rasullulloh. Tentang ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:

Barangsiapa yang mengolok-olok satu ajaran agama yang dibawa oleh Rasul atau menghina pahalanya atau siksanya maka dia telah kafir. Dalilnya firman Alloh Ta’ala: Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS At Taubah: 65-66).

Bergurau sering kali melalaikan, bahkan terkadang tanpa kita sadari demi dianggap lucu kita jadikan ajaran agama menjadi objek lelucon kita. Renungi ayat diatas, sebauah ancaman yang sedemikian keras  Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS At Taubah: 66). Betapa meruginya bila seseorang dihukumi murtad hanya karena lelucon yang diucapkannya. 

Ucapan mengandung Syirik

Diantara ucapan, adapula yang mengandung kesyirikan (khususnya syirkul khafi). Syirkul khafi adalah syirik yang tersembunyi. Saking halusnya, keberadaannya dikiaskan dengan rayapan semut hitam di malam yang gelap gulita. Hingga perkara ini inipun sering tidak disadari dan dianggap remeh.

Termasuk syirkul khafi adalah ucapan mencela waktu. Yaitu seseorang mengatakan bahwa waktulah yang telah menyebabkan nasibnya sial, waktu mendatangkan keburukan, dan lain-lain. Misalnya seseorang mengucapkan: “Sudah saya bilang jangan punya hajat dibulan Suro! Begini kan jadinya, apes!”. Atau ucapan: “Anakmu wetone sloso kliwon tho? Jangan dinikahkan dengan anak yang wetone rebo wage! celaka nanti!” dan lain-lain ucapan semacam itu. Ucapan-ucapan semacam ini termasuk ucapan yang dimurkai Alloh, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah Taala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Termasuk pula ucapan yang mengandung kesyirikan adalah mencela angin atau hujan. Seperti ucapan: ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang.

Ucapan Dosa Besar

Diantara ucapan ada pula yang bernilai dosa besar. Yaitu ucapan yang mendatangkan kerusakan, menzalimi/menyakiti orang lain, juga merusak tatanan/ukhuwah islamiyah. Dinataranya adalah: berdusta, bersaksi atau bersumpah palsu, mencaci-maki, mencela, mengutuk, berkata-kata keji, mengejek, berfatwa tanpa dasar syar’iy, berdakwah kepada kesesatan, melakukan buhtan (memfitnah), meng-ghibah (menggunjing), dan lain-lain.

Sedemikian maraknya dosa lisan ini, bahkan  saat ini dosa lisan banyak juga yang dituangkan dalam bentuk tulisan di buku-buku, majalah-majalah, tabloid-tabloid, surat-surat kabar, tulisan di internet melalui facebook, twitter dan semisalnya. Bahkan terkadang dijumpai bahasa tulisan lebih tajam dan lebih berbahaya dari bahasa lisan, karena berdampak sangat buruk bagi seseorang, suatu komunitas ataupun masyarakat. Tiada yang selamat dari bahaya lisan ini melainkan orang yang diberi rahmat dan keutamaan oleh Allah Ta’ala.

Jagalah Lisan!

Simaklah apa yang di ucapkan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah,

“Amat mengherankan bahwa ada seseorang yang dengan mudah dapat menjaga diri dari makan makanan yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri, minum khomer, memandang sesuatu yang haram dan sebagainya, namun ia sulit untuk menjaga gerakan lisannya. Sehingga engkau dapat melihat seseorang yang dijadikan acuan dalam agama, kezuhudan dan ibadah, ia berucap dengan perkataan-perkataan yang mengundang kemurkaan Allah tanpa ambil peduli. Padahal satu kalimat saja akan dapat menjatuhkannya dengan jarak lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Berapa banyak kamu lihat orang yang mampu menjaga dari perbuatan keji dan kezhaliman, sementara itu lisannya mencela kehormatan orang-orang yang masih hidup dan juga orang-orang yang telah mati, tanpa peduli sedikitpun tentang apa yang ia ucapkan”. (Ad-Da’ wa ad-Dawa’).

Akhirnya mari kita renungi ucapan Imam Abu Hatim Ibnu Hibban:

“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Semoga Alloh Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk mampu menjaga lisan hingga tidak binasa karenanya. Wallohua’lam bishowab.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close