Akhlaq

Mulianya Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Siapapun yang berakal sehat pasti sepakat, bahwa anak mesti berterima kasih kepada orang tuanya. Bagaimana tidak, ibunya mengandungnya selama  sembilan bulan, yang kian hari kian lelah dan bertambah lemah, menjaga kandungannya dari segala mara bahaya. Hingga akhirnya melahirkan dengan sakit yang tak terperikan, berharap sekali itu saja ia merasakan sakit yang demikian.

Kemudian menyusuinya, seakan tidak ada perkara lain yang lebih menjadi perhatiannya saat itu. Begadang di malam hari adalah hal biasa, pipis dan kotoran  bukan lagi hal menjijikan.

Bagi Ibu, suara tangis anak bak sayatan sembilu dihatinya, apapun akan dilakukan asal si buah hati bisa tenteram dalam dekapannya. Bahkan tatkala sang anak sakit, ibu berharap bisa menggantikan sakit anaknya.

Hari-haripun berlalu, dan bagi orang tua anak ibarat raja, yang selalu dituruti kemauannya, dilayani kebutuhannya, dipuaskan keinginannya. Mereka curahkan waktu, tenaga, dana, perhatian, kasih sayang, tanpa jenuh dan tanpa keluh.

Maka Alloh Ta’ala berfirman:

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (QS AL Ahqof: 15).

Juga dalam firmannya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman: 14)

Faktanya…

Meski telah mencurahkan seluruh belas kasihnya, kebanyakan anak merasa tidak puas dengan kasih sayang orang tuanya. Anak merasa orang tuanya bakhil untuk memenuhi kebutuhannya. Ia merasa orang tua sok  mengatur dan membatasi gerak-geriknya. Dengannya anak merasa layak untuk tidak membalas kebaikannya, memandang sebelah mata jasa-jasanya, bahkan ada yang berani berdurhaka kepadanya.

Apalagi disaat orang tua mulai menua dan lemah, anak memandang bahwa orang tua hanyalah beban. Orang tua tak lebih seperti bayi tua yang hanya merepotkan, banyak keinginan tetapi sulit dipuaskan, banyak mengeluh dan sedikit pengertian. Sungguh terbalik dengan perasaan orang tua terhadap anaknya: sakit anak adalah sakit orang tua, rasa sedihnya anak adalah sedihnya orang tua, problem anak adalah problem orang tua, demikian pula bahagia anak adalah bahagia orang tua.

Mulianya Kedudukanmu

Apapun pandangan anak terhadap orang tua, yang pasti secara syar’i kedudukan mereka sedemikian tinggi dan sedemikian mulia. Hingga apapun sifat dan sikap orang tua terhadap anak, kewajiban anak tetep bersyukur dan berbakti. Dan semestinya kebaikan anak terhadap orang tua bukan karena sekedar membalas  kebaikannya, tetapi lebih dari itu sebagai wujud penghambaan diri terhadap Alloh. Diantara perkara yang menunjukan luhurnya kedudukan orang tua.

Pertama, karena Perintah birrul walidain digandeng dengan perintah tauhid; Bukankah tauhid adalah kewajiban terbesar bagi seorang hamba, inti ajaran islam, yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata. Dan dalam banyak ayat di dalam Al Qur’an, perintah untuk berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah untuk bertauhid. Ini menunjukkan bahwa masalah birrul walidain adalah masalah yang sangat urgen, mendekati pentingnya tauhid bagi seorang muslim.

Kedua, birrul walidain lebih utama dari jihad fi sabililah. hal ini sebagaimana disebutkan bahwa tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi berjihad, beliau bersabda:

Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab: “Iya”. Nabi bersabda: “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun para ulama memberi catatan, ini berlaku bagi jihad yang hukumnya fardhu kifayah.

Ketiga, birrul walidain adalah Pintu surga; Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”)

Keempat,  karena Ridha Allah sejalan dengan ridha orang tua. Ridha orang tua mendatangkan ridha Allah Ta’ala selama bukan dalam maksiat kepada Allah. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ridha Allah bersama dengan ridha orang tua, murka Allah bersama dengan murka orang tua” (HR. At Tirmidzi. Dinilai hasan oleh Al Albani).

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14).

Tentang ayat ini Ibnu Abbas berkata:

Barangsiapa bersyukur kepada Alloh tetapi tidak bersyukur kepada orang tuanya maka Alloh tidak akan ridho kepadanya.

Bukankah ini juga menunjukan betapa mulia dan tingginya kedudukan orang tua.

Kelima,  Lalai dari birrul walidain, mendapat laknat Allah.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuat (si anak) masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” (HR. Ahmad. Al A’zhami berkata: ‘Sanad hadits ini jayyid‘)

Inilah diantara perkara yang menunjukan betapa luhurnya dan betapa mulianya kedudukan orang tua dalam timbangan syar’i. Maka bagaimanapun sifat dan sikap orang tua, sesungguhnya mereka memiliki hak untuk tetap ditaati dalam hal ma’ruf, disayangi, dihormati, diperlakukan lembut dan dimuliakan.

Dan kebaikan anak kepadanya semestinya bukan sekedar membalas kebaikan jasa mereka (karena memang tidak mungkin terbalaskan), tetapi lebih dari itu sebagai bentuk ketundukan kepada Alloh Azza wa jalla yang memerintahkan untuk birrul walidain. Wallohua’lam

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close