Akhlaq

Merugi Karena Emosi

Merugi Karena Emosi?… Kenapa jika kita meluapkan emosi kita justru diri kita yang akan merasa paling merugi? Simak penjelasan berikut.

Bergaul dan berinteraksi dengan orang lain adalah suatu kebutuhan, dan memang tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Secara syar’ipun kita diperintahkan untuk berkumpul, bermusyawarah dan bekerja sama, baik dalam hal pelaksanaan ibadah maupun mu’amalah.

Dan faktanya, tiap orang mempunyai watak dan karakter yang berlainan. Ada yang tutur katanya lembut tapi tersinggungan, ada yang tutur katanya kasar tapi gampang memaafkan. Ada yang ‘manut (baca:menurut) tapi ‘ga nyambungan’, ada pula yang cerdas dan kreatif tapi sulit diarahkan. Ada yang bakhil tapi amanah, sebaliknya ada yang dermawan tapi suka menggampangkan. Yang jelas, tiap orang mempunyai sisi kebaikan tetapi tidak lepas pula dari berbagai kekurangan.

Bila tiap orang memiliki karakter yang berlainan, maka semakin banyak berinteraksi dengan orang lain makin besar pula potensi untuk bergesekan. Dan bila tidak mampu memahami perbedaan, bisa jadi yang muncul hanyalah sakit hati, dan juga emosi. Sayangnya, emosi atau marah tidak pernah memberi solusi.

Emosi atau Marah

Marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya. (syaroh riyadush sholihin).

Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang kita merasakan kemarahan dan emosi yang sangat. Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan tidak suka bila keinginannya diselisihi.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah” (HR. Muslim)

 Orang yang bertaqwapun mereka tidak luput dari sifat marah, hanya saja mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsunya, hingga mereka selalu mampu meredam kemarahannya karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Layak bila Allah Ta’ala memuji mereka dengan firman-Nya:

 

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali ‘Imran : 134).

Abdurahman As Sa’dy menjelaskan tentang sifat ini : jika mereka (orang yang bertaqwa) disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka.

Sebab Meluapnya Emosi

            Ibnu Qudamah di dalam Minhajul Qashidin menyebutkan diantara sebab amarah adalah:

  • Adanya sifat ujub, yaitu seseorang merasa bangga dengan amalnya, merasa apa yang dilakukannya sudah banyak/besar, merasa ilmunya telah cukup dan lebih banyak. Sehingga tatkala datang kritikan dan celaan terhadapnya, yang muncul adalah emosi, marah, merasa kebesarannya tidak diakui. Sehingga darahnya mendidih, hatinya bergejolak.
  • Bergurau. Bergurau yang berlebihan seringkali juga melahirkan amarah/emosi, tatkala gurauan yang dilakukan melecehkan sebagiannya, menusuk perasaannya hingga sakit hati.
  • Berdebat & Berseteru. Dalam perdebatan seringkali masing-masing ingin mempertahankan argumennya, enggan disalahkan dan berusaha mencari pembenaran. Sehingga perdebatan sering berujung emosi bahkan permusuhan.Orang merugi karena marah
  • Berkhianat. Termasuk perkara yang melahirkan emosi adalah tatkala seseorang dikhianati kepercayaannya.
  • Ambisi Kedudukan dan Harta. Inipun biang amarah, tatkala ada pihak yang berusaha menghalanginya dan merebut kedudukannya maka yang muncul adalah emosi dan amarah.

Merugi Karena emosi

 

Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR. al-Bukhari)

Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Diantara kerugian emosi, seseorang terkadang tidak mampu mengontrol ucapannya. Sehingga tanpa disadari dia mengucapkan suatu ucapan yang bisa merugikan dunia dan agamanya.

Merugikan dunia, karena seringkali emosi dan marah membuat orang berbicara kasar, mencaci dan memaki, hilang sifat santun dan ifahnya. Maka, seorang pedagang yang gampang emosi bisa berakibat dijauhi nasabah dan konsumennya, pemimpin yang gampang emosi, dibenci karyawan dan anak buahnya. Sahabat yang gampang marah maka akan dijauhi kerabat dan teman dekatnya. Yang jelas semua itu berimbas pada kebahagiaan dunianya.

Adapun kerugian dalam agamanya, bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridlai Allah, suatu kalimat yang tidak dipedulikannya, namun dengannya Allah mengangkat derajatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang tidak di perdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka” (Shahih Bukhari).

Sungguh celaka bila seorang hamba karena emosinya, ucapan yang tidak disadarinya justru merugikan agama dan akhratnya. Na’udzubillah..

Diantara kerugian emosi, seseorang terkadang tidak mampu mengontrol gerak tangannya, langkah kakinya. Sehingga tanpa disadari tangan dan kakinya merusak, meyakiti orang lain. Bila barang yang disurak adalah miliknya, badan yang disakiti adalah keluarga atau saudaranya maka sungguh semua itu hanya melahirkan sesal, kerugian materil maupun moril.

Mulianya menahan marah/emosi

Mampu menahan marah adalah tanda orang bertaqwa. Bila seseorang hendak mengukur sejauh mana kadar ketaqwaanya di sisi Alloh maka dapat melihat dari sejauh mana dia mampu menahan amarahnya. Karena Alloh Ta’ala berfirman, bahwa orang yang bertaqwa itu adalah:

 

Orang-orang yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali ‘Imran : 134).

Mampu menahan marah adalah bukti kekuatan diri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun bersabda:

 

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”. (HR. Bukhari & Muslim)

 Mampu Menahan marah, mendapat jaminan kemuliaan diakhirat. Sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR. Tirmidzi)

Penutup

            Suatu malam Khalifah Umar bin Abdul Aziz masuk masjid. Karena gelap, tanpa sengaja kaki beliau menginjak orang yang tengah tidur di masjid hingga orang tersebut terbangun, memaki-maki, dan berkata: “Apa kamu gila?”. Umar-pun menjawab: ‘Tidak”. Namun para pengawalnya tidak terima dan hendak menghajar orang itu karena kekurang ajarannya kepada amirul mukminin. Maka Umarpun berkata: ‘Tahan, dia hanya bertanya kepadaku, ‘apakah aku gila?” dan akupun sudah menjawab ‘tidak’, bukankah itu sudah cukup?…

Subhannalloh.. inilah sikap santun. Semoga Alloh Ta’ala mengaruniakan kita sifat santun dan kemampuan untuk menahan emosi dan amarah yang diharamkan.. aamin.. (Ujun)

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close