AkhlaqIbrah

Bersabar dari Perbuatan Maksiat

Kemaksiatan memang menggoda dan menggairahkan, karena di dalamnya ada kelezatan dan keindahan, meski ujungnya getir dan penderitaan. Kebanyakan asal nafsu terpuaskan, syahwat kesampaian, melanggar syariatpun di lakukan. Larangan syariat bak tali pengikat yang membelenggu dan mengekang seseorang. Sedangkan manusia cenderung untuk melanggar segala bentuk larangan yang mengekang dam mebatasi dirinya.

Untuk itu diperlukan kesabaran hingga seseorang mampu mengekang hawa nafsunya mengedepankan akalnya sehingga jiwa condong kepada kebaikan dan kebahagiaan yang abadi.

Menahan Diri Dari Maksiat

Bersabar dari kemaksiatan berarti menahan diri dari berbuat maksiat, karena perbuatan maksiat tidak lain adalah sebagai akibat dari godaan hawa nafsu yang selalu minta dipuaskan tanpa mempertimbangkan halal atau haram. Bersabar dari kemaksiatan berarti berupaya untuk meninggalkan serta menjauhi setiap larangan syari’at tanpa mempertimbangkan besar atau kecilnya dosa yang diakibatkannya.

Beratnya kesabaran untuk menjauhi maksiat tergantung dari besarnya dorongan jiwa akan ketertarikan terhadap maksiat tersebut dan juga tergantung ada tidaknya peluang/kesempatan untuk melakukannya. Makin besar dorongan jiwa dan makin luas peluang yang ada, maka makin berat pula kesabaran yang dibutuhkan untuk menjauhi maksiat tersebut.

Maka menjaga lisan dari maksiat adalah perkara berat mengingat besarnya dorongan batin dan besarnya kesempatan untuk melakukannya. Mampu bersabar untuk menjaga pandangan mata, sungguh perkara berat mengingat di jaman ini sedemikian banyak godaan yang melintas. Mampu menjaga diri dari korupsi saat di posisi strategis, tentu butuh kesabaran lebih dibanding yang tidak punya peluang terhadapnya. Sekali lagi makin besar dorongan jiwa dan makin luasnya kesempatan yang ada maka makin berat pula kesabaran untuk menjauhinya.

Belajar Dari Yusuf ‘Alaihisalam

Kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam menjauhi rayuan wanita pembesar kerajaan, sungguh ini adalah tauladan bagi yang ingin bersabar menjauhi maksiat. Beliau digoda wanita yang teramat cantik, dari kalangan bangsawan, statusnya sebagai majikan. Dan wanita itu telah mengkondisikan suasana hingga ‘aman’ dari ketahuan. Sementara Yusuf-pun seorang pemuda sehat yang tentu punya ketertarikan terhadap perempuan. Yang jelas Ini semua menunjukan besarnya dorongan dan peluang untuk melakukannya.

Namun Nabi Yusuf ‘alaihissalam bersabar serta berlari menjauhi ajakan ini. Demi tidak mau memenuhi ajakan wanita pembesar ini, Beliau lebih memilih penjara menjadi tempatnya. Firman Allah :

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf : 33).

Sungguh ujian berat, dan Alloh meneguhkan Beliau hingga mampu bersabar untuk menjauhinya.

Mungkin kondisi hari ini hampir mirip, maraknya tontonan yang mengundang syahwat, banyaknya sarana yang memudahkan maksiat, pandangan masyarakat yang kian permisif terhadap pergaulan bebas, ini semua menunjukan betapa besarnya dorongan jiwa dan kesempatan untuk berbuat maksiat.

Menguatkan kesabaran

Mengingat betapa pentingnya kesabaran dari kemaksiatan, maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk menggapai kesabaran tersebut agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat. Untuk itu kami rangkumkan sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah agar sabar menjauhi maksiat:

Pertama; Hendaknya seorang hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Allah mengharamkan serta melarangnya adalah sebagai bentuk kasih sayang, sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua; Merasa malu kepada Allah. Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya.

Ketiga; Menyadari bahwa maksiat adalah penghilang nikmat. Maka seorang hamba mesti senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.

Keempat; Merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.

Kelima, Mencintai Allah,karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya. Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam; Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya. Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.

Ketujuh; Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri, karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.

Kedelapan; Hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Hingga dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Kesadaran ini akan mendorong dirinya untuk menjauhi apa yang membahayakan dirinya dan menjauhi apa yang sia-sia.

Kesembilan; Menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam tiga perkara tersebut.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas, yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati. Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat, dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah.

Setiap hamba Allah hendaknya belajar dan melatih diri dalam meningkatkan kesabaran dirinya dalam menjalankan segala macam amal ibadah yang diperintahkan, sehingga dengan terbangunnya kesabaran dalam melakukan ketaatan Allah akan melimpahkan lagi karunia-Nya jauh lebih besar lagi. (Wallaahu Ta’ala ‘alam).

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close