Ibrah

Yang Dimudahkan Saat Hisab

Tidak semua manusia akan mengalami kemudahan dalam penghisaban, banyak diantara mereka yang dihisab dengan hisab yang berat. Terlebih pelaku maksiat dan orang-orang kaya, banyaknya kekayaan mereka saja sudah menjadikan lamanya hisab mereka, apalagi ditambah kemaksiatan dan dosa-dosa lainnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman alaihisalam akan menjalani masa hisab selama 500 tahun saking banyaknya kekayaan yang ia miliki. Dan yang jelas manusia akan mengalami kondisi yang berbeda-beda saat hisab.

Su’ul Hisab

Segolongan orang yang enggan memenuhi seruan Alloh akan mengalami hisab yang berat, sebagaimana firmanNya:

“Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Rabbnya, Sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar Ra’du: 18)

Su’ul hisab (hisab yang buruk) adalah didetailkan hisabnya, dibantah hisabnya, atau tidak diterima argumen-argumennya. Beliau bersabda:

“Siapa yang dihisab berarti dia disiksa” Aisyah berkata, maka aku bertanya kepada Nabi: “Bukankah Allah Ta’ala berfirman: “Kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan” Aisyah berkata: Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang dimaksud itu adalah pemaparan (amalan). Akan tetapi barangsiapa yang didebat hisabnya pasti celaka”. (HR. Bukhari)

Hisab Yasir

Segolongan lain adalah orang-orang yang dimudahkan Alloh dalam hisabnya. Hisabnya sekedar pemaparan amal, hingga Alloh memaafkan dan mengampuninya. Alloh Ta’ala berfirman:

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, Maka Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (QS. Al Insyiqoq: 7-8)

Dari Ibunda Aisyah, dia berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasalam pada sebagian shalatnya membaca:

“Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.” Ketika beliau berpaling saya bekata; “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda: “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah” (HR Ahmad).

Betapa bahagianya golongan ini, setelah dipaparkan kesalahan dan dosanya, Alloh kemudian memaafkan dan mengampuni begitu saja perbuatan-perbuatannya.

Bighoiri Hisab

Golongan yang lain adalah golongan yang masuk surga tanpa dihisab, inilah kelompok yang mulia. Kelompok pertama berjumlah 70.000 orang, wajah mereka seperti bulan purnama bergandengan tangan hingga masuk surga semuanya berdasar hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Akankah kita termasuk didalamnya?

Dimana Posisi kita?

Diantara ketiga kondisi manusia saat penghisaban, dimanakah posisi kita? Mari kita renungi riwayat Abu Darda di dalam Musnad Ahmad berikut, semoga bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Abu Darda berkata bahwa ia mendengar Rasulolloh bersabda bahwa Alloh Ta’ala berfirman:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)

Maka beliau bersabda:

Adapun orang-orang yang bersegera didalam kebaikan (sabiqun bilkhoirot) maka mereka adalah orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab, adapun golongan muqtasidun (pertengahan) adalah orang-orang yang akan mendapatkan hisab yasir, dan adapun orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri (dzalimun linafsihi) adalah orang-orang yang akan mendapatkan hisab yang panjang di mahsyar

Sabiqun bil Khoirot?

Menurut Ibunda ‘Aisyah, sabiqun bil khoirot adalah orang-orang yang hidup semasa Rasululloh SAW, dan Beliau telah menjadi saksi baginya bahwa mereka telah diberi karunia & keutamaan”. Jadi menurut ibunda Aisyah kelompok ini khusus para sahabat rodhiallohuanhum.

Adapun menurut Ibnu Katsir, sabiqun bil khoirot, adalah orang-orang yang mengerjakan semua kewajiban-kewajiban dan mengerjakan semua hal-hal yang disunahkan. Mereka meninggalkan semua yang diharamkan, dan juga meninggalkan semua yang dimakruhkan, bahkan orang-orang ini meninggalkan sebagian hal yang dibolehkan, karena takut berlebihan”.

Bila demikian, kitakah sabiqun bil khoirot?

Sungguh kriteria yang berat. Mungkinkah kita di posisi ke dua, muqtasidun? Menurut Ibunda Aisyah RA muqtasidun adalah orang-orang yang mengikuti jejak Beliau SAW dari kalangan sahabat-sahabatnya (sesudah Beliau Wafat)  hingga menyusul Beliau SAW.” Berarti mereka adalah kalangan tabi’in rahimahulloh. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, muqtasidun adalah orang-orang yang menunaikan segala yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan, hanya terkadang meninggalkan sebagian yang disunahkan serta terkadang mengerjakan sebagian yang makruh”

Kita termasuk muqtasidun?

Sungguh kriteria yang tidak mudah pula. Mungkin tepatnya kita adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri (dzalimun linafsih), yang masih banyak meninggalkan yang diwajibkan, yang masih suka menerjang larangan, yang masih terpesona dengan perkara haram, yang bergelimang di dalam perkara yang dimakruhkan, dan banyak menyepelekan perkara yang disunahkan. Kelompok ini harus menerima mendapatkan hisab yang panjang, hingga dengan rahmat dan kemurahanNya Alloh akan memaafkan dan mengampuni dosa dan kesalahannya..

Subhanalloh…bukankah ini semua layak untuk direnungkan? Yakinkah kita termasuk orang yang dimudahkan saat penghisaban? Padahal umur telah banyak kita sia-siakan, banyak kesempatan telah kita lewatkan, harta telah kita habiskan untuk kesenangan, sehat kita gunakan untuk kemungkaran. Ya..banyak nikmat yang tidak disyukuri, bahkan banyak nikmat justru untuk bermaksiyat. Akhirnya hanya doa yang bisa kita panjatkan: “Allohumma hasibni hisaban yasiro” (Ya Alloh hisablah daku dengan hisab yang mudah)…Wallohu musta’an (Ujun)

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close