Ibrah

Dahsyatnya Peristiwa Al Maut

 

Sesungguhnya Alloh telah menjadikan dunia ini sebagai tempat sementara, bukan tempat menetap. Tarikan nafas terakhir kita di dunia pasti akan terjadi. Kematian pasti akan datang membawa kesulitan, kesedihan.

Sungguh peristiwa yang akan dialami oleh mukmin maupun kafir, baik ahli maksiat maupun orang yang taat, orang yang baik maupun yang jahat, laki-laki maupun perempuan.

Dan faktanya kematian adalah peristiwa yang begitu dahsyat. Alloh Subhanahu wa ta’ala telah menggambarkan beratnya menghadapi kematian dalam empat ayat:


  1. Dalam Surat Qof: 19

    وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ

    Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS. Qof : 19)


 


  1. Dalam Surat Al An’am: 93

    وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ

    Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” (QS. Al An’am : 93)


 


  1. Dalam Surat Al Waqi’ah: 83

    فَلَوۡلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلۡحُلۡقُومَ

    Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan (QS. Al Waqi’ah : 83)


 


  1. Dalam Surat Al Qiyamah: 26

    كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِيَ

    Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan (QS. Al Qiyamah : 26)


 

Tentang dahsyatnya kematian, Rasululloh bersabda:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

Laa illaha illalloh, sesungguhnya di dalam kematian ada sekaratnya (HR Bukhari)

Beliau juga menceritakan tentang kondisi orang kafir/dzolim tatkala menghadapi sekaratul maut. Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Ahmad:

Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan berpisah dengan dunia, dan akan menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan turun dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa karung dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Ruhnya justru menyebar di jasadnya..

Maka malaikatul maut mencabut (ruhnya) sebagaimana orang mencabut kain yang tipis yang tersangkut di pohon yang banyak durinya dengan paksa.

Sekaratul Maut

Ya saudaraku… kematian begitu dahsyat. Andai ada seorang yang senantiasa merasakan kesusahan hidup kemudian merasakan kerasnya kematian, cukuplah kematian membuatnya sadar bahwa kesusahan hidupnya belum seberapa.

Umar bin Khotob pernah bertanya kepada Ka’ab bin Malik  tentang kematian, maka Ka’ab berkata:

Bagaimana bila di tenggorokan Anda ada satu pohon besar yang penuh dengan duri, kemudian pohon itu dicabut dengan paksa oleh seorang yang perkasa…? Umarpun menangis.

Amr Bin Al Ash saat menjelang ajal, dia ditanya oleh puteranya tentang kematian, maka dia berkata:

Seakan ranting yang runcing ditusuk dari tapak kakiku hingga tembus ke tengkukku, dan saya berbaring diatas ranjang, tapi sungguh seakan saya bernafas melalui lubang jarum  (Jamiul Ulum : 449)

Ibnu Abbas berkata:

Sakit yang paling keras yang akan dirasakan oleh setiap mukmin adalah kematian. (HR. Ahmad dalamm Syarhus Sudur)

Ali bin Abi Thalib berkata:

Demi Dzat yang jiwaku di TanganNya, sungguh sabetan seribu pedang adalah lebih ringan daripada seorang yang mati di atas tempat tidurnya.

Beliau Saw, juga pernah bersabda:

Sungguh, sekiranya kalian melihat malaikatul maut (ketika mencabut nyawa) itu lebih dahsyat dari 1000 tebasan pedang (HR. Abu Nua’im, Hilyatul Auliya)

Sakitnya Menggoncang Iman

Saat roh lepas dari badan adalah peristiwa yang sangat menyakitkan, saat yang sangat menggentarkan. Memeras keringat, menegangkan urat syaraf. Saat sekujur badan mulai melemah, nafas yang berat, hanya gerakan di tenggorokan. Tidak ada lagi suara lantang, tinggalah dengkuran, tidak mampu lagi menangis apa lagi memohon pertolongan.

Saat itu ia berharap bisa menebus sakitnya hari itu dengan harta yang ia miliki, dengan jabatan yang ia kuasai. Tetapi saat itu tidak lagi bermanfaat semua kekayaan. Tidak berkuasa lagi segala jabatan, tidak lagi berguna segala ketenaran dan kebanggaan.

Maka mampukah kita mempertahankan iman di ujung hidup kita? Disaat seluruh urat syaraf merasakan sakit, badan dalam kondisi yang paling lemah? Sementara setan menganggap bahwa ujung hidup seseorang adalah kesempatan terakhir untuk menyesatkannya. Hingga ia kerahkan bala tentaranya, menampakan berbagai syubhat untuk menggoncang imannya. Wal iyadzubillah

Terbukalah Pintu Akhirat

Saat kematian datang engkau akan merasakan kehidupan dunia yang sedemikian keruh, dunia menjadi hina bagimu. Kebesaran dunia akan menjadi kecil dimatamu. Kesenanganmu berubah menjadi kesedihan. Kebahagiaanmu menjadi kesusahan.

Tahukah wahai saudaraku, apa yang terjadi setelah sekaratul maut? Tidak ada lagi tempat berlindung tidak ada lagi tempat melarikan diri. Engkau tengah melalui jembatan yang dibentangkan antara alam dunia dan alam akhirat, ya… jembatan yang memisahkan alam dunia dan alam akhirat yaitu al maut.

Hari itu adalah saat perpisahan dengan alam dunia. Pintu akhirat terbuka, saatnya memulai perjalanan panjang di alam barzakh, satu fase kehidupan akhirat. Tertutup sudah kesempatan untuk berbekal, tinggal menunggu janji dan ancaman.

Saat itulah engkau akan berharap masih diberi kesempatan. Engkau memohon ditunda datangnya kematian, meskipun hanya sekejapan. Engkau berangan andai permohonan dikabulkan, engkau berjanji akan bershodaqoh, berusaha menjadi orang sholih. Engkau berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, meski hanya sekejap. Sayang permohonan yang sia-sia, penyesalan yang tak berguna. Alloh Ta’ala berfirman:

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. (QS. Al Munafiqun : 11)

Dan, akhir kehidupan ibarat babak final, saat itulah menang atau kalah ditentukan. Beruntung atau celaka bisa dilihat diujung hidupnya. Beliau bersabda:

Sesungguhya amal tergantung pungkasannya. (HR Muslim).

Yaa Alloh teguhkanlah iman kami saat menghadapi sekaratul maut.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close