Ibrah

Pembagian Catatan Amal di Akherat

 

Saudaraku yang dirakhmati Alloh, sadarkah bahwa kita senantiasa diawasi? Alloh Ta’ala berfirman:

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)” .(QS. Al Infithor: 10-11). “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaf: 17).

Bahkan tiap ucapan kitapun tercatat:

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).

Malaikat yang amanah, teliti, tidak kenal lelah, tidak kenal bosan mengawasi dan mencatat perbuatan, dan ucapan kita.

Apakah kita merasa aman dengan aktivitas rahasia kita? Bisikan-bisikan kita? Alloh Ta’ala berfirman:

Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az Zukhruf: 80).

Apakah kita merasa bahwa makar, manipulasi, dan tipudaya yang kita lakukan tidak terarsipkan? Alloh Ta’ala berfirman:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak meridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (An-Nisa: 108)

Kelak Catatan Itu Akan Dibeberkan

Dan…saat catatan dibagikan, saking dahsyatnya hari itu hingga seseorang tidak mampu mengingat siapa-siapa, tidak ingat anaknya, tidak ingat isterinya, tidak ingat orang tua, dan keluarganya. Tentang ini, Ibunda ‘Aisyah pernah bertanya kepada Beliau sholallohu alaihi wasalam:

Apakah engkau akan mengingat keluargamu besok pada hari kiamat?” Maka Beliaupun bersabda: “Adapun di tiga tempat, seseorang tidak akan ingat orang lain, (salah satunya, pen.) saat pembagian kitab catatan amal (seseorang tidak akan ingat siapa-siapa) hingga dia mengetahui dari mana ia menerima kitab catatan amalnya. Apakah dari sebelah kanannya-kah, atau sebelah kirinya-kah, atau dari belakang punggungnya.” (Sunan Abi Dawud)

Saat pembagian catatan amal adalah saat yang sangat menggentarkan, mengguncang jiwa, hingga diantara meraka ada yang berteriak histeris, terkejut dan ketakutan. Alloh Ta’ala berfirman:

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (QS. Al Infithor: 10-11)

Bagaimana tidak mencemaskan, bila kitab catatan amal adalah kitab yang tidak melewatkan semua amal perbuatan, baik yang kecil maupun yang besar. Alloh Ta’ala berfirman:

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfi: 49)

Betapa dahsyatnya kitab catatan amal karena ternyata setiap lembar dari lembaran-lembaran yang ada lebarnya sejauh pandangan mata. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya Alloh aza wajala memanggil seorang diantara ummatku dihadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, kemudian disodorkan kepadanya 99 lembar catatan amal, yang setiap lembarnya seluas pandangan mata…” (HR. Ahmad, dalam Tafsir Ibnu Katsir QS. Al Anbiya: 47).

Mengintip Kitab Catatan Amal

Imam Al Qurthubi memberi nasihat kepada kita di dalam kitab At Tadzkiroh: Orang yang diberi kitabnya di sebelah kanannya tahu bahawa dirinya termasuk penghuni surga. la berkata, “Mari, bacalah kitabku” Itu terjadi ketika Allah mengizinkan. la lalu membaca kitabnya.

Apabila orang itu pemimpin dalam kebaikan, selalu mengajak kepada kebaikan, serta banyak pengikutnya dalam kebaikan, maka namanya dan nama ayahnya akan dipanggil. Ia maju, sehingga ketika telah dekat, diberikan kepadanya buku yang putih.

Di awal buku tersebut tertulis keburukan-keburukan dan di akhirnya kebaikan-kebaikan. la mulai membacanya dengan keburukan-keburukan, sehingga ia takut dan mukanya menjadi pucat lesu. Di bahagian akhir catatan keburukan, ia mendapati “Keburukan-keburukanmu telah Ku-ampuni”, la pun menjadi sangat gembira. Ia kemudian membalik lembaran itu, lalu membaca kebaikan-kebaikannya. la bertambah gembira. Di akhir buku, ia mendapati, “Kebaikan-kebaikanmu ini telah Aku lipatgandakan untuk-mu.” Wajahnya pun berseri-seri, lalu ia diberi dan dipakaikan mahkota di kepadanya.

Apabila orang itu pemimpin dalam kejahatan, yang selalu mengajak kepada kejahatan, serta banyak pengikutnya dalam kejahatan itu, maka setelah dipanggil dan maju menghadap, la diberi buku yang hitam dengan tulisan hitam.

Di bagian depan buku itu tercatat kebaikan, dan di bagian belakangnya keburukan. la mulai dengan membaca kebaikan-kebaikannya dan mengira bahawa dirinya akan selamat. Di akhir catatan kebaikan, ia mendapati, “Kebaikan-kebaikanmu ini telah ditolak.” Wajahnya pun muram. Ia merasa sedih dan putus asa. Ia kemudian membalik lembaran bukunya, lalu membaca keburukan-keburukannya. Ia makin bersedih dan wajahnya makin muram. Di akhir catatan, ia mendapati keburukan-keburukan itu telah dilipatgandakan yakni hukumannya yang dilipatgandakan, bukan bererti ia dihukum melebihi perbuatannya. Ia lalu dijadikan makanan api neraka. Kedua matanya terbelalak, wajahnya muram, dan ia dipakaikan jubah dari ter.

Dan renungkanlah!

Bayangkanlah dirimu, seandainya engkau termasuk orang-orang yang bahagia. Engkau keluar ke hadapan seluruh makhluk dengan wajah berseri-seri. Kesempurnaan, kebaikan, dan keindahan melekat pada dirimu. Kitabmu ada di tangan kananmu. Malaikat memegang kedua tanganmu seraya berseru di muka seluruh makhluk, “Ini si anu bin si anu. Ia benar-benar berbahagia dan tidak akan menderita untuk selamanya.”

Dan seandainya engkau termasuk orang-orang yang sengsara, wajahmu muram. Engkau melangkah melalui para makhluk dengan kitab di tangan kirimu atau di belakang punggungmu. Engkau meratapi dirimu sendiri atas nasib yang amat sial. Malaikat memegang kedua tanganmu seraya berseru di muka seluruh makhluk, “Ketahuilah, sesungguhnya si anu bin si anu benar-benar sengsara dan tidak akan bahagia selamanya.”

Yang manakah posisi kita? Allohumma hasibna hisaban yasiro.

Tags

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close