Tsaqofah

Saat Dosa Tidak Dibalas

Kadang muncul keberanian untuk terus berbuat dosa, saat kita merasa aman dari petaka yang diancamkan. “Saya bermaksiat, toh nikmat tidak lenyap, badan tetap sehat, rejeki tetap lancar, bahkan sanjungan dan pujian pun tidak kemudian sirna. Riba yang kumakan tidak melemahkan badan, zina yang kulakukan tidak menjatuhkan kemuliaan, dan berbagai dosa lainpun seakan tak terbalaskan”, Mungkin ada yang berfikir demikian.
Atau, kadang orang yang selama ini hidup taat, jauh dari maksiat, yang senantiasa menjaga diri dari perkara yang dimurkai, tiba-tiba tergoda untuk berbuat dosa. Saat melihat pelaku maksiat justru hidup penuh nikmat, rejeki lapang, harta melimpah, badanpun sehat dan kuat. Sementara yang hidup hati-hati, malah sengsaranya setengah mati…
Apa Dosa Tidak Dibalas?
Alloh Ta’ala berfirman:

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim (QS Ibrahim: 42).

Artinya, kedzaliman pasti dibalas, dosa pasti melahirkan hukuman. Hanya kadang hukuman Alloh sedemikian halus sehingga kebanyakan orang tidak merasa tengah dihukum dan dibalas karena dosanya.
Kadang bentuk balasan dosa bukanlah petaka dalam urusan dunia, tetapi musibah dalam urusan agamanya. Dan perkara ini sering tidak dirasa sebagai hukuman. Dosa dibalas dengan lemahnya iradah. Dosa dibalas dengan dicabutnya ghiroh dalam hati. Dosa membuat orang lemah kemauannya untuk beribadah, lemah kemauannya untuk mengejar jannah.
Cobalah kita tengok, bukankah kita tahu diantara fadhilah sholat jamaah adalah terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik, sebagaimana sabda Beliau:

Barangsiapa yang sholat karena Alloh selama 40 hari dengan berjamaah, dan mendapati takbir pertama, maka dicatat baginya dua pembebasan. Yaitu bebas dari api neraka dan bebas dari sifat munafik (HR Tirmidzi)

Bukankah ini keutamaan yang besar? ‘Bebas dari api neraka’, adakah nikmat dunia yang sebanding dengannya? Tapi kenapa fadhilah ini seakan berlalu begitu saja?
Hingga berapa banyak hari berlalu tanpa kita mampu hadir ke masjid untuk sholat jama’ah. Padahal badan kita sehat, kesempatan ada, tidak ada udzur dan rintangan yang menghadang? Tidak lain ini karena dosa, hingga Alloh halangi kita dari keutamaan yang mestinya bisa kita dapatkan.
Atau,..
Bukankah kita tahu keutamaan sholat sunnah rawatib, sebagaimana sabda Beliau:

Seorang muslim yang sholat sunnah setiap hari sebanyak 12 rakaat dan bukan yang wajib demi mencari ridha Alloh, maka Alloh akan membangun rumah untuknya di jannah (HR. Muslim, Abu Daud & An Nasai)

Bukankah ini balasan yang luar biasa? Rumah di surga, tentu jauh lebih istimewa dari semua istana yang ada di dunia. Tapi kenapa kita lebih suka mengejar KPR tipe 36, dan tidak tertarik dengan rumah di surga? Hingga seakan tidak layak kita menyisihkan 12 X 3 menit untuk menunaikannya.
Sekali lagi, ini semua karena dosa. Hingga Alloh butakan hati kita, sampai tidak tahu mana yang lebih maslahat dan mana yang lebih utama. Astaghfirulloh…
Dan, …
Bukankah kita tahu keutamaan membaca Al Qur’an, bukankah setiap hurufnya akan dibalas dengan 10 khasanah? Bukankah kita tahu keutamaan ibadah puasa, yang dengannya bisa menjadi penghalang dari api neraka? Dan berbagai amal-amal lain dengan sedemikian besar pula fadhilahnya. Tapi kenapa seakan hati tidak tertarik, badan tidak tergerak. Berapa banyak siang dan malam berlalu tanpa mampu membaca al qur’an, tanpa qiyamul lail, tanpa puasa sunah?
Ini semua karena dosa. Hingga Alloh menghukum kita, tidak mampu melakukan berbagai kebaikan yang mestinya bisa kita lakukan. Layak bila Fudhail bin Iyadh pernah berkata :

Terhalangnya seseorang dari sholat di malam hari dan dari puasa di siang hari adalah karena dosa

Tetap Mampu Berbuat Baik
“Saya makan riba, dan suka mendekati zina tapi tetap mampu qiyamulail, selalu shoum sunnah, senantiasa infaq dan shodaqoh, bahkan bisa pergi haji dan berkali-kali umrah. Katanya dosa melemahkan iradah untuk berbuat baik, dan melemahkan ibadah?”
Saudaraku,… Beliau Nabi Sholallohu alaihi wa sallam bersabda:

Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.(HR.Tirmidzi)

Itulah Ar Raan yang difirmankan Allah,

Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka (QS. Al-Muthaffifin: 4).

Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa apa yang dimaksud dengan ar raan adalah dosa diatas dosa hingga membutakan hatinya hingga hatinya mati.
Ini adalah perkara halus yang tidak kasat mata. Terkadang dosa tidak dibalas dengan perkara dhahir, tetapi dihukum dengan perkara bathin (berupa kerasnya hati). Seorang hamba mungkin tetap mampu menunaikan beragam ibadah meski bergelimang dosa. Namun Alloh halangi dari merasakan lezatnya ibadah. Alloh halangi pengaruh baik dari ibadahnya.
Dia mampu qiyamulail tiap malam, tetapi Alloh cabut merasakan manisnya tahajud. Dia biasa shoum Sunnah tetapi hanya melemahkan badan dan tidak melembutkan hatinya. Dia mampu Haji dan umroh, tetapi semakin membuat ‘ujub dengan amalnya, sombong dan bangga dengan ibadahnya. Dan puncak keterpedayaannya adalah seorang hamba merasa telah aman dari adzabNya dengan seabrek ibadah yang telah dilakukannya.

Istidroj
Dan jangan dibingungkan, bila kadang dosa justru menjadi sebab diraihnya berbagai nikmat dunia, dibukanya berbagai pintu-pintu kesenangan. Tentang ini Beliau bersabda:

Jika kalian melihat Alloh memberikan nikmat dunia kepada orang yang kerjaanya berbuat maksiyat, maka ketahuilah itu hanya istidraj (HR Ahmad)

Istidraj yaitu seorang hamba tengah ditarik berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak disangka-sangka. Naudzubillah.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close