Tsaqofah

Mulia Karena Perbuatan Dosa?

Kemuliaan hanyalah milik Alloh, diberikan kepada yang mentaatiNya, yang menjadi penolong dan pembelaNya. Sebaliknya dosa berarti meremehkanNya, maka balasannya juga kehinaan dan kerendahan.

Dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi Saw. bersabda,

Kehinaan dan kerendahan diperuntukkan bagi mereka yang melawan perintahku. Setiap kali seorang hamba itu melakukan maksiat maka ia merosot derajatnya hingga ia termasuk golongan yang terendah. Setiap kali seorang hamba melakukan ketaatan maka derajatnya naik hingga masuk dalam golongan orang-orang yang luhur

Mulia Karena Dosa, Mungkinkah?

Mulia karena dosa, maksudnya seseorang bisa meraih kemuliaan yang lebih tinggi dibanding sebelum berbuat dosa, atau bahkan lebih mulia di banding orang yang tidak berbuat dosa sebagaimana dirinya.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah orang yang berbuat dosa hingga jatuh martabatnya di sisi Alloh bisa kembali kepada derajat semula? Atau tetap hina, karena jatah umurnya telah di sia-siakan dan dihiasi denga catatan hitam dosa, sehingga tidak mungkin meraih derajat kemuliaan? Atau orang yang telah berdosa justru bisa melejit, dan lebih tinggi derajatnya setelah bertaubat, bahkan bisa mengungguli orang-orang yang belum pernah berbuat dosa seperti dirinya?

Sebagian ulama berpendapat,

Taubat hanya menghapus dosa dan dampak buruk dari dosa, tidak menjadikannya lebih mulia.

Sebagian lagi berkata:

Bahkan taubat mengembalikan pada kedudukannya yang semula

Ibnu Taimiyah mengisahkan perbedaan ini, dan dia berkata,

Yang benar, di antara orang-orang yang bertaubat ada yang tidak bisa kembali ke derajatnya semula, ada pula yang bisa kembali ke derajatnya semula, dan ada pula yang justru kembali ke derajat yang lebih tinggi lagi, sehingga dia menjadi lebih baik daripada keadaannya sebelum melakukan dosa. Seperti halnya Nabi Daud yang menjadi lebih baik dari keadaan beliau sebelum melakukan kesalahan, setelah bertaubat. Tentu saja hal ini kembali ke keadaan orang yang bertaubat setelah dia menyatakan taubat, kesungguhan, tekad dan kewaspadaannya. Jika taubatnya lebih sungguh-sungguh dan keadaannya lebih baik, maka dia menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya dan derajatnya lebih tinggi. Jika keadaannya sama dengan sebelumnya, berarti derajatnya juga sama

Ini yang kami maksud terkadang dosa membuat seseorang lebih mulia di sisi Alloh. Dia merasakan betapa buruknya dampak dosa, keterasingan, kehampaan diri, jauh dari Alloh, kekalutan, kegundahan. Dampak dosa telah melahirkan penyesalan, hingga ia dirundung rasa takut, merasa hina dihadapan Alloh, merasa ada jarak dan jauh dari Alloh. Hingga ia lari sejauh-jauhnya dari berbagai dosa yang lain dan memunculkan daya dorong dalam jiwanya untuk lebih baik.

Faktanya tidak sedikit orang yang mendapat rejeki demikian, “dosa telah memuliakannya”. Kekhawatirannya akan dosa membuatnya bangun di saat orang sedang pada tidur, bersimpuh mengakui penyesalannya, berlinang air matanya, sujud menghinakan diri dihadapanNya. Di siang hari dia membentengi diri dengan puasa, agar terjaga syahwatnya, terjaga lisannya, terjaga kaki dan tangannya, terjaga mata dan telingannya hingga mampu memupus dorongan hawa nafsunya. Hingga semua potensinya ia salurkan untuk berbagai amal kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar, berjuang dijalanNya. Bukankah ini kesempurnaan pengabdian seorang hamba, merasa hina dan butuh terhadap Rabnya?

Sebaliknya tidak sedikit orang yang mampu melakukan amal-amal besar, terhindar dari berbagai dosa yang menghinakan. Tapi amalnya melahirkan ‘ujub (bangga diri), merasa aman dari adzabNya, merasa lebih mulia dari yang lainnya, seakan tidak butuh terhadap rahmat dan ampunanNya. Maka ini bukanlah kemuliaan di sisi Alloh Ta’ala.

Sosok Tauladan

Sosok tauladan orang yang mulia ‘karena’ (baca: setelah sebelumnya) bergelimang dengan dosa diantaranya adalah Malik bin Dinnar (Ulama Tabi’in murid Al Hasan Al Bashri). Ia berkata:

Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku

Sosok selanjutnya adalah Ikrimah bin Abu jahal, putra dari dedengkot musyrikin Mekah. Sebelum masuk islam seakan seluruh potensi yang dimilikinya adalah untuk melawan dan memusuhi Baginda Nabi. Memusuhi dan menghalang-halangi Islam.

Mari dengarkan ucapannya sesaat setelah keislamannya, ia berkata:

Ya Rasulullah, aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir

Renungkanlah kisah diatas di atas! Bukankah betapa banyak orang yang hari ini tidak pernah melakukan berbagai bentuk kemaksiatan di lurus-lurus saja. Tetapi juga di saat yang sama tidak punya semangat untuk mempelajari dinul islam lebih mendalam, dia puas dan merasa cukup dengan berbagai kebaikan dan ibadah yang telah dilakukannya.

Renungkanlah kisah diatas di atas! Bukankah betapa banyak orang yang hari ini tidak pernah memusuhi Nabi tidak pernah menghalang-halangi islam tetapi juga tidak punya berkomitmen untuk memperjuangkan dinul islam dan tidak pula siap berkoraban di jalanNya. Sementara, tidak sedikit orang yang dahulunya preman, setelah taubatnya justru siap memberikan potensi terbaiknya untuk dinul islam, siap membela dengan harta dan nyawanya.

Intinya adalah, setelah bertaubat, seorang hamba bisa jadi lebih baik dari sebelum ia berbuat dosa, bahkan derajatnya bisa naik lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Tetapi jangan keliru menyimpulkan bahwa untuk menjadi lebih baik, seseorang harus berbuat dosa lebih dulu. Karena terkadang dosa dapat melemahkan tekad, menurunkan niat, dan membuat hatinya keras dan sakit. Alih-alih menjadi lebih mulia setelah bertaubat bahkan pertaubatannya tidak sanggup untuk mengembalikan kondisinya kepada derajat sebelumnya. Na’udzubillahi min dzalik

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close