Tsaqofah

Kenali Seluk Beluk Dosa

Diantara sebab seseorang bergelimang di dalam kubangan dosa adalah karena si pelaku tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah dosa. Karena kejahilannya, diapun tenang dan tentram dalam balutan dosa-dosanya.

Kebanyakan orang mengartikan dosa adalah setiap perbuatan yang merugikan orang lain. Bisa karena menyakiti badannya, menjatuhkan kehormatannya, atau menilep hartanya. Sebaliknya, bila suatu perbuatan nihil dari merugikan orang lain, maka ia-pun yakin perbuatannya halal, boleh, dan tidak berdosa. Padahal, tidak sedikit perbuatan yang tidak merugikan atau bahkan menyenangkan orang lain ternyata syari’at memasukannya dalam perbuatan dosa.

Contoh, siapa yang tidak senang melihat perempuan berpakaian setengah telanjang, melenggak-lenggokkan badan, dengan suara nyanyian yang menggoda. Kebanyakan pasti merasa terhibur, menggembirakan, dan nyaris tidak ada yang merasa dirugikan. Tetapi Beliau pernah bersabda:

Ada dua kategori penghuni neraka yang belum pernah kulihat:… (salah satunya) wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang bergoyang dan membuat orang lain bergoyang, kepala mereka seperti punuk onta yang miring, mereka tidak akan masuk jannah bahkan tidak mencium baunya surga..”(HR. Muslim).

Artinya, kriteria suatu perbuatan termasuk dosa atau tidak, ukurannya bukan hanya dari sisi merugikan orang lain atau tidak. Tetapi bagaimana pandangan syariat terhadapnya, membolehkan atau melarang, memuji atau mencela perbuatan-perbuatan tersebut. Dan ini semua butuh ilmu untuk mengetahuinya hingga seseorang akan menghindarinya.

Asal Muasal Dosa

Ibnu Qoyyim (Dalam Jawabul Khafi) menyebutkan bahwa asal muasal dosa ada dua macam, meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan. Kedua dosa ini adalah dosa yang diujikan kepada bapak manusia dan jin (Adam dan Iblis).

Adam diuji untuk menjauhi satu pohon yang ada di Jannah tetapi menerjangnya, sedang Iblis diperintah untuk sujud kepada Adam namun Iblis enggan dan sombong untuk menunaikannya. Itulah asal muasal dosa, yang kemudian sifat dan jenisnya menjadi beragam sesuai dengan banyaknya perintah yang harus dilakukan dan larangan yang mesti dijauhi.

Karakter Dosa

Lebih jauh, untuk mengetahui karakter dosa, berikut kami kutipkan uraian Ibnu Qayyim tentang pembagian dosa berdasarkan motif dan karakternya:

Pertama; Dosa mulkiyah (bersifat ketuhanan), Yaitu merasa memiliki sifat-sifat ketuhanan, keperkasaan, keluhuran, aniaya dan memperhamba makhluk. Ini adalah dosanya Namrudz, tatkala ia berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” (QS Al Baqoroh: 258). Juga dosanya Fir’aun, saat dia berani  berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS An Nazi’at: 24).

Termasuk jenis dosa ini adalah menyekutukan Alloh Ta’ala (Syirik), membenarkan ada makhluk yang memiliki sifat-sifat yang menjadi kekhususan bagi Alloh, kemudian tunduk dan menghambakan diri kepadanya, beribadah kepadanya, dan ta’at kepadanya. Dan ini termasuk jenis dosa yang paling besar. Yang bisa menghapus pahala amal, yang menyebabkan kekal di neraka, hingga diharamkan baginya surga.

Kedua; Dosa Syaitoniyah, adalah perbuatan-perbuatan yang menyerupai perbuatan syetan seperti hasad (sebagaimana dengkinya iblis terhadap Adam), durhaka (enggan ta’at), curang, menipu, khianat, makar, menyuruh untuk durhaka terhadap Alloh, menghalangi orang yang berbuat taat, mengajak kepada kesesatan (bid’ah) dan menghiasi berbagi keburukan hingga seakan kebaikan. Ini semua dosa syaithoniyah yang tingkat kerusakannya berada di peringkat kedua setelah dosa syirik.

Ketiga; Dosa Siba’iyah. Yaitu perilaku seperti binatang buas. Permusuhan, amarah, dendam, kekejaman dan kesewenangan dalam berbagai wujudnya. Para pembunuh, preman dan psikopat adalah contoh penampakan manusianya, muncul dari kekerasan hati dan watak, kesombongan serta minimnya rasa belas kasihan membuat pemiliknya menjadi serigala-serigala buas yang mengerikan.

Keempat; Dosa Bahmiyah, yaitu perbuatan yang bersifat kebinatangan. Yang dominan dari sifat binatang adalah memperturutkan syahwat perut dan kemaluan. Dari dosa ini muncullah zina, mencuri, makan harta anak yatim, riba, korupsi, jual-beli yang haram, atau dengan cara haram, dan mengambil harta orang dengan curang. Nafsu dibawah perut adalah teman setia yang akan muncul bersamaan atau setelah nafsu perut terpuaskan.

Klasifikasi lain

Kemudian dosa dapat diklasifikasikan menurut tempat kemunculannya, maka ada dosa dhahir dan dosa bathin. Dosa bathin adalah dosa yang kemunculannya di dalam hati, contohnya: ‘ujub (bangga diri), riya (suka pamer), hasad (dengki), putus asa dari rahmat Alloh, dan lain-lain. Adapun dosa dhohir adalah dosa yang nampak dari perbuatan badan seperti: enggan berhaji padahal mampu, enggan puasa ramadhan tanpa udzur, mencuri, membunuh, curang, menggunjing dan lain-lain.

Terkadang dosa dibagi menurut ketergantungannya, yaitu dosa yang terkait dengan hak Alloh dan dosa yang terkait dengan hak sesama manusia.  Dosa yang terkait dengan hak Alloh seperti: syirik (mensekutukanNya), enggan menunaikan sholat, enggan berpuasa ramadhan, putus asa dari rahmatNya, ragu dengan takdirNya, dan lain-lain. Adapun dosa yang terkait dengan hak manusia seperti menipu, curang, menggunjing, menyakiti badan seseorang dan lain-lain. Keduanya butuh dikenali, karena terkait dengan syarat diterimanya tobat. Dosa yang terkait dengan sesama manusia butuh minta maaf atau dihalalkan hingga Alloh berkenan memberikan ampunanNya.

Klasifikasi yang selanjutnya adalah membedakan dosa berdasarkan besarnya kerusakan yang ditimbulkan, dan besarnya ancaman terhadapnya. Maka ada dosa besar dan dosa kecil. Tentu pembagian inipun bukan bermaksud untuk menyepelekan salah satunya, tetapi syariat membedakan yang demikian. Sebagaimana firmanNya:

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS An Nisa : 31)

Kenali & Jauhi

Inilah seluk beluk dosa. Belum menggambarkan seluruh dosa secara rinci, tetapi setidaknya menyadarkan bahwa dosa bukan sekedar perbuatan yang merugikan orang lain, tetapi terkait dengan sejauh mana seorang hamba tunduk ta’at dengan perintahnya dan sejauh mana siap meninggalkan apa yang di larangNya. Maka mengenali berbagai macam dosa secara rinci adalah perkara wajib hingga kemudian mampu menghindari berbagai perbuatan dosa tersebut. Wallohu musta’an.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close