Tsaqofah

Petaka Akibat Perbuatan Dosa

Mengenali suatu perbuatan termasuk dosa, ternyata belum cukup membuat seseorang menjauhi perbuatan dosa tersebut. Tampaknya tabiat jiwa memang suka bermalas-malas untuk menjalankan perintah, jiwa sering kalah dengan bayangan akan nikmat dan lezatnya menerjang larangan. Ujungnya, tergelincir dan terjatuh lagi dalam kubangan dosa, meski sudah faham bila perbuatannya adalah dosa.

Butuh terapi lanjutan setelah seseorang mengilmui tentang berbagai varian dosa. Diantaranya yaitu dengan mengenali dampak buruk yang akan didapat bila ia melakukan perbuatan dosa. Menyadari bahwa dosa adalah pembawa berbagai petaka, musibah, dan keburukan, baik terhadap pribadi si pelaku maupun orang banyak, baik petaka di dunia juga  petaka di akhirat.

Kebanyakan orang lebih takut dengan kesusahan yang segera dan nyata, dibanding keburukan agama atau akhiratnya. Untuk itu tidak ada salahnya kita coba uraikan diantara keburukan dunia yang akan didapat ketika seseorang berbuat dosa.

Dosa Menghalangi Rejeki

Urusan rejeki tampaknya perkara yang paling menjadi fokus perhatian kebanyakan orang. Orang rela berbuat apa saja untuk mendapatkannya. Gundah saat kehilangan, resah bila ada saingan. Hingga iapun rela mencurahkan waktu, tenaga, dan semua potensinya untuk menjaganya.

Sering orang tidak menyadari bahwa dosa berpengaruh terhadap sempit-lapangnya rejeki. Logikanya, dosa adalah kebalikan taqwa. Taqwa dijanjikan dengan jalan keluar dari kesempitan dan rejeki dari arah yang tidak terduga, sebagaimana firmanNya:

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar  Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS At Tholaq: 2-3).

Maka tatkala seseorang keluar dari wilayah taqwa, berarti dia memilih sempitnya hidup dan tertahannya rejeki.

Nabi sholalohu ‘alaihi wasalam bersabda:

Jauhilah oleh kalian perbuatan maksiat, sesungguhnya seorang hamba jika dia melakukan satu perbuatan dosa, maka akan ditahan rejeki yang sebenarnya telah disediakan baginya (HR. Ibnu Abi Hatim)

Dosa Menjatuhkan Martabat

Pada hakikatnya kemuliaan adalah milik Alloh semuanya, sebagaimana firmanNya:

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. (QS Fathir: 10).

Dan kemuliaan Alloh berikan kepada wali-walinya, yang sepakat dengan syari’atnya, yang tunduk taat pada hukum-hukumnya, yaitu orang-orang yang bertakwa. Maka Alloh ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (QS Al Hujurat: 13)

Sebaliknya, siapa yang  berbuat dosa pada hakikatnya di meremehkan Rabbnya, menghinakan Alloh. Maka Allohpun membalas dengan menghinakannya. Dan, siapa yang dihinakan oleh Alloh tidak ada yang akan memuliakannya sebagaimana firmanNya:

Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS Al Hajj: 18)

Tengoklah, berapa banyak orang yang mulia menjadi hina karena dosa yang dilakukannya. Berapa banyak pejabat yang kehilangan martabat, karena maksiat yang digemarinya. Berapa banyak orang yang disanjung-dipuja berbalik menjadi dicaci-dicela juga karena dosa yang diperbuatnya. Ya, karena dosa melahirkan kehinaan, menjatuhkan bartabat, menjadi cela bagi pelakunya.

Bila ada ahli maksiat tetap mulia, tetap dipuja, tetap disanjung dan dihormati, kemungkinan besar terjadi karena salah satu dari dua perkara. Pertama, karena manusia takut dengan kedzalimanNya sehingga tetap menghormatinya. Kedua, karena orang yang menghormati dan menyanjung tidak lebih sekedar menjilat ingin mendapat bagian dunianya. Hakikatnya nurani manusia menghinakan ahli maksiat tersebut.

Dosa Melamahkan Badan

Dosa-maksiat melamahkan hati? Tampaknya semua orang sepakat. Tetapi bila dosa melemahkan badan, mungkinkah? Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam Jawabul kahfi:

Sumber kekuatan seorang mukmin adalah di hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat pula badannya. Maka para pendosa meski badannya kuat, sesungguhnya mereka makhluk yang paling lemah ketika ia menghajatkan sesuatu. Tengoklah orang-orang Persia dan Romawi, kekuatan fisiknya mengkhianatinya disaat diperlukan. Maka pasukan kaum musliminpun bisa menaklukannya dengan kekuatan fisik dan hati mereka.

Hasan Al Bashri ketika membaca ayat:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu. (QS Asy Syura: 30).

Maka beliau mengkaitkan dengan sabda Beliau sholallohu alaihi wa salam:

Demi jiwaku yang berada ditanganNya, tidak ada satu kulitpun yang lecet, atau urat terkilir, atau kaki kesandung kecuali karena dosa, dan Alloh memaafkan sebagian besarnya. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Ini semua semakin menguatkan bahwa dosa melamahkan badan, bahkan membuat badan sakit, atau celaka. Na’udzubillah

Dosa Menghilangkan Nikmat

Intinya, dosa menghilangkan nikmat dan mendatangkan siksa. Tidaklah suatu nikmat hilang dari seorang manusia, melainkan karena dosa yang dilakukannya. Tidaklah suatu bencana/siksa menimpa seseorang juga karena dosa yang dilakukannya. Maka Ali bin Abi Tholib berkata:

Tidaklah suatu bencana turun melainkan karena dosa, dan tidaklah suatu bencana diangkat, kecuali karena taubat.

Alloh Ta’ala berfirman:

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al Anfal: 53).

Di dalam hadist qudsi Beliau bersabda bahwa Alloh Ta’ala berfirman:

Demi KekuasaanKu dan KebesaranKu, tidaklah salah seorang dari hambaKu berada dalam keadaan yang Aku sukai, kemudian ia beralih kepada keadaan yang tidak Aku sukai, melainkan Aku  akan mengganti apa-apa yang disukainya dengan apa-apa yang tidak disukainya. Dan, tidaklah salah seorang dari hambaKu berada dalam keadaan yang tidak Aku sukai, kemudian ia beralih kepada keadaan yang Aku sukai, melainkan Aku  akan mengganti apa-apa yang tidak disukainya dengan apa-apa yang disukainya. (Hadist Qudsi, Jawabul Kafi)

Ya, intinya dosa mencabut nikmat.  Lapang berubah menjadi sempit, kecukupan beralih menjadi kekurangan, sehat berganti jadi sakit, mulia menjadi hina, bahagia berganti menjadi derita, dan berbagai petaka lainnya. Ya Alloh ampunilah kesalahan dan dosa kami.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close