Ibrah

Perbanyak Mengingat Pemutus Kenikmatan

Kehadirannya tidak diharapkan, bahkan ditakuti. Hingga seakan semua orang berlari menghindarinya. Tetapi kemanapun orang berlari, ia pasti akan menyusulnya. Dialah Al Maut kepastian yang tak terelakan.

قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu (QS Al Jumuah: 8)

Kehadirannya tidak diharapkan, bahkan ditakuti. Hingga seakan semua orang berusaha bersembunyi darinya. Tetapi dimanapun orang bersembunyi, ia pasti akan menjumpainya. Dialah Al Maut kepastian yang tak terhindarkan.

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS An Nisa: 78)

Penghancur Nikmat

Kematian, kehadirannya menghancurkan nikmat. Saat ia hadir, harta berlimpah yang dibanggakan ternyata tidak lagi membahagiakan. Saat ajal menjemput berapapun harta yang kita kumpulkan ternyata tidak mampu menolak kematian, bahkan sekedar menundapun tidak. Hari itu harta yang kita simpan dan kumpulkan bak seonggok sampah yang sebentar lagi dibagi dan diperebutkan. Belajarlah dari Qorun (orang terkaya di jaman Nabi Musa) ternyata Qorun tidak mampu menolak kematian.

Kematian adalah penghancur nikmat. Saat ia hadir, jabatan dan kekuasaan yang dimiliki ternyata tidak mampu menolongnya. Kematian tidak memihak mana pejabat, mana rakyat jelata. Siapapun akan diperlakukan sama, belajarlah dari Fir’aun yang sempat berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi’ (saking kuatnya hegemoni fir’aun). Ternyata iapun binasa, kekuasaannya sirna…dan tidak mampu menolongnya.

Yang jelas, kematian adalah penghancur nikmat. Saat ia datang kebagusan dan kecantikan wajah tidak bernilai lagi. Anak-anaknya yang cerdas dan mapan tidak mampu menghalangi. Segala kemegahan dan kemewahan harus ditanggalkan. Segala kebanggaan dan kesombongan luruh, sirna dihantam kenyataan.

Kehadirannya menggoncangkan jiwa, melahirkan kepedihan, memeras air mata. Canda, tawa, bahagia, terhenti dan berganti dengan perih, sedih dan duka. Maka, akankah kedatangannya tidak kita sambut dengan persiapan?

Jangan Terpedaya Kemudaan

Saat melihat kakek dan nenek tua semangat beribadah, (rajin sholat jamaah, tahajud di malam hari, senin-kamis berpuasa) kitapun mbathin: “Ya memper…kan wis cepak pacule” (Ya patut..kan sudah dekat ajalnya). Seakan ajal adalah milik orang yang berusia lanjut saja.

Padahal coba tengok kanan-kiri kita! Apakah engkau tidak melihat ada balita mungil yang kehilangan nyawa? Apa engkau lupa Si Fulanah yang sehari sebelumnya masih riang ceria dengan keremajaanya, ternyata keesokan harinya dikabarkan meninggal dunia? Apa tidak ingat Si Fulan yang pagi berangkat kerja, ternyata siang pulang tinggal nama? Ya ternyata kematian tidak kenal usia.

Apakah kita akan terpedaya dengan kemudaan kita, sehingga tidak bersiap membekali diri? Apakah kita masih menganggap bahwa muda adalah saat untuk mencari bekal hidup, sementara untuk mencari bekal mati adalah nanti di usia senja? Memangnya sudah ada jaminan bahwa usia kita akan berlanjut hingga usia tua?

Maka betapa keblinger-nya orang yang terpedaya dengan kemudaannya. Dan, lebih keblinger lagi orang yang sudah merangkak senja, ternyata jiwanya masih dilalaikan dengan target dunia. Masih berjiwa muda dan ingin terus memuaskan berbagai syahwatnya. Jengan terpedaya dengan usiamu yang muda!

Jangan Terpedaya Sehat

Saat mendengar ada saudara yang didera penyakit komplikasi, dan tiba-tiba ia menjadi pribadi yang sholih, mungkin kita mbathin: “Ya pantes… kan meh dirubung siwur” (sudah dekat saat dimandikan).

Maksudnya kita menyimpulkan bahwa orang sakit ‘cepak patine’, sementara orang sehat pasti masih panjang umurnya. Maka wajar orang yang dekat ajalnya semestinya segera bertaubat dari dosa dan beramal sholih. Sementara yang sehat berarti masih jauh ajalnya. Sehingga ditolerir bila masih bergelimang dengan dosa dan maksiyat, karena yakin masih banyak kesempatan di waktu yang akan datang untuk bertaubat dan beramal sholih.

Logika ini sungguh menggelikan. Apa kita belum pernah dengar kisah seorang wanita sehat yang bertahun-tahun merawat suaminya (yang terkena penyakit kronis) justru ia meninggal lebih dahulu dari pada suaminya. Ada seorang pemuda yang menunggui ibunya yang koma di rumah sakit, justru ajal lebih dahulu menjemputnya. Dan banyak kisah lain, yang intinya: ajal tidak terkait dengan badan sehat atau badan sakit.

Maka bila hari ini tensi kita normal, gula darah bagus, kolestrol normal, jantung, paru-paru, ginjal bekerja dengan baik, jangan mengira kematian tidak mungkin hadir. Hingga kitapun lalai dan terpedaya. Ingat! Beliau bersabda: 

Dua nikmat, kebanyakan manusia terpedaya dengannya: nikmat sehat dan waktu luang (kesempatan) (HR. Bukhari)

Ingat Mati

Kematian sering dilupakan hingga orang sibuk mencari bekal hidup, tetapi lupa mencari bekal mati. Kebanyakan orang begitu kuat dan pantang menyerah untuk dunia, tetapi begitu lemah dan malas untuk akhirat. Begitu murah mengeluarkan harta untuk kesenangan dunia tetapi begitu bakhil menafkahkan hartanya untuk kebahagiaan akhirat. Begitu lapang waktunya untuk kepentingan dunia, tetapi sedemikian sempit bagian waktunya untuk akhirat. Ingat! Kematian pasti datang, saat itu segala prestasi dunia akan sirna dan ditinggalkan.

Merasa ‘ter’ dalam segala urusan (terpandai, terbaik, terkuat, tersholih, terkaya) seringkali justru mengeraskan hati. Darinya muncul sifat ‘ujub (bangga diri), angkuh, dan sombong (menolak kebenaran dan meremehkan manusia lain). Maka ingat! Kematian pasti akan datang. Saat itu kepandaian, kekuatan, kekayaan, tidak akan mampu menghentikan kedatangannya. Lalu apa yang akan kita sombongkan?

Ya… jangan lupakan kematian, karena ia adalah pengendali, hingga jiwa tidak rakus dengan dunia. Ingat mati adalah pengendali hingga seorang hamba senantiasa muhasabah dan memperbaiki diri. Mengingat kematian adalah pengendali, hingga hamba tidak menyia-nyiakan umurnya. Mengingat kamatian akan melembutkan hati, melahirkan tawadhu, menghancurkan ujub dan kesombongan.

Maka Beliau bersabda:

Perbanyaklah mengingat sang pencabut kenikmatan, yakni kematian (HR Ibnu Majah)

Karena dengan mengingatnya banyak faidah yang bisa diwujudkan. Wallohua’lam

Tags

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close