Ibrah

Memahami Hakekat Kehidupan di Dunia

Pergantian tahun mengingatkan kita bahwasanya dunia beserta gemerlap keindahannya perlahan meinggalkan kita, sebaliknya akhirat beserta janji dan ancamannya perlahan mendekati kita. Ya… saat ini kita berada dalam sebuah penantian menuju perjalanan panjang yang meletihkan dan melelahkan. Sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian, negeri yang akan memisahkan orang-orang fajir dengan orang-orang sholih, negeri saat seseorang memetik segala apa yang telah ditanam di kehidupan dunianya. Negeri dimana penyesaan sudah tidak lagi memberi manfaat baginya. Negeri yang di saat itu orang merasa bahwa mereka hanya tinggal sekejap saja di dunia, negeri yang menyadarkan manusia betapa hinanya nilai dunia.

Perjalanan di negeri kebadian dimulai saat bumi diganti dengan bumi yang baru, langit diganti dengan langit yang baru, sebagaimana firmanNya:

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.(QS Ibrahim: 48)

Ini hari yang berat, karena manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang tanpa berpakaian, sebagaimana sabdanya:

Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum dikhitan” Ibunda Aisyah pun bertanya: “Ya Rasululloh, laki-laki dan perempuan dikumpulkan bersama dalam keadaan demikian? Apa tidak saling melihat?” Maka Beliau bersabda: “Ya Aisyah, urusan dihari itu sedemikian dahsyat hingga setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing” (HR. Muslim)

Ya, hari itu hari yang sedemikian dahsyat, karena matahari didekatkan diatas kepala makhluk:

Matahari didekatkan diatas kepala makhluk besok pada hari kiamat, hingga berjarak satu mil diatas kepala mereka. Sehingga manusia tenggelam oleh keringatnya sekadar amalan mereka di dunia. Diantara mereka ada yang tergenang sampai tumitnya, ada yang sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya dan ada yang sampai mulutnya” (HR. Muslim)

Hari itu adalah hari yang begitu dahsyat, karena saat itu manusia dikumpulkan di padang yang tanahnya berwaaran putih, tanah yang datar tidak ada gundukan dan cekungan, tidak ada naungan kecuali naunganNya, tidak ada makanan, tidak ada minuman. Dari hari itu (“Hari Penghisaban”) adalah hari yang panjangnya setara dengan 50.000 tahun dunia. Alloh Ta’ala berfirman:

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS AL Maarij: 4)

Apa Yang Kita Sombongkan?

Saat sampai di sana, apa yang kan kita sombongkan? Harta yang banyak? Kekuasaan yang besar dan jabatan yang tinggi? Cobalah renungkan ayat ini!

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku” (Al Haqqoh: 25-19)

Rintihan yang menyedihkan, penyesalan yang tak terbayarkan. Harta dan kekuasaannya tidak dapat menolongnya. Hartanya tidak mampu untuk menebus dirinya dari segala derita, kekuasaan dan jabatannya tidak lagi diperhitungkan dan diacuhkan.

Lalu, akankah hari ini kita disibukan hanya untuk mencarinya, hingga lupa dengan kemaslahatan akhirat kita. Sungguh celaka, mengejar yang fana meninggalkan yang abadi…

Hari itu, siapa yang hendak kita mintai pertolongan?

Mungkin saat ini kita merasa tenang karena memiliki kerabat yang banyak, dari kalangan pejabat dan konglomerat, yang setiap saat bisa kita mintai pertolongan dan bantuan, hingga tidak ada perkara yang perlu dikhawatirkan. Tapi saat sampai di ‘Hari Penghisaban’ putus sudah ikatan nasab, jangankan menolong, bertegursapa-pun tidak:

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.(QS Al mu’minun: 101).

Mengharap orang tua, suami, atau anak anak akan menolong dan membantu? Cobalah renungkan ayat ini!

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (QS. Abasa: 34-37)

Atau berharap teman dan sahabat akan menolong? Coba renungkanlah ayat ini!

Dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka saling memandang. orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya” (QS. Al Ma’arij: 10-11).

Betapa dahsyatnya hari itu, hingga orang kafir ingin menjadikan anak-anak mereka sendiri untuk menjadi tebusan agar terbebas dari siksaNya.

Lalu apa nilai dunia?

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al Hadid: 20)

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS Ali Imron: 14)

 

“Sekiranya nilai dunia ini di sisi Alloh sebanding dengan satu sayap nyamuk, tentulah Alloh tidak akan memberi kenikmatan dunia kepada seorang kafirpun, meski hanya seteguk air minum” (HR Tirmidzi)

Inilah hakikat kehidupan dunia, bukan berarti haram mendapatkannya, tapi waspadalah jangan sampai terpedaya dengan keindahannya, jangan dilalaikan dengan gemerlapnya, apalagi berani berbuat apa saja untuk menggapainya. Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close