Akhlaq

Mushab bin Umair Mulia Karena Lisan

Kemuliaan Bagi yang Dapat Menjaga Lisannya

Mushab bin Umair dialah seorang pemuda yang di masa jahiliyah dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita, seorang pemuda ganteng yang dikenal sangat perlente. Bila ia menghadiri sebuah perkumpulan ia segera menjadi magnet pemikat semua orang, terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya, keluwesan gaya bicaranya, supel pergaulannya sungguh mempesona. 

Hingga akhirnya keputusannya untuk masuk islam, membuat dia terusir dari keluarganya, meninggalkan segala gemerlap kemewahan dan memilih hidup bersahaja.

Tapi, dialah duta pertama umat islam. Dakwahnyalah yang mengantarkan pintu-pintu rumah kota Madinah terbuka untuk islam. Kepiawaiannya berbicara mempesona Usaid bin Hudlair (kepala kabilah Abdul Asyal) hingga masuk islam.  Kelembutan tutur katanya mendorong Saad bin Muadz untuk bersyahadat. Kemampuan diplomasinya membuat Saad bin Ubadah-pun terbuka hatinya untuk menerima islam. Hingga setelah tiga tokoh Madinah ini berserah diri dan bersyahadat, maka seluruh penduduk Madinahpun siap menerima islam berkat dakwahnya. Allohuakbar...itulah Mushab bin Umair, Alloh menjadikan islam mulia dengan lisannya..

Nilai Lisan

Kisah diatas adalah sekelumit diantara nilai dan peran lisan bagi dinul islam dan bagi pribadi seseorang. Yang jelas lisan bisa menjadi sebab kemuliaan, bisa pula menjadi sebab kehinaan. Dalam aspek pribadi, jati diri seseorang bisa diukur dan dinilai dari apa yang keluar dari lisannya.

Betapa banyak orang yang rupawan, parasnya cantik, wajahnya tampan, nampak rendah dan  hina saat lisannya berbicara. Sebaliknya terkadang ada orang yang berpenampilan sederhana, paras seadanya tetapi justru nampak wibawa dan mulia setelah kita mendengar tutur katanya. Itulah lisan, ucapan yang keluar dari lisan adalah cermin kepribadian dan watak seseorang.

Lisan Untuk Berdakwah

Lisan yang mulia adalah lisan yang digunakan untuk berdakwah di jalanNya, menyeru kepada tauhid,  menyeru kepada ketaatan dan amal sholih. Lisan yang mulia adalah lisan yang digunakan untuk amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan-kebaikan dan mencegah kemungkaran. Alloh Ta’ala menyanjung orang yang menggunakan lisannya untuk hal demikian dengan firmanNYa:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushilat: 33)

Sebaliknya lisan yang membawa kehinaan adalah lisan yang digunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Alloh, menyeru kepada kebathilan, menghiasi kemungkaran hingga nampak seperti kebaikan. Tentang golongan ini Alloh Ta’ala berfirman:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat” (QS Hud: 18-19).

Masyaa alloh, saudaraku renungkalah! Dimana posisi lisan kita selama ini, mejadi penolong agama Allohkah? Atau justru yang menjadi penghalangnya.

Lisan Yang Santun

Menghiasi lisan dengan tutur kata yang santun, penuh kelembutan pun bagian dari tanda lisan yang membawa kemuliaan. Lisan yang  jauh dari kata-kata kasar dan tinggi diri, lisan yang tidak mudah merendahkan dan menyakiti orang lain. Hingga dengan hiasan inilah, lisan yang sudah diarahkan pada kebaikan akan melahirkan insyaf dan penerimaan. Sebagaimana sabda Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya tidaklah kelemah lembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR Muslim).

Maksudnya betapa banyak ucapan yang benar (Kalimatul Haq)  tidak menembus kedalam sanubari, ternyata bukan karena orang tidak siap menerima kebenaran itu sendiri tetapi  karena tidak menerima cara mereka di dalam menyampaikan kebenaran tersebut. Jauhnya  orang yang berbicara dari sifat lembut dan santun ternyata sangat mempengarui diterima atau tidaknya dakwah yang disampaikan.

Sebaliknya betapa banyak ajakan pada kemungkaran dan kesesatan sedemikian memukau dan menghanyutkan hingga banyak orang yang simpatik dan menerima  ternyata karena pinternya pembicara menghiasi ucapannya dengan ungkapan bijak dan kelembutan.  Layak bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR Muslim)

Tutur kata yang kasar, penuh kesombongan membuat seseorang tidak layak untuk diikuti, sebagaimana firmanNya:

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,  yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya”.

Subhanalloh, seorang muslim mestinya merenungi hal diatas. Bahwa menghiasi diri dengan kelembutan, santun adalah bagian dari baiknya tujuan ucapan yang disampaikan. Hingga mulia perkara yang hendak disampaikan, mulia pula cara menyampaikannya.

Lisan Yang Jauh Dari Laghwun

Termasuk tanda lisan yang membawa kemuliaan adalah lisan yang jauh dari perbuatan sia-sia (laghwun). Hingga setiap tutur katanya mendatangkan kebaikan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Dan ini adalah ukuran bagusnya kualitas agama seseorang. Maka Rasulullah sholallo ‘alaihi wassalam bersabda : 

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari & Muslim)

Tentang ini Imam Syafi’i menjelaskan:

“Apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara.”

Dan tanda lisan yang mulia adalah lisan yang dijaga, hingga tidak ada orang lain yang tersakiti dengannya. Beliau bersabda:  

“Muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang oleh Allah”. (HR Bukhari, dll).

Juga diriwayatkan bahwa  Abu Musa al-Asy’ari radliyallahu anhu berkata, mereka bertanya,

“Wahai Rosulullah, Islam apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”. (HR al-Bukhori).

Yakni tidak menzholimi kaum muslimin dengan lisannya, apakah berupa ghibah, namimah, cacian atau yang serupa dengan itu.

Saudaraku…, inilah lisan yang membawa kemuliaan, yang diarahkan untuk menyeru kepada kebaikan, dihiasi dengan kelembutan, jauh dari kesia-sian apalagi menyakitkan. Belajar dari sahabat  Mushab bin Umair yang telah membuktikan kemuliaan lisannya maka kita berharap Alloh Ta’ala menjadikan lisan-lisan kita istiqomah dalam kebenaran dan kebaikan hingga menjadi sebab mulia di dunia dan di akhirat. Amin..wallohua’lam .

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close