Akhlaq

Makna dan Hakekat dari Kesabaran

‘Sabar’. kalimat yang sering kita ucap dan dengar. Saat ada yang terpancing emosi, kitapun menasehatinya dengan ‘sabar’. Saat ada yang dimusuhi dan dibenci, kitapun menasehatinya dengan ‘sabar’. Saat ada yang sedih, pelipur laranya adalah ‘sabar’. Saat ada yang sakit, pengurang nyerinya adalah ‘sabar’. Saat ada yang diuji dengan sempitnya rejeki kalimat inipun menjadi  senjata penenangnya. Ya, layak jika Ibnu Qoyim mengatakan ‘sabar’ bak kuda berlari kencang yang tidak pernah jatuh, pedang tajam yang tidak pernah tumpul, tentara yang senantiasa menang dan tidak pernah kalah, dan benteng kokoh yang tidak pernah hancur dan tertembus.

Sayangnya meski kalimat ini sering dinasihatkan, faktanya kadang emosi seakan tak terbendung, sedih berkepanjangan karena ujian dan cobaan, putus asa saat banyak halangan menghadang. Ada yang gantung diri karena hutang, ada yang minum racun karena kehilangan harapan, ada yang berlaku syirik atau murtad karena di dera kemiskinan. Lalu dimana nasihat ‘sabar’ itu bersemayam?

Beratnya Sabar

Tampaknya sabar memang bukan perkara mudah, hanya orang-orang yang yakin dengan kehidupan akhiratlah yang memiliki modal untuk bisa sabar. Alloh Ta’ala berfirman:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al Baqoroh: 45-46)

Sabar didapat dengan pertolonganNya, tanpanya seseorang tidak mampu bersabar, maka Alloh Ta’ala berfirman:

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah” (An Nahl: 127).

Maka memohon kepadaNya agar diberi kesabaran termasuk perkara yang bisa menguatkan sifat sabar. Dan siapa yang berusaha bersabar, maka Alloh akan melimpahkan kesabaran kepadanya.

Intinya sabar adalah karuniaNya. Bila seorang hamba diberi kesabaran maka sungguh dia talah mendapat perbendaharaan kebaikan dari Alloh Ta’ala. Umar bin Abdul Aziz  pernah berkata:

Tidaklah Alloh memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, lalu dicabutNya kenikmatan tersebut, kemudian Alloh ganti dengan memberinya kesabaran, melainkan apa yang Alloh ganti itu lebih baik dari apa yang telah dicabutNya

Makna Sabar

Mengetahui makna dan hakikat sabar juga sarana untuk bisa sabar. Dengan memahaminya  seorang hamba bisa mengarahkan gerak hatinya, menuju pada sifat sabar. Asal kata sabar adalah Al Man’u (mencegah) dan al Habsu (menahan). Jadi, yang disebut sabar adalah menahan jiwa dari gelisah, menahan lisan dari mengeluh, menahan anggota badan dari menampar pipi, merobek-robek baju dan sebagainya.

Hakikat sabar ialah salah satu akhlaq yang menghalangi munculnya tindakan yang tidak baik dan tidak layak. Sabar merupakan salah satu kekuatan jiwa, yang dengannya segala urusan jiwa menjadi baik dan tuntas, demikian menurut Ibnu Qoyim.

Al Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar, maka ia berkata:

“Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa bermuram rupa”

Dzun Nuun Al- Mishry  berkata,

”Sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan agama, bersikap tenang ketika menghadapi ujian yang berat; menampakkan kecukupan di kala kefakiran datang ke tengah medan kehidupan.”

Ibnu’Utsaimin rahimahullah berkata :

“Sabar adalah menahan jiwa agar senantiasa taat kepada Alloh, dan menahannya dari berbuat maksiat, dan menahan jiwa dari rasa tidak ridha terhadap takdir-Nya, sehingga seseorang bisa menahan jiwanya dari menampakkan rasa jengkel, jemu, dan bosan.”

Beliau juga mengatakan, Sabar ada tiga bagian :

  1. Sabar di atas ketaatan kepada Alloh.
  2. Sabar dari apa-apa yang diharamkan oleh Alloh.
  3. Sabar di atas takdir-takdir Alloh (Berbagai musibah, maupun melalui permusuhan dan gangguan manusia)

Ibnu Qoyim mengatakan:

“Jiwa memiliki dua kekuatan: quwatul iqdam (kekuatan untuk mendorong) dan Quwatul ihjam (kekuatan untuk mencegah). Maka hakikat sabar adalah menjadikan quwatul iqdam mendorong kepada sesuatu yang dapat memberikan manfaat baginya dan menjadikan quwatul ihjam untuk mencegah/menahan apa-apa yang mendatangkan madhorot baginya.

Diantara manusia ada yang kuat bersabar melakukan apa-apa yang bermanfaat tetapi lemah dalam hal mencegah diri dari mudhorot. Maka dia bersabar atas beratnya melakukan berbagai amal ketaatan tetapi tidak bersabar melawan hawa nafsu untuk melanggar apa-apa yang dilarang. Dia mampu berdiri lama untuk qiyamulail, mampu berpuasa sunah disaat padatnya aktifitas, tetapi tidak mampu menjaga pandangan matanya, tidak mampu menahan lisannya, mudah tergoda dengan dosa riba.

Adapula yang sedemikian tegar untuk menjauhi yang dilarang tetapi sedemikian berat mendorong jiwa untuk melakukan berbagai ketaatan yang diperintahkan. Dia ringan menahan diri dari minum khamer, dia mudah menjaga diri dari zina, dia ringan menjauhkan diri dari riba, tetapi sulit baginya melangkah menuju masjid untuk sholat berjamaah, sedemikian berat untuk bangun malam, dan seakan tidak mampu untuk menahan diri dari beratnya shoum sunnah.

Maka orang yang paling utama adalah orang yang paling sabar dengan keduanya. Mampu melakukan berbagai amal ketaatan dan kuat menahan diri dari apa yang dilarang meski ujian dan cobaan bertubi-tubi menghadang.

Derivasi Sabar

Sabar sedemikian mulia, kalimat yang merangkum berbagai sifat yang baik. Dari quwatul iqdam dan quwatul ihjam, maka sabar bisa berubah menjadi berbagai sifat (akhlaq) yang baik.

Sifat pemberani lahir dari dorongan jiwa untuk melawan kedzaliman, pantang menyerah memperjuangkan kebenaran dan menahan diri dari rasa takut dan pengecut. Sifat dermawan lahir dari kesabaran jiwa untuk melawan kebakhilan diri dan mendorong jiwa untuk memberi. Sifat jujur muncul dari kesabaran untuk menahan lisan berbicara dusta mendorong lisan untuk selalu bicara benar. Sifat adil muncul dari quwatul iqdam untuk menyampaikan hak kepada pemiliknya dan quwatul ihjam untuk mencegah diri berbuat aniaya.

Maka sabar adalah nama yang merangkum berbagi akhlaq yang baik. Layak jika diantara ulama ada yang mengatakan:

“Sabar adalah ketegaran yang mendorong akal dan agama dalam menghadapi dorongan nafsu dan syahwat”.

Semoga Alloh ta’ala limpahkan kesabaran kepada kita, Rabbana afrigh ‘alaina shobron, wa tsabit aqdamana wannshurna ‘alal qaumil kaafirin…”

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close