Akhlaq

Ghibah Dosa Besar yang Merajalela

Diantara dosa lisan yang paling merajalela dan penyakit paling kronis menjangkiti kaum muslimin dalah dosa menggunjing. Kebanyakan mengetahui dosanya, tetapi sedemikian sulit meninggalkannya. Bahkan cenderung  terasa nikmat saat melakukannya. Dosa ini terasa ringan di mulut, lezat untuk diucapkan, dan nikmat untuk didengarkan.

Betapa banyak persahabatan terputus karena diakibatkan ghibah? Betapa banyak kedengkian yang tumbuh dan berkobar di dada  dikarenakan ghibah? Betapa banyak permusuhan terjadi diantara kaum muslimin juga dikarenakan ghibah?

Dan renungkanlah! Betapa banyak pahala amalan seseorang menjadi gugur dan  sia-sia diakibatkan ghibah? Serta betapa banyak orang yang kelak akan menyesal karena ghibah yang dilakukannya?

Namun perkaranya memang sedemikian rumit, sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi:

“Ketahuilah bahwasanya ghibah merupakan perkara yang terburuk dan terjelek serta perkara yang paling tersebar di kalangan manusia, sampai-sampai tidaklah ada yang selamat dari ghibah kecuali hanya sedikit orang”.

Betapa banyak orang yang mampu istiqomah dalam qiyamul lail, senantiasa berpuasa senin dan kamis, banyak berinfaq dan bershodaqoh, tetapi sedemikian sulitnya untuk meninggalkan dosa yang satu ini. Tidak cuma kalangan awam yang minim ilmu yang melakukannya, bahkan kalangan ustad dan ulama-pun tidak jarang menghiasi majelis-majelis mereka dan pembicaraan mereka dengan dosa yang satu ini. Allohuakbar.

Buruknya Ghibah

Allah Ta’ala benar-benar telah mencela penyakit ghibah dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan menjijikan.  Allah ta’ala berfirman :

”Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. (Al Hujurat 12).

Allah ta’ala telah menyamakan menggunjing dengan memakan bangkai daging saudaranya sendiri. Hal ini adalah perkara yang sangat menjijikan bagi jiwa yang sehat. Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan, apalagi  memakan daging manusia bahkan saudara sendiri.

 ‘Amru bin Al-‘Ash radliyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata :

”Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”.

Definisi ghibah

Banyak diantara orang tidak memahami betul hakikat ghibah, hingga ia pun merasa aman (merasa tidak berdosa) asal apa yang diceritakan adalah suatu fakta atau kenyataan. Dia mengira bahwa yang dosa adalah kalau seseorang menuduh orang lain yang tidak ada padanya. Maka kita butuh mengetahui hakikat ghibah, dan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : lalu bagaimana bila itu semua adalah fakta ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang faktanya demikian berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.

Dengan kata lain yang disebut ghibah adalah sesorang menyebut suatu fakta yang ada pada orang lain, yang seandainya dia tahu maka orang tersebut membencinya. Entah tentang kekurangan pada badannya, kekurangan nasabnya, kekurangan akhlaq perbuatannya, agamanya, atau masalah dunianya. Termasuk juga menyebut-nyebut tentang anaknya, saudaranya, atau istrinya. Dan engkau menyebutkan aibnya tersebut dihadapan manusia dalam keadaan dia ghoib (tidak hadir).

Diantara Motif & Model Ghibah

Terkadang setan menghiasi ghibah hingga si pelaku merasa tengah berbuat baik atau setidaknya tidak merasa bersalah. Untuk itu mengetahui motif dan model ghibah tampaknya perkara penting hingga kita waspada dengannya.

Diantara pengghibah ada yang melakukannya dalam rangka sekedar beramah-ramah dengan teman ngobrolnya. Dia ikut nimbrung orang-orang yang tengah menggunjing dan ia tidak mencegahnya karena khawatir dijauhi temannya, dianggap sok suci, dan khawatir dianggap tidak supel dalam pergaulan. Hingga iapun terjatuh dalam dosa ini bahkan lama kelamaan ikut menikmatinya.

Ada pula yang bergibah ria dengan berlagak mengambil pelajaran dari keburukan orang lain. Ia berkata: “Sebenarnya saya tidak suka membicarakan aib orang lain, hanya saya berharap ini bisa menjadi ibroh bagi kita semua”. Atau ia berkata, “Jauhkanlah kami dari (pembicaraan) tentangnya, semoga Allah mengampuni kita dan dia”. Padahal didalam hatinya, tidak  ada maksud kecuali untuk merendahkan dan menjatuhkan seseorang. Mereka membungkus ghibah dengan label-lebel kebaikan dan label-lebel agama.

Diantara mereka ada yang mengghibah dan menjatuhkan orang lain dalam rangka untuk mengangkat dirinya sendiri. Ia berkata, “Disela-sela tahajudku, aku senantiasa memohon semoga Alloh memperbaiki akhlaqnya, dan menjauhkan kita dari perangainya”. Dia berlagak baik dengan doanya untuk saudaraya yang berakhlaq buruk, padahal tidak ada niat dari ucapannya kecuali ingin mengangkat dirinya dan menunjukan kebaikan ibadahnya kepada orang yang diajak bicara.

Ada pula yang berghibah karena hasad (dengki), maka orang ini telah menggabungkan dua perkara buruk, ghibah dan hasad. Yaitu jika ada seseorang yang dipuji dihadapanya dia berpura-pura untuk berlaku bijak dan berkata: “Iya, dia memang banyak hafalannya, tapi masih banyak keliru panjang pendeknya” Atau orang berkata: “Dia memang pinter ceramah, tapi sayang hafalannya buruk”. Ucapan ini keluar karena kedengkiannya, tidak rela Si Fulan  disanjung dihadapannya dan ia ingin cepat-cepat menangkis pujian itu dengan membeberkan kekurangan-kekurangannya. Subhanalloh.

Ada pula yang mewujudkan ghibah dalam bentuk ejekan dan menjadikannya bahan mainan agar membuat orang lain tertawa. Dia bercerita sambil meniru-niru gaya orang yang digunjing tersebut, dengan maskud merendahkan dan menjelekannya.

Dan ada pula yang meng-ghibah dengan pura-pura ta’jub (heran). Diantara ustadz berkata tentang ustadz lain: “Sungguh mengherankan, bagaimana bisa si Fulan sebagai ustadz bisa berbuat begitu! Atau seseorang berkata: “Aku heran dengan si fulan, bagaimana ia sampai tidak mampu melakukan ini dan itu…”. Dia menampakkan aib saudaranya (yang ia ghibahi tersebut) dalam bentuk sikap keheranannya.

Dan diantara bentuk ghibah ada yang mewujudkan dalam bentuk rasa sedih. Ia berkata, “Kasihan saudara kita ini ya, sebagai ustadz dia ngga mampu mendidik anaknya sendiri.”  Maka orang lain yang mendengar perkataannya itu mengira bahwa ia betul-betul peduli dengan si fulan yang digunjing, padahal yang dia maksud tengah menampakan kekurangannya  dan merendahkannya. 

Ada pula yang menampakkan ghibah dalam bentuk marah dan mengingkari kemungkaran. Dia menampakkan kata-kata yang indah untuk menggunjing  saudaranya dengan cara seakan tengah mengingkari kemungkaran, padahal maksud sesungguhnya hendak menampakan keburukan dan aib saudaranya.

Inilah diantara modus dan model ghibah, sedemikian samarnya. Layak bila banyak yang tenggelam didalamnya bahkan terasa nikmat dalam kubangannya.

Besarnya Dosa ghibah

Menyadari sedemikian besarnya dosa ghibah tampaknya bisa menjadi salah satu shock therapy untuk mau dan mampu mengendalikan lisan. Dan diantara dalil yang menunjukan betapa besarnya dosa ghibah adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Cukup bagimu dari Sofiyah yang begini dan begitu”. Sebagian rowi berkata : “’Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya”  (HR Abu dawud)

Ini adalah dalil paling keras yang menunjukan besarnya dosa ghibah. Dimana Beliau menyebutkan bahwa ucapan ghibah yang dikeluarkan seandainya dicampur dengan air samudera niscaya akan menjadikan samudera keruh dengannya.

Sekali lagi, semoga Alloh Ta’ala melimpahkan taufiq dan hidayahnya hingga kita mampu menjauhi dahsyatnya dosa ghibah ini. Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close