Khazanah

Jangan Khawatir Rezeki Sudah Dijamin

Bicara mengais rejeki memang menarik. Untuk mendapatkannya, orang  berani bersakit-sakit, jerih payah, dan banting tulang. Seakan tak takut lelah, siap mengerahkan semua tenaganya. Seakan tak ingin kehilangan kesempatan, siap mencurahkan seluruh ide dan gagasannya. Seakan tak ingin ketinggalan, siap meluangkan seluruh waktunya. Beda dengan mencari pahala, kayaknya orang sedemikian qona’ah alias ‘nrimo ing pandum’. Dapat… ya diambil. Tidak dapat… ya tidak kemudian mencari… ironis.

Padahal soal rejeki sudah dijamin. Maksudnya asal nafas masih di badan, berarti masih ada jatah rejeki yang belum terambil. Tidak sebagaimana ‘pahala’, meski  nafas masih di badan, tidak ada jaminan bahwa waktu-waktu yang ada akan menghasilkan pahala.

Manusia & Rejeki

Terkait urusan rejeki, tampaknya manusia berbeda-beda dalam memandang dan mensikapinya. Ada yang seperti Qorun, ia menganggap bahwa rejeki yang didapat adalah semata-mata dari hasil jerih payahnya, dari kepinterannya, dan karena ilmunya. Qarun berkata:

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al Qoshos: 78).

Qorun Sama sekali tidak menyadari bahwa rejeki yang didapat adalah karunia dan pemberian Alloh Ta’ala. Maka Alloh menimpakan bencana kepadanya, membenamkan harta bendanya ke dalam bumi. Hamba yang bertipe Qorun tatkala sukses, yang muncul adalah sifat sombong. Sebaliknya tatkala mengalami kegagalan, yang muncul adalah keputusasaan.

Segolongan manusia yang lain berprinsip ‘apa saja dilakukan demi mengais rejeki’. Tidak peduli halal, tidak peduli haram. Tidak peduli kewajiban ditinggalkan, tidak peduli pula bila mesti menerjang larangan. Asal dapat rejeki, mereka rela menggadaikan harga diri. Asal bisa dapat rejeki, mereka tidak takut mendzalimi. Ujungnya nikmat rejeki yang didapatkan tidak melahirkan keberkahan. Makin banyak rejeki, makin merasa kurang. Bak minum air lautan, makin banyak minum makin dahaga dan kehausan.

Segolongan lain yakin, rejeki adalah karunia ‘Tuhan’, tetapi belum menyadari bahwa semua sudah ditakdirkan. Hingga banyak diantaranya yang berpagi hari dengan wajah tegang,  penuh kepanikan, wajah yang memancarkan rona kekhawatiran. Khawatir kalah dalam persaingan, khawatir ditinggalkan para pelanggan, khawatir jatah rejekinya diserobot orang. Ya, penghidupan hari ini memang sarat persaingan dan pergulatan, hingga menuntut kita untuk lebih berjibaku dalam mencari penghidupan, dan ini semua melahirkan kegundahan.

Rejeki Sudah Dijamin

Diantara perkara yang dapat melahirkan ketentraman adalah tatkala seorang hamba menyadari bahwa Alloh telah menjamin rejekinya. Sebagimana FirmanNya:

Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

Tentang ayat diatas Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, seluruh yang berjalan di muka bumi ini, baik dari kalangan manusia (keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam), maupun binatang, baik binatang darat maupun laut, maka Allah Ta’ala telah menjamin rezeki dan makanan mereka. Jadi, rezeki mereka dijamin oleh Allah”.

Adakah yang dikhawatirkan bila ‘Sang Pemilik dan Pemberi rejeki’ telah menyatakan jaminannya. Beliau juga bersabda:

Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang sebagaimana ajal mendatangi seseorang” (HR. Thabrani).

Subhanalloh, bukankah ini perkara yang menentramkan? Sebagaimana manusia tidak dapat lari dari kematian, maka seperti itu pula rejeki yang telah ditetapkan, ‘dia’ akan sampai dengan cara apapun juga.

Rezeki yang telah ditulis untuk kita pasti akan sampai ke kita. Tidaklah mungkin satu suap makanan yang sudah menjadi jatah kita akan masuk ke mulut orang lain. Seseorang tidaklah akan mati jika masih ada satu butir nasi saja yang menjadi jatahnya yang belum ia makan.

Bahkan rezeki kita telah ditulis sebelum kita terlahir di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Seandainya seluruh manusia bersepakat untuk menghalangi rezeki yang yang telah Allah tetapkan untuk seorang hamba, maka pastilah mereka akan gagal. Sebaliknya, seandainya seluruh manusia bersepakat untuk memberi seorang hamba sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuknya, maka pastilah mereka tidak akan mampu melakukannya.

 “Ya Allah, tidak ada satupun yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak pula ada satupun yang mampu memberi sesuatu yang Engkau cegah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya).

Haruskah Bekerja?

Menyadari bahwa rejeki sudah dijamin, bukan berarti kita berpangku tangan, pasrah dan tidak berusaha. Ingat, seseorang  tidak akan mendapatkan hujan emas dan perak dari langit.

Manusia-manusia mulia disisi Alloh mereka bekerja dan berusaha untuk mendapatkan rejeki. Bukankah Nabi Nuh bekerja dan dan menjadi tukang kayu? Nabi Daud membuat baju besi? Bukankah Musa bekerja dan menggembala kambing milik Nabi Syu’aib?  Beliau Rasululloh SAW-pun menggembala kambing? Yang jelas manusia-manusia pilihan disisi Alloh-pun bekerja dan berusaha.

 Bila kita menyadari Alloh-lah Sang Pemilik & Pemberi Rizki, maka ketahulilah bahwa Alloh memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha untuk mendapatkannya. Alloh Ta’ala berfirman:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jum’uah: 10).  

Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan janganlah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan :’Seandainya aku  berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah : ‘Qoddarullahu wa maa sya’a fa’ala” (HR. Muslim)

Kerja Yang Halal

Dan meski lapangan usaha dan pekerjaan sedemikian luasnya, bukan berarti seorang muslim berbuat semaunya. Islam mengaturnya agar seorang muslim tidak mencari rejeki kecuali melalui jalan yang halal. Jalan yang tidak bertentangan dengan syari’at, jalan yang tidak menzalimi pihak lain.

 “Mungkin taqdir saya memang jadi pencuri?” Yang lain berkata: “Taqdir saya memang bergelut di dunia riba” Yang lain lagi berkata: “Mungkin memang taqdir saya jadi koruptor.” dan berbagai pekerjaan kotor lain. Yang jelas terkadang orang menjadikan taqdir sebagai alasan untuk terus bergelut  dengan usaha haram. Tetapi ketahuilah, Dzat Yang Memiliki Perbendaharaan Rizki, Dzat Yang Membagi-bagikan Rejeki tidak ridho dengan segala yang diharamkanNya. Dan ketahuilah: “Mencari yang haram tidak akan menambah kecuali rejeki yang telah ditetapkanNya”.

Ketika seorang hamba menyadari hal demikian, maka seorang hamba akan terus berusaha mencari rejeki dengan jalan yang diridhoiNya, puas dengan ketetapanNya, bersyukur dengan karuniaNya.

Akhirnya, bila rejeki telah dijamin, telah diukur kadarnya bagi masing-masing orang, dilapangkan dan disempitkan atas dasar hikmah dan keadilanNya maka sesungguhnya mencari rejeki adalah persoalan mudah. Tidak seyogyanya seorang hamba dirundung khawatir dan gelisah dengan mata pencahariannya, karena kewajiban hamba hanyalah ikhtiar, sungguh-sungguh berusaha dan bekerja. Adapun hasil adalah takdir yang telah ditetapkanNya, berdasarkan kehendak, hikmah dan keadilanNya.

Wallohua’lam bishowab…Barokallohuli walakum.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close