Khazanah

Berwirausaha dengan Modal Taqwa

Setiap kita pasti berkeinginan untuk bisa hidup mandiri, memiliki kebebasan waktu dan finansial. Yaitu kebebasan waktu untuk beraktivitas di luar tanpa ada aturan untuk berangkat dan pulang kantor pada waktu tertentu. Dan memiliki kebebasan finansial, yaitu tercukupinya kebutuhan tanpa dibatasi dengan jumlah gaji tertentu setiap bulannya. Waow.. nikmat luar biasa…

Sayangnya merintis suatu usaha mandiri (wirausaha) tampaknya bukanlah perkara mudah. Butuh modal untuk memulai, butuh kecakapan tentang usaha yang digeluti, memperhitungkan peluang dan hambatan yang ada.

Dan faktanya, meski sudah melakukan analsisis SWOT (Strength, Weaknes, Oportunity, dan Threath) seringkali usaha tetap tertatih-tatih. Seakan tidak berguna segala rancangan yang telah disusun. Seakan tidak bermanfaat segala strategi yang telah dirancang.

Saat menghadapi hal demikian, kebanyakan belum memikirkan solusi dan sebab syar’i. Tidak menyadari bahwa rejeki ada yang mengatur. Lupa bahwa Sang Pemilik dan Pemberi Rizki menetapkan sarana-saran agar seorang hamba dimudahkan usahanya, dilapangkan rejekinya. Dan diantara sarana tersebut adalah taqwa.

Taqwa Memudahkan Usaha

Apapun usaha seseorang, entah dalam bidang pertanian, produksi, jasa, maupun perdagangan pasti tidak lepas dengan problematika. Saat berhadapan dengan masalah seakan dada terasa sesak dan sempit, bayaknya ide dan gagasan  belum juga memberi jalan keluar.

Pernahkah seorang pengusaha memperhatikan ayat ini:

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan membernya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”  (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa dengan sebenarnya akan dibalas Allah dengan memberinya makhroja (jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi) dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Bukankah ini jaminan yang menentramkan, yang layak kita usahakan sebelum ikhtiar dengan sebab-sebab kauniyah yang lain? Bukankah kita yakin bahwa Alloh berkuasa atas segala sesuatu. Mudah bagi Alloh untuk mengeluarkan seseorang dari masalah yang dihadapi, seberat dan sesukar apapun masalah tersebut.

Alangkah agung dan besar buah taqwa ini! Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata:

“Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah:  “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.

Dan Alloh Ta’ala juga berfirman:

Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Tholaq : 4).

Usaha Yang Barokah

Permasalahan kedua setelah menghadapi berbagai persoalan dalam dunia usaha adalah tentang hasil usaha yang di dapat. Terkadang hasil yang banyak tetapi tidak melahirkan ketentraman dan kebahagiaan. Hasil yang berlimpah tetapi jiwa kian serakah. Senantiasa dirundung kekhawatiran dan kegelisahan.

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri”. (QS. Al-A’raf: 96).

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandainya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannya dari segala arah.

Makna kalimat “ اَلْبَرَكَة ” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya.

Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata:

“Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”

Hakikat Taqwa

Setelah memahami kedudukan dan fadhilah taqwa dalam penghidupan seseorang. Maka taqwa yang bagaimana yang berbuah kemudahan dan keberkahan tersebut?

Para ulama Rahimahullaah telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan:

“Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”.

Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan

“Mentaati perintah dan laranganNya.” Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhannahu wa Ta’ala . Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya.”

Karena itu, siapa yang tidak menjaga dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa.

Jadi, orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarangNya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa.Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa

Karena itu, setiap orang yang menginginkan keluasan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkan berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kewajiban. Wallohua’lam bishowab.

(Dikutip dari buku ‘Mafatihur rizq’; Dr Fadhl Ilahi, Dengan beberapa perubahan)

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close