Khazanah

Hakikat Harta dalam Pandangan Islam

Ketahuilah, nilai harta bisa menjadi seonggok sampah, bahkan sampah beracun bagi pemiliknya. Tetapi juga bisa menjadi simpanan berharga yang memuluskan dan meninggikan derajat seseorang disisiNya. Bernilai atau tidaknya harta tergantung kepada pemegangnya. Maka Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيم ١٥

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar  (QS At Taghobun: 15)

Said bin Al Musayyab berkata:

Tidak ada kebaikan bagi siapa yang tidak mengumpulkan harta dengan cara yang halal. Dengan harta dia melindungi wajahnya dari (rasa malu karena meminta-minta kepada) manusia, serta dengan harta dia menyambung rahimnya dan menunaikan haknya.

Sungguh ucapan yang sangat bijak, intinya harta bak ular, ia beracun namun juga memiliki penawar. Racunnya adalah mudhorot (keburukan-keburukannya). Sedangkan penawarnya adalah manfaat-manfaatnya. Barangsiapa memahami keduanya, maka dia dapat menghindari keburukannya dan mengambil kebaikannya.

Manfaat harta dari segi dunia tentu semua orang telah memahaminya. Yaitu dengan harta itu, orang bisa bersenang-senang memuaskan keinginannya. Adapun dari segi agama, harta bisa memberi faedah namun juga memiliki sisi negatif.

Faidah Harta

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qoshidin menyebutkan bahwa faedah harta dari segi agama terfokus pada tiga titik.

Pertama: harta bisa untuk menafkahi diri sendiri demi tegaknya ibadah. Ini bisa meliputi pengeluaran untuk makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal, serta hajat-hajat dasar lainnya. Yang tanpanya seseorang tidak dapat berkonsentrasi untuk agama dan ibadahnya. Ibadah hanya terwujud dengan memenuhinya, maka pengeluaran inipun masuk kategori faedah harta dari sisi agama. Yaitu mengambil secukupnya untuk membantu ibadah. Adapun bernikmat-nikmat dan mengambil lebih dari kebutuhan, maka ia termasuk bagian faedah dunia.

Kedua: harta bisa untuk berinfaq kepada orang lain, hal ini terbagi menjadi empat bagian:

  1. Shodaqoh, yaitu pengeluaran dalam rangka mendapatkan berbagai keutamaan yang telah dijanjikan Alloh bagi pelakunya.
  2. Muru’ah, yaitu mengeluarkan harta dalam rangka menjaga hubungan kekerabatan, persahabatan, memuliakan tamu.
  3. Menjaga kehormatan, yaitu pengeluaran dalam rangka mencegah cibiran dan hinaan orang-orang bodoh (Karena orang bodoh tidak menghargai seseorang kecuali dari tampilan fisiknya). Ini juga termasuk faedah harta dalam agama.
  4. Sebagai Upah, yaitu pengeluaran atas layanan dan bantuan orang lain dalam berbagai hajat hidupnya. Yang seandainya semua dilakukan sendiri niscaya waktu akan habis dan membuatnya tidak mampu meniti jalan akhirat dengan berfikir dan berdzikir.

Ketiga: Pengeluaran untuk kemaslahatan orang banyak. ini termasuk faedah harta dari sisi agama, yaitu seseorang mengeluarkan harta bukan untuk orang tertentu, tetapi untuk kemaslahatan orang banyak. yaitu apa yang kita kenal dengan shodaqoh jariyah, seperti membangun jembatan, jalan, madrasah, masjid, dan berbagai sarana umum lainnya.

Racun Harta

Dalam pandangan agama, harta juga memiliki sisi negatif (racun), diantaranya:
Pertama; Harta pada umumnya menyeret kepada kemaksiyatan. Bagaimana ini bisa terjadi? Ya…Karena sesorang terjatuh kepada sebentuk maksiat adalah karena dia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melakukannya. Dan diantara kemaksiatan, ada yang tidak dapat terwujud tanpa harta.

Faktanya, ketika seseorang telah tercukupi kebutuhan pokoknya, maka ia akan berfikir untuk menikmati perkara lain dari harta yang dimilikinya. Sampai akhirnya ia tidak puas jika belum melakukan apa yang diharamkan oleh Alloh.

Saat harta berlimpah, ia tidak merasa cukup dengan layanan isterinya. Hingga iapun berusaha untuk mencari ‘daun muda’ dengan cara yang tidak dibenarkan. Iapun tidak merasa cukup dengan makanan dan minuman halal, hingga ia tertantang untuk menikmati wine, aspat (makanan Jin, versi Brajamusti), dan berbagai kemaksiatan lain. Berbeda bila ia tidak berharta, daya dorong untuk melakukan dosa tersebut tentu lebih lemah.

Kedua; Harta mendorong orang untuk bernikmat-nikmat dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. Ia tidak cukup berhias di rumah, tetapi harus memanjakan diri di salon, mandi susu, setrika wajah, manicure, pedicure, aroma therapy, dan lain-lain. Ia tidak cukup makanan ala kadarnya, tidak cukup fashion seperti orang kebanyakan.

Ia memilih komunitas di kalangan orang-orang berharta, menjaga image dan eksistensinya disana. Meski harus ditutupi kepura-puraan, kemunafikan. Hingga perlahan-lahan ia masuk ke wilayah syubhat, dan perlahan-lahan terjatuh kepada perkara haram.

Ketiga; tidak seorangpun luput dari keburukan harta yang ketiga ini, yaitu ternyata harta membuat kebanyakan orang lupa dari mengingat Alloh. Inilah penyakit kronis, karena ibadah adalah dzikir kepada Alloh, merenungkan keagungan dan kebesaranNya, dan hal ini memerlukan hati & konsentrasi.

Seorang tuan tanah siang malam memikirkan pertaniannya, memikirkan para buruh yang bekerja, bagaimana mengawasi mereka, dan bagaimana menghadapi pengkhianatan mereka. Ia juga harus memikirkan pertikaian terkait dengan sumber air dengan pemilik tanah sebelah, memikirkan batas tanah. Belum lagi, ia harus berfikir tentang obat pertanian, upaya meningkatkan produksi, hingga bagaimana bisa panen di saat harga menguntungkan. Sungguh menyita pemikiran…

Pebisnispun demikian, siang malam memikirkan usahanya. Bagaimana menekan ongkos produksi, sebaliknya bagaimana mendongkrak hasil produksi. Ia juga memikirkan para pesaing bisnisnya, langkah apa yang ditempuhnya. Ia berfikir bagaimana dapat merebut pasar agar usahanya tetap eksis dan berkembang. Sungguh menyita pemikiran.

Ujungnya ibadah hanyalah waktu sisa, tenaga sisa, dan konsentrasi sisa. Inilah setidaknya sisi negatif harta. Waspadalah! Waspadalah!

Penawar Racun Harta

Selain harta bisa menyeret pemiliknya pada perbuatan maksiyat, berlebih-lebihan dalam menkmatinya, dan melalaikan dari dzikir. Maka sesungguhnya pemilik harta harus memikul rasa takut, sedih, gelisah, pikiran dan lelah.

Maka penawar racun harta adalah mengambil sekadar yang cukup untuk dirinya  dan memberikan sisanya kepada jalan-jalan kebaikan (faedah agama). Selain itu maka harta adalah racun dan penyakit. Wallohua’lam (kami kutip dari Minhajul Qoshidin- Ibnu Qudamah

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close