Khazanah

Sebab Munculnya Sifat Bakhil

Bakhil tidak cuma membawa mudhorot bagi pelakunya, lebih dari itu bakhil juga merusak ukhuwah. Bakhil memunculkan sifat egois, tidak peduli dengan yang lain, enggan menolong saudara, dan ini semua adalah biang rusaknya persaudaraan. Maka bakhil adalah penyakit yang butuh disembuhkan, dicarikan apa penyebabnya dan dicarikan terapi pengobatannya.

Ibnu Qudamah, dalam Minhajul Qosidin menyebutkan bahwa bakhil muncul dari beberapa sebab, diantaranya suka menuruti keinginan (syahwat), panjang angan-angan, dan cinta yang sangat terhadap harta itu sendiri.

Sebab Sifat Bakhil

Syahwat adalah keinginan. Faktanya seseorang memiliki sekian banyak keinginan yang seakan harus terpenuhi. Ingin memiliki rumah yang bagus, perabotan mewah, menu makan yang enak, kendaraan yang nyaman, gadget yang mutakhir, fashion bermerk, dan lain-lain.

Suka menuruti syahwat memunculkan sifat bakhil, karena faktanya berbagai bentuk syahwat hanya bisa dituruti jika ada harta. Makin banyak keinginan berarti makin banyak harta dibutuhkan untuk memuaskan keinginannya. Hingga iapun berat mengeluarkan zakatnya, berat berinfaq dengannya bahakan rakus untuk mengumpulkannya.

Panjang angan juga memunculkan sifat bakhil. Pada umumnya sifat pelit disebabkan oleh rasa takut yang berlebihan akan masa depan yang memang tidak jelas.  Orang yang pelit sangat takut jika sampai terjadi kekurangan uang atau harta ketika datang waktunya dibutuhkan. Ia sangat khawatir dengan hari tuanya, di saat fisik dan akalnya melemah. Khawatir dengan penghidupannya saat tidak mampu lagi bekerja dan mencari nafkah. Kemudian iapun kenceng menyimpan hartanya, enggan menginfakannya demi hari tuanya.

Adapula yang bakhil karena rasa sayang terhadap anak-anaknya, khawatir dengan kondisi anak keturunannya kelak dikemudian hari. Hingga ia simpan hartanya, enggan menginfakannya, bahkan juga rakus untuk mengumpulkannya.

Syahwat & Panjang Angan

Bakhil karena suka menuruti syahwat, maka terapinya adalah qona’ah dan sabar. Bagi yang tidak memiliki harta yang banyak maka ia wajib memunculkan sifat qona’ah dalam dirinya. Yaitu menumbuhkan rasa cukup dengan yang sedikit, mengembalikan  kepada potensi diri hingga dia bisa hidup seimbang antara memenuhi kebutuhannya dan berbuat baik kepada orang lain.

Adapun bagi yang hartanya berlimpah (ingat: orang kaya-pun bisa bakhil) terapinya adalah berlatih untuk bersabar menahan syahwat. Menyadari bahwa syahwat sangat sulit terpuaskan, dia akan berpindah dari satu keinginan ke keinginan yang lain dan tidak ada ujungnya. Maka Beliau bersabda:

Lihatlah kepada orang yang dibawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang diatas kalian; karena hal itu lebih patut bagi kalian untuk tidak meremehkan nikma Alloh kepada kalian (HR Bukhari)

Bakhil karena panjang angan-angan terapinya adalah dzikrul maut. Yaitu menyadarkan diri bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan lebih cepat dari umur yang diangankannya. Menumpuk harta untuk hari tua bisa jadi hanya keterpedayaan. Karena saat ajal menjemput, ternyata yang berharga bukan berapa harta yang ditinggal, tetapi berapa harta yang dibawa mati (diinfakkan).

Sementara bila bakhil muncul karena khawatir dengan penghidupannya di hari tua, saat tidak mampu lagi bekerja. Khawatir dengan masa depan anak keturunannya, maka obatnya adalah meyakinkan diri bahwa rejeki telah dijamin.  Orang tidak akan mati, kecuali setelah jatah rejekinya terpenuhi.

Bahkan Alloh menjamin ‘rizqi min khaitsu laa yahtasib’ bagi orang yang bertaqwa beserta anak keturunannya. Sementara itu, diantara karakter khusus orang yang bertaqwa justru orang yang gemar berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.

Cinta Harta

Mestinya, orang cinta harta adalah karena harta mampu memuaskan syahwatnya. Tetapi adapula orang yang cinta terhadap harta itu sendiri. Ia puas saat melihat tumpukan hartanya, ia merasa nikmat saat menghitung-hitungnya. Ia sedih saat hartanya berkurang dari jumlah sebelumnya. Ia larut dalam kesedihan saat ada sedikit saja hartanya yang berkurang.

Jangankan berbagi dengan orang lain, untuk dirinya sendiri saja dia kikir. Ia menghindari makanan lezat, bahkan rela berlapar-lapar asal harta tidak berkurang. Ia tidak mengenakan pakaian yang layak yang dengannya ia bisa menjaga muruahnya demi tetap utuh hartanya.

Inipun penyakit yang mesti diobati, dan terapinya adalah dengan mengenalkan pada diri hakikat harta: sisi positif dan negatifnya harta. Yahya bin Muadz berkata:

Harta bak kalajengking, jika kamu tidak menguasai ruqyahnya (penawarnya) maka janganlah kamu mengambilnya, maka beliau ditanya: “Apa ruqyahnya?” . Dia menjawab: “Mengambilnya dari jalan yang halal, dan membelanjakannya pada tempatnya. Harta membawa musibah yang tidak disadari pemiliknya saat kematiannya.” Dia ditanya: “Apa itu?” Dia menjawab: “Saat mati harta diambil darinya semuanya sementara kelak akan dihisab darinya semuanya”.

Mengabadikan Harta

Orang yang cinta harta tidak ingin berpisah dengan hartanya, tidak ingin kehilangan. Hingga ia selalu menumpuk dan menghitung-hitungnya. Dia tidak menyadari kematian akan merenggutnya dan merenggut semua apa yang dimilikinya. Dia akan berpisah dengan semua kekayaannya.

Bila memang cinta harta, dan tidak ingin berpisah dengannya, semestinya ia ‘mengabadikan hartanya’. Lalu bagaimana cara mengabadikan harta? Sesungguhnya ketika seorang hamba  menginfakan hartanya, mewakafkannya, berarti ia telah menyimpannya di sisi Ar Rahman. Hingga Dia menerimanya, memperkembangkannya dari yang sedikit hingga sebesar gunung.

Seorang pecinta sejati tentu tidak ingin berpisah dengan kecintaanya. Maka pecinta harta tidak ingin ia tinggalkan hartanya di dunia kecuali harus menjadi bekalnya di akhirat dan abadi bersamanya. Wallohua’lam 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close