Akhlaq

Ancaman Bagi Para Koruptor dalam Pandangan Islam

Umar bin Khottob memiliki seekor unta yang biasa diperah budaknya. Suatu ketika, budak membawa susu ke hadapan Umar. Umar berfirasat lain dan dia bertanya kepada budaknya:

Susu unta dari mana ini?”. Budaknyapun menjawab: “Seekor unta milik baitul maal telah kehilangan anaknya. Maka daripada ambingnya mengering maka saya perah untukmu.”. Umar terkejut dan berkata: “Celakalah Engkau Engkau beri aku minuman dari neraka!”

Imam Malik meriwayatkan bahwa Anas bin Malik berkata:

Aku melihat Umar bin khottob pada masa kekhalifahannya memakai jubah yang bertambal di dua pundaknya.”

Ya, di jaman Umar memimpinlah Perisa dan Romawi ditaklukan. Pemimpin yang amanah menjadi salah satu faktor  hingga Alloh Ta’la memberikan kejayaan dan kemenangan bagi umat islam. Sebaliknya pemimpin yang khianat dan korup adalah awal keterpurukan dan kehancuran.

Korupsi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa korupsi adalah:

“Penyelewengan atau penggelapan (uang negara/rakyat, uang perusahaan, atau uang lembaga) untuk kepentingan pribadi atau orang lain”

Korupsi termasuk pengkhianatan terhadap amanah yang diembankan kepadanya. Seorang pegawai perusahaan, atau lembaga, maupun instansi pemerintah saat diangkat untuk mengemban suatu tugas sesungguhnya ia diberi amanah untuk menjalankan tugas-tugas tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan ia mendapatkan gaji atas tugas yang dijalankannya. Maka ketika ia menyelewengkan harta tersebut dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diamanahkan (bahkan untuk keuntungan pribadi maupun orang lain) maka ia telah berkhianat.

Dalam syari’at pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun ghulul dalam terminologinya berarti seorang mujahid yang menggelapkan rampasan perang sebelum dibagi. Ghulul (Korupsi) termasuk kedzaliman terhadap orang banyak. Dan Imam Ad Dzahabi memasukannya ke dalam salah satu dari tujuh puluh dosa besar (AL Kabaair).

Bentuk-bentuk Korupsi

Bentuk korupsi yang paling nyata adalah penggelapan uang negara. Menyelewengkan anggaran negara atau lembaga untuk kepentingan pribadi. termasuk didalamya tidak mensetorkan dana pajak atau retribusi yang lain ke kas negara dan justru masuk ke kantong pribadi (meski hanya tiket parkir).

Termasuk korupsi adalah menggunakan peralatan kantor untuk kepentingan pribadi seperti mobil dinas, mesin foto copy, printer, kertas dan berbagai fasilitas kantor lain. Sebagaimana fatwa Ibnu Utasimin ketika ditasnya tentang hal tersebut, Beliau menjawab:

“Menggunakan mobil dinas, serta peralatan kantor lainnya (Mesin fotocopy, printer, kertas, dll) untuk kepentingan pribadi, tidak dibolehkan. Jika seorang aparatur negara menggunakannya untuk kepentingan pribadi maka perbuatan ini adalah tindak kejahatan terhadap orang banyak. Sesuatu yang diperuntukan untuk orang banyak tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi. Perbuatan ini termasuk Ghulul dan nabi telah mengharamkannya”

Seorang pegawai yang bekerja tidak tepat waktu, datang dan pulang tidak sesuai dengan jam kantor, atau bekerja tidak sungguh-sungguh juga termasuk telah korupsi. Karena seorang pegawai digaji oleh negara berdasarkan jam kerja penuh. Maka jika ia bekerja tidak sesuai dengan aturan jam kerja, berarti ia telah mengambil gaji tanpa imbalan kerja, maka tampak nyata dia telah korupsi.

Besarnya Dosa Korupsi

Sebagaimana perbuatan khianat yang termasuk dosa besar. Maka besarnya dosa korupsi juga bisa nampak dari dampak buruk yang akan didapat bagi pelakunya. diantara dampak buruk tersebut adalah:

  1. Harta Korupsi akan dipikul di akhirat

AllohTa’ala berfirman tentang ancaman bagi orang yang melakukan ghulul (korupsi):

“Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang itu), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu” (QS. Ali Imron: 161).

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan dengan hadist yang diriwayatkan Ahamad dari Abu Humaid yang bercerita: seorang dari suku Azd bernama Ibnu Latbiah diangkat oleh rasululloh sebagai amil zakat datang menyerahkan hasil kumpulan sedekahnya dengan menyisikan sebagian untuk dirinya (yang katanya dihadiahkan seseorang kepadanya). Maka berdirilah Rasululloh di atas mimbar dan bersabda:

Bagaimanakah seorang pegawai yang kami beri jabatan bisa berkata: “ini adalah hadiah untukku”. Sekiranya ia duduk di rumah ayah atau ibunya (tidak menjabat) apakah ia akan memperoleh hadiah itu? Demi tuhan yang nyawa saya berada di tanganNya tidak seorangpun diantara kalian berbuat seperti itu melainkan akan datang pada hari kiamat dengan membawa barang hadiah itu di atas punggungnya, bisa onta yang menguak, lembu atau kambing yang mengembik.”

Kemudian Beliau mengangkat kedua telapak tangannya dan berdo’a:

“Ya Alloh telah aku sampaikan, ya Alloh saksikanlah.” Diulanginya tiga kali.

  1. Cacat di akhirat

Sekecil apapun hasil korupsi akan menjadi kehinaan bagi pelakunya besok di akhirat. Tentang ini Beliau bersabda: Beliau berdiri di depan manusia dan bersabda: “Kembalikanlah meski hanya  jarum dan benang, sesungguhnya ghulul pada hari kiamat adalah kecacatan, neraka, dan aib bagi pengambilnya” (Al Muwatho)

  1. Dipermalukan di mahsyar

Sebagaimana khianat yang akan dipermalukan dan dihinakankan, maka demikian pula koruptor. Beliau bersabda:

 “Setiap pengkhianat akan membawa bendera di bokongnya di hari Kiamat kelak.” (HR Muslim)

  1. Terancam masuk neraka

Tentang ini diriwayatkan di dalam Sunan Ibnu Majah, dan hadist ini dishahih oleh Al Albani:

Ada seseorang yang senantiasa membawakan beban  Nabi. la bernama Karkarah. Kemudian ia meninggal dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: ‘Ia berada di neraka.’ Mereka pun mencoba memeriksa orang tersebut dan ternyata ia membawa selendang yang ia korupsi.”

  1. Terhalang masuk surga

Korupsi adalah kedzaliman. Dan setiap kedzaliman harus dipertanggungjawabkan. Hingga belum layak masuk jannah hingga kedzaliman itu di bayarkan. Entah dengan hisab yang berat atau bila Alloh menghendaki akan mengadzabnya hingga layak masuk jannah. Beliau bersabda:

“Barangsiapa meninggal dalam keadaan terbebas dari tiga hal; sombong, mencuri harta ghanimah dan hutang, maka ia akan masuk surga.” (Sunan Tirmidzi dishahihkan Albani)

Inilah besarnya dosa korupsi. Dan tampaknya setiap kita berpotensi terjatuh kedalamnya. Karena banyak diantara kita memegang amanah-amanah baik dalam sekala kecil maupun besar. Tapi ingat! Meski sebatang jarum ataupun hanya seutas benang, bila didapat dari korupsi, bisa menjadi api, aib, dan cacat bagi pelakunya besok pada hari kiamat. Na’udzubillahi min dzalik.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close