Khazanah

Mengenali Sifat Bakhil dalam Diri

Terkadang kita merajuk saat kita bekerja, lelah, capek, letih, eh…begitu dapat ‘duit’ yang menikmati orang lain. Tetangga sakit yang harus dijenguk, kerabat hajatan harus ‘kondangan’, teman melahirkan harus ‘muyen’, tamu berkunjung harus dijamu, belum tarikan ini, dan sumbangan itu. “Kok olih kesel thok”, pikir kita sambil menghela nafas panjang.

Di sisi lain kita heran betul dengan tetangga sebelah, peres keringat, banting tulang. Jadi buruh tani, nyangkul dari pagi buta hingga sore hari, gombrang-gepyok  hingga menjemur padi  semua dilakukan sendiri, eh ..begitu jadi beras selalu ingat tetangga kanan kiri. “Lelah hilang, saat bisa berbagi dengan yang lain” katanya sambil tersenyum.

Kadang kita merasa menang tatkala bisa membeli barang dengan menawar harga serendah mungkin. Hingga barang terbeli dengan harga sangat murah, masih pula minta timbangannya ‘anget’ dan minta ‘imbuh’. Kita puas karena yakin pedagang mendapatkan untung tidak seberapa, bahkan mungkin sekedar balik modal saja.

Sebaliknya kadang kita heran, ada ibu-ibu desa tampilannya bersahaja, membeli barang tanpa menawar harga, timbangan dicurangi iapun diam saja. Saat bayar tidak ada uang kembalian, ia-pun bilang: “Ambil saja kembaliannya!”. “itung-itung shodaqoh” katanya tanpa beban di dada.

Kadang dada terasa sasak saat kita mempekerjakan orang. Kita maunya pekerjaan cepat selesai. Dengan material dan bahan seadanya, harus menghasilkan produk sebaik-baiknya. Tiap menit kita awasi, jam istirahat kita batasi. Saat penggajian kita berharap bisa membayar dengan gaji serendah rendahnya.

Namun yang mengherankan, ada penjual bubur ayam dengan gerobak dorongan, pembelinyapun tidak ramai-ramai amat. Tapi ia mempekerjakan seorang pelayan. Uniknya sang karyawan terkesan ogah-ogahan, sementara sang juragan sedemikian sibuk melayani pelanggan. . Tanpa pernah komplain, Sang Juraganpun  bilang: “itung-itung bagi-bagi rejeki, ngasih ‘lakha-lakha’ ya saya tidak mampu Mas”

Pernahkah kita dapat SMS dari 88331 collect SMS Telkomsel: nomor +6285326986600 gagal mengirim pesan ke Anda. Jika berkenan membayar biaya SMS Rp 175, balas YES dan NO jika tidak. Tiba-tiba kita ‘mbathin’: “Sana yang butuh, eh saya yang bayar SMS-nya”.

Bakhilkah aku?

Jidat kita mungkin mengkerut saat dituduh bakhil. Karena kita merasa apa yang kita lakukan sah-sah saja dan logis. Kita merasa sah-sah saja karena apa yang kita tahan adalah harta kita. Logis-logis saja karena setiap pengeluaran pasti harus ada imbal baliknya yang seimbang.

Apa salahnya bila saya menekan pengeluaran dalam rangka penghematan. Apa salahnya bila saya selalu memperhitungkan antara pengeluaran dengan kompensasi yang didapatkan. Bukankan prinsip ekonomi ya demikian: “Dengan pengeluaran sekecil-kecilnya bisa mendapat keuntungan sebesar-besarnya.”

Terkadang samar membedakan antara bakhil dengan penghematan. Samar menempatkan antara dermawan dengan pemborosan. Antara murah hati dengan lugu dan gampangan.

Di dalam Minhajul Qosidin, disana disebutkan :

orang yang kikir adalah orang yang menahan apa yang sepatutnya tidak ditahan, baik dari sisi hukum syari’at maupun tuntutan muru’ah.

Artinya orang yang telah menunaikan kewajiban syariat dan tuntutan muru’ah, maka dia telah terbebas dari kebakhilan. Akan tetapi dia belum dianggap dermawan selama belum memberi lebih dari itu.

Adapun yang disebut kewajiban-kewajiban syari’at adalah semisal zakat dan kewajiban menafkahi keluarga  bagi suami. Adapun tuntutan muru’ah adalah apa-apa yang bisa untuk menjaga wibawa dan harga dirinya.

Terkait dengan muru’ah, maka seorang suami yang tidak menafkahi keluarganya kecuali sebatas minimal yang diwajibkan secara syar’i, dan enggan menambah untuk keluarganya apa-apa yang bisa menyenangkan dan membahagiakannya maka dia masih termasuk orang yang bakhil.

Masih terkait dengan muru’ah, maka orang yang kaya tapi masih memperhitungkan hal yang kecil kecil, menawar barang hingga menyudutkan pedagang, mempekerjakan orang  dengan menekan jam kerja dan menekan gaji yang diberikan, enggan memuliakan tamu padahal ia mampu. Enggan memudahkan tetangganya dengan aset yang dimiliknya, maka orang inipun masih termasuk orang yang bakhil.

Dermawan

Adapun orang yang murah hati (dermawan) adalah orang yang memberi tanpa mengungkit-ungkit, orang yang bahagia bila memberi. Ia menunaikan yang wajib dan menjaga muru’ahnya dengan hartanya.

Orang yang dermawanpun bertingkat-tingakat. Ada yang siap menyisihkan sebagian rejekinya dari sisa pendapatannya setelah terpenuhi kebutuhannya. Sehingga jika penghasilannya 10 juta sementara kebutuhannya 7 juta maka ia siap menginfaqkan sisanya (3 juta). Jika penghasilannya tujuh juta maka ia tidak berinfaq.

Adapula orang yang kedermawanannya hingga siap menekan keinginan dan kebutuhannya demi bisa berbuat baik kepada orang lain. Ia siap menyisihkan sebagian rejekinya sekian persen dari pendapatannya. Jika ia penghasilannya 10 juta maka ia sisihkan sekian persennya untuk infaq, jika penghasilannya di bawah itupun ia sisihkan sekian persen sesuai komitmennya.

Dan derajat tertinggi dari sifat deermawan adalah orang yang memiliki sifat itsar yaitu mendahulukan orang lain dari pada dirinya. Ia memberikan hartanya sekalipun ia membutuhkan. Sifat ini yang dipuji oleh Alloh Ta’ala:

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung  (QS Al Hasyr: 9).

Bakhilkah  Aku? Mari kita melihat diri masing masing. Wallohua’lam bi showab 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close