Akhlaq

Batas Taat Kepada Orang Tua

Di dalam kitab Riyadush Shalihin, Ibnu Abbas menceritakan tentang kisah Nabi Ibrahim tatkala berkunjung ke rumah puteranya Isma’il setelah sekian lama tidak bertemu. Sayang saat itu tidak bertemu dengan puteranya. Maka beliau (Ibrahim) bertanya kepada isteri Ismail tentang keadaan puteranya, maka istrinya menjawab: “Dia sedang berburu untuk kami”. Kemudian Ibrahim menanyakan tentang penghidupan mereka, dan istri Ismail menjawab: “Keadaan kami sangat menyedihkan, kami dalam kesukaran.” Dan ia mengeluh kepada Ibrahim. Maka Ibrahim berkata: “Bila suamimu datang, maka sampaikan salamku kepadanya, dan katakan agar ia segera mengganti kusen pintunya yang sebelah bawah”

Saat Ismail datang, ia merasa ada sesuatu hingga ia bertanya kepada istrinya. Istrinyapun menceritakan pertemuanya dengan seorang laki-laki tua dan menyampaikan pesan laki-laki tersebut. Maka Ismail berkata: “Lelaki tua tadi ayahku, dia berpesan agar aku menceraikanmu, maka pulanglah kamu ke keluargamu.” Ismailpun menceraikan istrinya.

Itulah Ismail, tauladan dalam ketaatannya kepada Alloh, tauladan dalam baktinya kepada orang tua. Saat hendak disembelih, diapun sabar dan berserah diri, saat diperintah menceraikan istrinya, diapun taat melaksanakan anjuran orang tuanya. Subhanalloh itulah gambaran birrul walidain.

Berbakti Tanpa Melanggar syar’i

Taat terhadap orang tua adalah perkara wajib, tentu dalam perkara ma’ruf, dalam perkara yang boleh. Bila orang tua memerintahkan untuk menceraikan istri karena kemaslahatan agama anaknya, karena akhlak buruk istrinya, maka mestinya seorang anak taat kepadanya. Hal demikian juga pernah dialami Abdulloh bin Abu Bakar Ash Shidiq tatkala bapaknya memerintahkan untuk menceraikan istrinya Atiqoh bin Zaid. Meski dengan berat hati, karena sedemikian cintanya kepada Atiqoh, Abdulllohpun mentaatinya sebagai bentuk bakti kepada bapaknya.

Namun, faktanya, tidak semua orang tua memiliki pertimbangan demikian. Bahkan tidak sedikit ada diantara kita dihadapkan pada orang tua yang jahil dalam ilmu agama, akhlaknya buruk, tidak adil, tidak amanah, bahkan cenderung suka berbuat aniaya. Tatkala itu anak diuji kesabarannya.

Ada  pula orang tua yang justru menghalangi anaknya untuk taat kepada Alloh, tidak suka anaknya ngaji/taklim, tidak suka bila anaknya berjilbab dan berpakaian syar’i. Maka disaat itu seorang anak diuji kesabarannya untuk komitmen diatas kebenaran, istiqomah dengan tuntunan ilahi. Tentu dengan cara yang ma’ruf, santun anak menyampaikan argumennya kepada orang tua. Dan ingat, tidak ada ketaatan terhadap makhluk di dalam bermaksiyat kepada Alloh. Beliau sholallohu alaihi wasallam juga bersabda:

Ketaatan hanya dalam hal yang Ma’ruf”. (HR Bukhari & Muslim).

Apalagi bila orang tua memerintahkan anak untuk melakukan perbuatan kufur terhadap aturan-aturannya, atau mengajak berbuat syirik. Maka tidak ada ketaatan dalam perkara ini, Alloh Ta’ala berfirman:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (QS. Luqman: 15)

Saat itu sikap tegas diperlukan. Tegas bukan berarti kasar dan tanpa kompromi. Ketegasan tidak boleh menafikan rasa hormat dan bakti baik dengan lisan maupun perbuatan. Rambu-rambu birrul walidain harus tetap menjadi pedoman dan sama sekali tidak boleh diabaikan.

Belajar Dari Saad bin Abi Waqosh

Inilah kisah ketegaran Sa’ad bin Abi Waqosh, saat beliau mengalami kondisi dilematis antara birul walidain dan komitmennya terhadap dinul islam. Sa’ad bercerita: “Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata, “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! Atau aku mogok makan minum sampai mati….! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya.”

Aku menjawab, “Jangan lakukan itu, Bu! Bagaimanapun juga aku tidak akan meninggalkan agamaku.” Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum. Sehingga tubuh dan tulang-tulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan bersumpah akan tetap mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.

Aku berkata kepada ibuku, “Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu sata persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku), sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karenanya.”

Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad saw. yang artinya:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS AL Ankabut: 15).

Akhirnya berbakti kepada orang tua bukan berarti mentaati perintahnya dalam segala hal, tetapi Alloh dan Rasulnya tetap segalanya. Bakti kita kepada orang tua adalah dalam rangka menggapai ridho Alloh Ta’ala. Maka tidak mungkin kita taaat kepada orang tua tetapi di atas murka Alloh ta’ala. Wallohua’lam.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close