Khazanah

Mengenali Logika Sifat Bakhil

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. (Ali Imron: 180)

Ya… akal mengenali sifat bakhil sebagai perkara yang logis, maslahat dan sebentuk  kebaikaan yang lain. Sebaliknya akal menilai sifat murah hati adalah perbuatan yang tidak logis, berseberangan dengan hitungan matematis. Yang logis sekecil apapun pengeluaran pasti akan mengurangi harta yang kita miliki, maka menahannya berarti menjaga harta.

Alasan Bakhil

Kadang kita khawatir akan masa tua kita, saat badan dan akal kita melemah, bagaimana kelak kita bisa makan dan bertahan hidup. Sementara kita bukan PNS yang mendapat jaminan pensiunan. Maka pikiran logisnya adalah saat muda harus giat bekerja, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Menahan dari berbagai pengeluaran, ditabung untuk masa depan.

Diantara perkara yang juga sering merisaukan orang tua adalah tentang nasib anak cucunya. Bagaimana agar anak cucunya hidup kecukupan tanpa kekurangan. Syukur kaya raya hingga tujuh turunan. Biasanya untuk tujuan ini, orang tua siap berbuat apa saja demi masa depan anak cucu mereka. Dia rela bersakit-sakit, jerih payah banting tulang. Jangankan hartanya boleh dinikmati orang lain, untuk dirinya sendiri saja dia rela hidup ‘prihatin’.

Pertimbangan lain hingga orang ‘seret’ mengeluarkan hartanya, adalah dalam rangka cadangan (bahasa jawa ‘Jagan’)  saat ada kondisi darurat, antisipasi bila ada musibah. Entah bencana yang menimpa, atau sakit diantara keluarga. Maka saat lapang dan sehat harta ditahan-tahan, di irit-irit. Logikanya sedia payung sebelum hujan.

Bakhil Sebagai Watak

Adapula orang yang dihinggapi sikap bakhil, semata-mata karena pribadinya yang egois, (orang yang hanya memandang kepentingan sendiri). Keinginannya adalah bagaimana setiap pengeluarannya bisa mendapat keuntungan. Sebaliknya, hatinya sempit saat orang lain mendapat keuntungan dari apa yang dimiliknya, meski perkara yang sangat sepele.

Dadanya sesak saat tetangga numpang njemur di tiang jemurannya. Hatinya gundah saat tetangga memanfaatkan tanah pekarangannya dijadikan sebagai akses masuk rumahnya. Tidak suka bila tetangga sesekali ikut memakai air ledengnya. Bahkan enggan, meski hanya sekedar meminjami perlengkapan rumah tangga kepada tetangga sebelahnya.

Tahukah kamu siapa orang yang mendustakan agama itu?…yaitu orang-orang yang ria dan enggan menolong dengan al ma’un(QS. Al Maun: 1, 6,7).

Diantara sahabat dan tabi’in sebagaimana disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa makna al Ma’un adalah peralatan rumah tangga, yang jika dipinjamkan tidak akan berkurang. Maka, termasuk orang yang mendustakan agama adalah orang yang enggan menolong orang lain  meski hanya sekedar meminjamkan ember, cangkul, panci, atau perlengkapan rumah tangga lain.

Dalam batas yang lebih ekstrem bahkan seseorang mungkin enggan meski sekedar menggerakan bibirnya untuk tersenyum dihadapan saudaranya. Enggan memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di jalan. Enggan menyingkirkan duri dan halangan di jalan. Yang mana ini semua adalah bagian dari cabang-cabang iman.

Murah Hati Adalah Irasional

Abdulloh Ibnu Amr membeli rumah Khalid bin Uqbah yang berada di dekat pasar dengan harga 90 ribu dirham (setara 6 milyar 30 juta rupiah). Ketika malam tiba, Abdulloh mendengar keluarga Khalid menangis. Maka Abdulloh bertanya kepada keluarganya: “Mengapa mereka menangis?” Keluarganya menjawab: “Mereka menangisi rumah mereka” Mendengar hal itu maka Khalid berkata kepada pembantunya: “Pelayan, datanglah kepada mereka dan katakan kepada mereka bahwa rumah dan uang semuanya buat mereka”.

Subhanalloh, itulah sifat murah hati. Bukankah sulit di nalar bahkan nyaris tidak bisa dipercaya? Bagaimana seseorang bisa mengeluarkan hartanya hingga angka 6,03 milyar, seakan tidak dipikir terlebih dahulu, tanpa kompensasi (keuntungan) balik yang didapatkan.

Ibnu Qudamah juga menceritakan (dalam Minhajul Qosidin), bahwa suatu saat Ali bin Al Husein datang kepada Muhammad bin Usamah bin Zaid yang dalam keadaan sakit. Maka Muhammad menangis, sehingga Ali bertanya: “Ada apa denganmu?Muhammad kemudian menjawab: “Saya terbelit hutang.” Ali bertanya: “Seberapa banyak?”. Dia menjawab: “15.000 dinar”. (setara 31,85 milyar rupiah). Maka Ali berkata kepadanya: “Aku yang menanggungnya”.

Subhanalloh, sekali lagi mungkin sulit difahami. Dan tampaknya sifat murah hati itu sendiri memang bukan muncul dari tingkat akademis seseorang. Faktanya berapa banyak orang  yang tidak berpendidikan tetapi sedemikian dermawan, sebaliknya yang prestasi akademiknya tinggi justru bakhilnya ‘ngga ketulungan.’

Artinya, ada faktor yang mendorong seserang hingga sedemikian murah hati, dan selamat dari kebakhilan diri. Faktor pendorong itu adalah iman, yakin dengan janji Alloh, yakin dengan kehidupan akhirat, yakin dengan Jannah dan neraka. Jiwanya terbina, hingga faham betul hakikat harta yang hina dan hakikat dunia yang fana.

Untuk memahami sifat bakhil dan sifat dermawan, maka sebagai pungkasan, mari renungi firman Alloh berikut:

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa (QS Al Lail: 5-11).

Wallohu a’lam bi showab 

 

 

 

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button