Uncategorized

Berkah dari Rasa Sakit

“Wis tok sabar-sabarna, ning  lara ko…!.” Keluh seorang bapak saat dinasehati sabar ketika dirinya sakit. Mungkin kita pun demikian, sering tidak sabar saat badan meriang. Berubah temperamental saat asam lambung naik. Atau setidaknya mudah berkeluh kesah saat badan kurang fit.

Sebenarnya hal tersebut manusiawi, tetapi sabar dan lapang dada sepertinya justru lebih mendatangkan banyak kebaikan.

Berkah?

Salah satu penguat kesabaran saat sakit adalah seseorang tahu bahwa sakit sebenarnya penuh keberkahan. Mungkin aneh ya, sakit kok penuh berkah!? Dari situ kita fahamkan terlebih dahulu tentang makna berkah.

Berkah secara bahasa dari kata Birkah yang artinya tempat berkumpulnya air, sehingga tidak berpindah dan tetap. Secara istilah, berkah adalah: “kebaikan yang banyak, bertambah, dan langgeng.” Sakit disebut penuh berkah, karena sakit bisa menjadi sebab datangnya kebaikan yang banyak dan langgeng. Tentu kebaikan ilahiah,  bukan kebaikan subjektif manusia.

Sakit yang dalam pandangan manusia dianggap sesuatu yang buruk, tidak nyaman, membuat menderita, padahal betapa banyak hikmah dan keberkahan didalamnya, diantaranya:

Sakit Sarana Agar Kita Bersyukur

Bisa mensyukuri nikmat adalah perbuatan yang mulia, yang dengannya seorang hamba berhak atas ridhoNya. Faktanya, diantara nikmat yang sering dilalaikan manusia adalah nikmat sehat (sabda Nabi: “Maghbunun katsiro minannas” | kebanyakan manusia lalai).

Uniknya, justru saat nikmat sehat dicabut (saat sakit) itulah manusia baru merasakan nikmatnya sehat.

Baru merasakaan nikmatnya pengelihatan, justru saat mata ‘beleken’ . Baru merasakan nikmatnya ginjal sehat, justru saat harus mondar-mandir cuci darah. Baru merasakan nikmatnya sehat, justru saat sudah terkena diabetes, jantung coroner, stroke dan berbagai penyakit lain.

Artinya saat sakit, sebenarnya bisa menjadi sarana agar kita lebih bersyukur dengan nikmat sehat yang selama ini dirasakan. Jika syukurnya benar, maka orang tersebut telah mendapatkan keberkahan dari sakitnya.

Sakit Menghapus Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Dosa membawa keburukan bagi pelakunya (di dunia maupun di akhirat). Sementara, siapa sih diantara kita yang tidak punya dosa. Maka kita Sangat mendamba terhapusnya dosa-dosa kita.

Maka cukuplah kita katakan berkah saat ditimpa sakit, karena sakit akan menghapus dosa-dosa kita.

Sakit Penebus Api Neraka

Diantara sakit yang sering menimpa kita adalah demam (dengan berbagai sebabnya: covid-19 misalnya). Saat diantara sahabat meengalami demam Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru bersabda:

“Bergembiralah, karena Alloh Ta’ala berfirman: “Demam adalah apiKu, yang aku timpakan kepada hambaKu mukmin di dunia, sebagai pengganti bagiannya dari api neraka di akhirat” (HR Ibnu Majjah).

Bukankah ini juga bagian dari keberkahan sakit. Karena dengan sakit (demam) seseorang justru terhindar dari api neraka karenanya.

Sakit Adalah Ladang Pahala

Apapun kondisi yang menimpa seorang muslim pada hakikatnya adalah ujian, sebagaimana FirmanNya:

“Dan kami uji kalian dengan ujian keburukan dan ujian kebaikan” (QS Al Anbiyaa: 35). Ibnu Abbas berkata, “..salah satu ujian keburukan adalah sakit.”

Bila sakit adalah ujian, tatkala seorang muslim bisa mensikapinya dengan sabar maka sakit tersebut adalah keberkahan baginya. Karena pahala kesabaran tidak pakai hitung-hitungan.

Ada satu hadits bahwa kelak: “Ketika ahlul bala’ menerima pahala pada hari kiamat, ahlul ‘afiyah sangat menginginkan seandainya kulit mereka dipotong-potong dengan gunting.” (HR. At Tirmidzi)

Ahlul afiyah adalah orang yang ketika di dunia senantiasa bahagia jarang ditimpa sakit dan kesulitan. Mereka iri dengan Ahlul bala yaitu orang yang ketika di dunia banyak terkena musibah (termasuk sakit). Ternyata ahlul bala panen pahala pada hari kiamat, hinnga ahlul afiyah berharap dulu di dunia sering sakit dan menderita.

Artinya kelak ada orang yang derajatnya tinggi dihadapan Alloh, timbangan amalnya penuh kebaikan, catatan amalnya menjadi indah bukan karena sholatnya, puasanya, infaknya atau haji dan umrohnya, tetapi karena kesabarannya saat menghadapi sakit. masya alloh wa tabarokalloh.

Sakit Kebiasaan Baik Senantiasa Dicatat

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Al-Bukhari)

Sakit Diganti Dengan Surga

Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Inginkah engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”   Aku pun menjawab, “Tentu saja.”

Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:

“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”

Maka ia berkata:  “Aku akan bersabar.” Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari)

Dia adalah seorang shahabiyyat bernama Su’airah al-Asadiyyah atau yang dikenal dengan Ummu Zufar radhiyallohu’anha. Dia memilih bersabar dengan sakitnya dan dijanjikan untuknya surga, meski andai ia mau Nabi akan mendoakan kesembuhan baginya, dan pastilah doa Beliau mustajab.

_____

Wahai yang hari ini ditimpa sakit, bersabarlah, petik keberkahannya! Betapa meruginya bila badan sudah menderita, hari resah dan gelisah, makan tak enak, tidur tak nyenyak, ternyata tidak mengurangi dosa, tidak pula menambah pula pahala.

Wahai yang hari ini ditimpa sakit, kusisipkan doa untukmu: “Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau-lah Yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ya Alloh lindungilah kami dari wabah penyakit dan berbagai keburukannya.

(@Ujun-1442 H)

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button