Muamalah

Agar Hutang Menjadi Berpahala

Adab - adab Berhutang dalam Islam

Urusan hutang piutang tampaknya sangat akrab dengan hidup dan kehidupan kita. Dari situ orang yang mulia adalah orang yang mampu meraup pahala dengan transaksi hutang piutang yang dilakukannya. Mungkinkah meraup pahala dari hutang?

Berhutang, hukum asalnya Jaiz. Bisa menjadi amal sholih yang berpahala jika memperhatikan adab-adab yang dianjurkan di dalam islam. Adapun adab-adab bagi orang yang berhutang adalah:

Pertama; Jadikan Hutang Solusi Terakhir. Perlu dipahami bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berhutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Diantara dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar.

Dari situ, jadikan hutang sebagai solusi terakhir dalam menyelesaikan problematika keuangan kita. Bila masih ada aset maka jualah aset, bila bisa bekerja sama, maka berserikatlah di dalam modal usaha. Hal demikian lebih menentramkan. Ingat! Hutang adalah kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari.

Kedua; Pilihlah Qordul Hasan (Hutang Yang Baik). Bila keputusan akhir adalah harus hutang, maka carilah pinjaman yang baik (bukan riba). Yakinlah bahwa Alloh akan mempertemukan dengan aghniya yang baik agamanya. Dua sifat ini penting sehingga hutang bisa menjadi kebaikan dan berkah baik bagi yang meminjami maupun yang dipinjami.

Ketiga; Berhutang Dengan Niat Baik. Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah zhalim dan melakukan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti: berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar, berhutang untuk sekedar bersenang-senang, berhutang dengan niat meminta (karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi).

Tentang niat yang baik dalam berhutang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang mengambil harta orang (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya” (HR. al-Bukhari).

Keempat; Biasakan Mencatat Hutang. Karena Alloh Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqoroh : 282)

Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, ini merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat :

“Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”

Kelima; Menggunakan Hutang Sebaik Mungkin. Menyadari bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan. Jangan untuk sia-sia, apalagi foya-foya. Berhati-hati dalam menjalankan usaha. Jangan ingin menikmati hasil, sebelum hutang terbayarkan!

Keenam; Segera Membayar Bila Mampu. Imam Dzahabi mengkatagorikan penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu sebagai dosa besar dalam kitab Al-Kabair pada dosa besar no. 20. Orang yang menahan hutangnya padahal ia mampu membayarnya, maka orang tersebut berhak mendapat hukuman dan ancaman, diantaranya:

  1. Berhak mendapat perlakuan keras. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

    Seseorang menagih hutang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai dia mengucapkan kata-kata pedas. Maka para shahabat hendak memukulnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, “Biarkan dia. Sesungguhnya si empunya hak berhak berucap. Belikan untuknya unta, kemudian serahkan kepadanya”. (HR. al-Bukhari)

  2. Berhak dighibah (digunjing) dan diberi pidana penjara. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah :

    Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman” (HR. al-Bukhari). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Menunda pembayaran bagi yang mampu membayar, (ia) halal untuk dihukum dan (halal juga) kehormatannya”. (HR. Ibnu Majah)

  3. Hartanya berhak disita. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    Barangsiapa yang mendapatkan hartanya pada orang yang telah bangkrut, maka dia lebih berhak dengan harta tersebut dari yang lainnya

  4. Berhak di-hajr (dilarang melakukan transaksi apapun). Jika seseorang dinyatakan pailit dan hutangnya tidak bisa ditutupi oleh hartanya, maka orang tersebut tidak diperkenankan melakukan transaksi apapun, kecuali dalam hal yang ringan (sepele) saja.

Ketujuh, Terus Terang Bila Belum Mampu Bayar. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman, karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan. Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.

Kedelapan; Balaslah kebaikan dengan Kebaikan. Diantara perkara yang semestinya ada di benak para penghutang adalah kesadaran bahwa dia telah memperoleh kebaikan dari yang memberi pinjaman, maka seharusnya dia membalasnya dengan kebaikan yang setimpal atau lebih baik. Hal seperti ini, bukan saja dapat mempererat jalinan persaudaraan antara keduanya, tetapi juga memberi kebaikan kepada yang lain. Dan diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dan menambahkannya” (HR. al-Bukhari).

Inilah diantara adab (etika) orang yang berhutang. Dengannya, hutang bisa menjadi sarana menjalin ukhuwah, melahirkan ketentraman dan mencegah kebencian dan perpecahan. Lebih dari itu dengan memperhatikan adab, hutang bisa menjadi amal sholih, sarana meraup pahala.  Wallohua’lam..

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close