Ukhuwah

Keutamaan Menyambung Silaturahmi

Masuk satu Syawal tiba-tiba semua orang berlapang dada untuk memaafkan. Tiba-tiba semua orang berendah hati untuk minta maaf, tiba-tiba saling berkunjung dan menyambung kekerabatan. Hingga segala ganjelan, kekesalan, dan dendam-pun terlepas, berganti dengan kedekatan, keakraban, dan kasih sayang. SubhanAllah, seakan tali silaturahim terikat kuat, ukhuwahpun terlajin erat.

Sayangnya suasana yang mulia tadi terkadang hanyalah sesaat, bahkan tidak sedikit hanya penghias bibir dan ceremonial belaka. Belum muncul kesadaran bahwa itu semua adalah bagian ibadah, yang di dalamnya mesti ada unsur ikhlas mencari ridho Allah, ketulusan dan kesungguhan. Wal hasil, ungkapan maaf dan kunjungannyapun tidak mampu memperbaiki hunbungan yang tengah retak, tidak mampu melepas ganjelan, apalagi menghilangkan dendam yang ada.

Untuk itu ada baiknya kita ulas kembali perkara seputar silaturahim dan ukhuwah. Hingga fenomena syawal benar-benar muncul dari kesadaran ubudiyah, bukan rutinitas tradisi belaka.

Silaturahmi & Ukhuwah

Hal pertama yang butuh didudukan adalah membedakan antara silaturahmi dan ukhuwah, karena sering keduanya diterapkan tidak pada tempatnya hingga kehilangan penekanan dari salah satunya.

Secara bahasa, shilah artinya hubungan; dan ar-rahimu, bentuk jamaknya al-arhâm, artinya rahim dan kerabat.  Kata arhâm di dalam al-Quran dinyatakan tujuh kali dengan makna rahim dan lima kali dengan makna kerabat.  Dengan demikian silaturahmi secara bahasa adalah hubungan yang muncul karena rahim atau hubungan kekerabatan yang bertalian melalui rahim.

Al-Imam Ibnul-Atsir rahimahullah berkata,

Silaturahmi adalah ungkapan mengenai perbuatan baik kepada karib kerabat karena hubungan senasab atau karena perkawinan.

Dari pengertian ini, maka silaturahmi hanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dengan kita, seperti kedua orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan kerabat dengan kita.

Adapun menyambung hubungan dengan rekan-rekan dan kawan-kawan, ikhwah semajelis taklim, teman sekerja dan yang lainnya, yang bukan kerabat lebih tepat disebut Ukhuwah (jalinan persaudaraan).

Silaturahmi Adalah Ibadah

Hal kedua yang butuh ditekankan adalah menyadarkan bahwa silaturahmi adalah perkara yang secara syar’i diperintahkan. Sebagaimana FirmanNya:

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim (yaitu jangan sampai memutusnya)” (QS. An Nisa:1).

Allah Ta’ala memuji  dan menjanjikan kepada ‘Sang Penyambung’ sebagai orang yang berhak mendapatkan surga sebagaimana firmanNya:

“(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar Ra’du : 20-21)

Dari dua ayat diatas mestinya memunculkan bahwa aktifitas silaturahmi bukan hanya sekedar melestarikan tradisi/kebiasan tetapi lebih dari itu adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Rabb Al alamin.

‘Sang Penyambung’

       Mungkin sebagian orang merasa telah menjadi ‘Sang Penyambung’ (Al Washil) dengan mengunjungi kerabat kerabatnya, membalas kebaikan saudara dengan kebaikan pula. Tapi ternyata bukan demikian yang disebut ‘Sang Penyambung’.

Beliau SAW Bersabda:

Sang Penyambung (Al Washil) bukanlah Al Mukafi (seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal). Akan tetapi Sang Penyambung (Al Washil) adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari)

       Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berkata:

Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: diantaranya (pen.) Beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku.” (HR. Ahmad)

Inilah Al Washil (‘Sang Penyambung’), satu karakter mulia yang tentu tidak mudah diaplikasikan. Karena faktanya manusia adalah makhluk yang suka membalas. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukanpun inginnya dibalas dengan keburukan pula. Dan  ‘Sang Penyambung’ bisa melawan tabiat insaniyahnya hingga keburukan dan kejahatan kerabatnya tidak dibalas dengan keburukan, tetapi justru dibalas dengan kebaikan. SubhanAllah

Bentuk Silaturahmi

       Bersilaturahmi dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat, menanyakan kabarnya, memberikan hadiah, bersedekah kepada mereka yang miskin, menghormati mereka yang berusia lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan lemah, serta menanyakan terus keadaan mereka, baik dengan cara datang langsung, melalui surat, maupun dengan menghubunginya lewat telepon ataupun short massage service (sms).

       Bisa juga dilakukan dengan meminta mereka untuk bertamu, menyambut kedatangannya dengan suka cita, memuliakannya, ikut senang bila mereka senang dan ikut sedih bila mereka sedih, mendoakan mereka dengan kebaikan, tidak hasad (dengki) terhadapnya, mendamaikannya bila berselisih, dan bersemangat untuk mengokohkan hubungan di antara mereka.

       Bisa juga dengan menjenguknya bila sakit, memenuhi undangannya, dan yang paling mulia ialah bersemangat untuk berdakwah dan mengajaknya kepada hidayah, tauhid, dan Sunnah, serta menyuruh mereka melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan dosa dan maksiat.

       Dan itu semua tetap dilakukan meski kerabat tidak membalas dengan kebaikan yang serupa, bahkan mungkin memusuhi dan memutus hubungan dengannya. SubhanAllah…

Keutamaan ‘Sang Penyambung’

       Betapa mulianya akhlak ‘Sang Penyambung’ hingga merekapun layak mendapatkan keutamaan. Dan diantara keutamaan yang dijanjikan adalah:

       Sang Penyambung berhak mendapatkan Rahmat Allah Ta’ala. Sebagaimana di dalam hadist Qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya penamaan rahim itu diambil dari (nama Allah) Ar Rahman, lalu Allah berfirman: Barangsiapa menyambungmu maka Akupun menyambungnya dan barangsiapa memutuskanmu maka Akupun akan memutuskannya.” (HR. al-Bukhari)

            Sang Penyambung berhak dilapangkan rizkinya, dipanjangkan umurnya. Hal ini sebagaimana Sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. al-Bukhari)

       Sang Penyambung berhak mendapatkan do’a mustajab

Tidaklah seorang muslim pun dimuka bumi yang berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla dengan sebuah doa melainkan Allah akan memberikan hal itu kepadanya atau atau menjaganya dari kejelekan semisalnya selama ia tidak meminta dengan kejelekan atau memutus hubungan rahim.” (HR. Ahmad)

       Sang Penyambung berhak mendapatkan keselamatan diatas shiroth, Beliau bersabda tentang shiroth:

Kemudian diutuslah amanah dan silaturrahim hingga keduanya berdiri di kedua tepi shirath (jembatan), kanan dan kiri” (HR. Muslim)

       Sang Penyambung berhak mendapatkan derajat tinggi di surga. Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Beliau bersabda:

Siapa yang ingin bangunannya dibaguskan, ditinggikan derajatnya, maka hendaklah dia: Memaafkan orang yang mendzaliminya,  Mau memberi kepada orang yang memboikotnya, Mau menyambung orang yang memutuskan kekerabatan dengannya.” (HR. Al Hakim, dalam tafsir Ibnu Katsir)

Jadilah ‘Sang Penyambung’ Seterusnya

       Syawal segera berlalu, akankah kemuliaan ‘Sang Penyambung’ juga akan sirna?

       Bila semua itu dibangun dari pondasi ubudiyah (sadar sebagai bagian dari ketaatan penghambaan kepada Allah) dan mengharapkan balasan, keutamaan dariNYa, dan bukan hanya sekedar rutinitas/tradisi belaka, maka hendaknya akhlaq mulia ini menjadi sesuatu yang melekat sepanjang hayat kita.

La haula wala quwwata illa billah…

Tags

Balai Dakwah Banjarnegara

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close