Ukhuwah

5 Tahapan dalam Ukhuwah

Banyak ragam ukhuwah yang mengikat manusia. Ada ukhuwah karena kesamaan suku, ukhuwah kebangsaan, ukhuwah kekerabatan (Nasab), bahkan belakangan muncul berbagai bentuk ukhuwah (komunitas) yang dibangun karena adanya kesamaan dalam hal tertentu.  Sama nomer partainya, jadi saudara separtai. Sama merk mobil – motornya pun jadi saudara yang saling tolong-menolong, solidaritas dan saling peduli. Unik memang…

Tetapi Alloh memerintahkan agar dien ini sebagai ikatan yang terkuat melebihi ikatan ukhuwah manapun. Sehingga bisa mengikat manusia meski dari keturunan (nasab) yang berbeda, suku bangsa yang berbeda, warna kulit yang berbeda. Tengoklah awal islam, Bilal yang berkulit hitam, bekas budak bisa sederajat dan setara dengan sahabat dari kalangan Arab. Salman yang berasal dari Persia, Suhaib yang berasal dari Romawi, menjadi saudara karena ikatan islam. Sungguh indahnya, …

Untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, tampaknya perlu kita ketahui beberapa tahapan yang harus dilalui hingga ukhuwah terasa lebih bermakna.

Ta’aruf  (saling mengenal).

Allah SWT berfirman yang artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal… (Q.S. Al Hujurat: 13).

 ‘Tak kenal maka tak sayang’ peribahasa yang sangat masyhur. Faktanya memang demikian,  kadang orang yang nampak jahat ternyata baik saat kita kenal lebih dekat. Sebaliknya seseorang yang nampak baik, ternyata jahat saat kita kenal lebih dekat.

Saat seorang muslim tidak mengenali saudaranya maka yang muncul adalah prasangka dan saling curiga. Bahkan saat tidak saling kenal seseorang bisa membenci saudaranya melebihi kebenciaannya kepada musuh-musuhnya. Maka mengenali seseorang adalah keniscayaan hingga seseorang bisa bersaudara.

Hari ini umat islam sedemikian banyak, tentu memunculkan keragaman pula dalam berfikir, bersikap. Karena mereka juga berasal dari latar belakang ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan yang berbeda. Belum lagi mereka tergabung dalam berbagai wadah dengan corak dan pola pergerakan yang berbeda. Ini semua menuntut umat islam untuk mengenal lebih dekat dengan saudaranya, tanpanya sungguh proses ukhuwah islamiyah sulit terwujud.

Ta’aluf (penyatuan hati)

Setelah saling mengenal, dan menyadari bahwa perbedaan adalah keniscayaan maka perbedaan-perbedaan yang ada disatukan dengan ikatan yang diterima oleh setiap anggota ukhuwah. Terkait dengan ukhuwah islamiyah maka sebagai pengikatnya adalah dien. Sebagaimana perintahNya:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS Ali Imron: 103).

Mengedepankan persamaan dibanding perbedaan tampaknya bisa menjadi titik awal untuk memulai ukhuwah islamiyah. Sebagaimana Nabi SAW pernah diperintah untuk menyeru kepada ahli kitab (Yahudi & Nashrani): Katakanlah:

Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah… (Qs Ali Imron: 64)

Bila dengan ahli kitab saja dicarikan titik temu yang disepakati bersama, tentu dengan saudara sesama muslim lebih banyak lagi titik temu-titik temu yang dengannya bisa untuk menjalin dan mengeratkan ukhuwah. Bukankah Rabb kita sama, kitab rujukannya sama, nabinya sama, kiblatnya sama, syahadatnya sama, dan perkara ushul lain yang memang tidak mungkin berbeda? Kesadaran ini bisa menjadi titik awal menyatukan hati sesama muslim menuju ukhuwah islamiyah.

Tafahum (saling memahami)

Setelah saling mengenal, dan disatukan dalam ikatan islam maka tuntutan selanjutnya adalah saling memahami. Yaitu memahami ada perkara-perkara yang memang syariat memberi ruang ijtihad, di wilayah ini memungkinkan terjadi  ikhtilaf (perbedaan), tetapi tidak sampai kepada tafaruq. Sufyan Ats Tsauri pernah berkata:

Jika kamu melihat seseorang yang mengamalkan suatu ilmu yang diperselisihkan, sementara pendapatmu berbeda dengannya, maka jangalah kamu mencegahnya.

Inilah tafahum…

Maka setiap individu dituntut memahami perbedaan yang ada. Menghargai pendapat dan kekurangan saudaranya, bahkan saling menutupi kekurangan dan saling menguatkan kelemahan yang lain.  Lapang dada dengan sikap saudaranya.

Toleran terhadap perkara khilafiyah akan melenyapkan prasangka buruk, permusuhan, apalagi kebencian dan dendam. Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami tetapi tidak berusaha memahami muslim yang  lain.

At-Ta’aawun (saling tolong menolong)

Dan tahap selanjutnya seorang muslim dituntut tolong menolong dengan saudaranya.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-maidah:2)

Betapa indahnya bila sesama muslim saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketaatan, tolong menolong untuk menjauhi perbuatan mungkar, tolong menolong untuk bisa sabar dan istiqomah di jalan Alloh. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

Sebaik-baik teman adalah orang yang mengingatkamu di saat lupa dan menolongmu di saat engkau ingat (kebaikan)

Takaful wa tanashur

Yaitu saling menanggung dan menolong (senasib sepenanggungan). Saat saudara susah ikut merasa susah dan ingin menolong dan meringankannya. Saat saudara senang ikut merasa senang dan bergembira karenannya.

Apa yang ia inginkan untuk dirinya, ia pun ingin bisa dinikmati saudaranya. Apa yang dirasa baik untuk dirinya, ia pun ingin didapat pula oleh saudaranya. Seperti sabda Nabi SAW:

Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintai saudaranya seperti kamu mencintai dirimu sendiri. (HR. Bukhari-Muslim).

Bahkan para sahabat radhiallohuanhum mampu berbuat lebih dari itu. Mereka mampu bersifat itsar (yaitu lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri). Subhanalloh..

Betapa indahnya bila ini terjadi hari ini. Umat islam bersatu, merasa satu tubuh, saling menguatkan, saling berkasih sayang, saling mencintai. Santun dalam menasehati, bijak dalam mensikapi.

Tidak ada ganjelan antara muslim dengan muslim lain, apalagi dendam. Tidak saling curiga apalagi saling menjatuhkan. Tidak ada permusahan apalagi kebencian terhadap saudaranya. Ya alloh persatukan hati kami di atas agamaMu.

Ustadz Junianto, S.E

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close