Khutbah Jum'at

Memahami Hakikat Kehidupan Dunia dan Akhirat

Khutbah Pertama
Mukadimah (Khutbatul Hajah)


إِنَ اﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُهُ وَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴﻨُﻪُ وَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُهُ، وَﻧَﻌُﻮذُ ﺑِﺎﻟﻠَﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُورِ أَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ وَﻣِﻦْ ﺳَﻴْﺌَﺎتِ أَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِهِ اﻟﻠَﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَ ﻟَﻪُ، وَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎدِيَ ﻟَﻪُ. أَﺷْﻬَﺪُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﻪَ إِﻻَ اﻟﻠَﻪُ وَﺣْﺪَهُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ، وَأَﺷْﻬَﺪُ أَنَ ﻣُﺤَﻤَﺪًا ﻋَﺒْﺪُهُ وَرَﺳُﻮﻟُﻪُ.

ﻳَﺎ أَﻳﻬَﺎ اﻟَﺬِﻳﻦَ آﻣَﻨُﻮا اﺗَﻘُﻮا اﻟﻠَﻪَ ﺣَﻖَ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ وَﻻَ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَ إِﻻَ وَأَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮنَ.

ﻳَﺎ أَﻳﻬَﺎ اﻟﻨَﺎسُ اﺗَﻘُﻮا رَﺑَﻜُﻢُ اﻟَﺬِي ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ وَاﺣِﺪَةٍ وَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ زَوْﺟَﻬَﺎ وَﺑَﺚَ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ رِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴﺮًا وَﻧِﺴَﺎءً وَاﺗَﻘُﻮا اﻟﻠَﻪَ اﻟَﺬِي ﺗَﺴَﺎءَﻟُﻮنَ ﺑِﻪِ وَاﻷَْرْﺣَﺎمَ إِنَ اﻟﻠَﻪَ ﻛَﺎنَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ رَﻗِﻴﺒًﺎ.

ﻳَﺎ أَﻳﻬَﺎ اﻟَﺬِﻳﻦَ آﻣَﻨُﻮا اﺗَﻘُﻮا اﻟﻠَﻪَ وَﻗُﻮﻟُﻮا ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ أَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ وَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ذُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ وَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ اﻟﻠَﻪَ وَرَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎزَ ﻓَﻮْزًا ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ.

أَﻣَﺎ ﺑَﻌْﺪُ

Ma’ asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam. Nikmat yang paling agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya, karena dengan iman dan Islamlah kita memiliki kompas dan petunjuk dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, uswah hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqamah mengikuti jejak langkah beliau hingga hari kiamat kelak.

Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, hanya bekal takwalah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, “Berbekallah, dan sesung guhnya sebaik-baik bekal adalahtakwa.”

Pada kesempatan yang mulia ini, di hari yang penuh berkah ini, marilah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk kesibukan duniawi untuk merenungkan satu hal yang sangat fundamental dalam eksistensi kita sebagai manusia: Memahami Hakikat Kehidupan Dunia dan Akhirat.

Seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang seolah tanpa henti. Kita bangun pagi, bekerja keras hingga petang, mengejar target, menumpuk harta, membangun reputasi, dan terus berputar dalam siklus yang sama setiap harinya. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Untuk apa semua ini? Ke mana akhir dari perjalananini? Dan apa yangsebenarnya kita cari?

Tanpa pemahaman yang benar tentang hakikat dunia, manusia akan mudah tersesat. Dunia ini ibarat bayangan; jika kita mengejarnya, ia akan terus lari, namun jika kita membelakanginya untuk menuju cahaya, ia akan mengikuti kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kita bukan tanpa tujuan. Dunia ini bukan tempat tinggal yang abadi, melainkan hanyalah tempat persinggahan, sebuah laboratorium ujian untuk membuktikan siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Analogi Penyelam: Pelajaran dari Imam Al-Ghazali
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Imam Al-Ghazali, dalam salah satu nasihatnya yang sangat masyhur, memberikan sebuah analogi yang sangat indah sekaligus menggetarkan jiwa tentang kehidupan dunia. Beliau mengibaratkan kehidupan dunia ini seperti seorang penyelam yang handal.

Bayangkan seorang penyelam yang diberikan misi penting. Ia dibekali dengan peralatan selam yang lengkap dan sebuah tabung oksigen yang memiliki kapasitas terbatas. Ia tahu persis bahwa oksigen itu akan habis pada waktu yang telah ditentukan. Tugasnya hanya satu: menyelam ke dasar samudera yang paling dalam untuk mengambil mutiara, permata, dan batu-batu berharga yang tersimpan di sana. Benda-benda berharga inilah yang akan menentukan kemuliaan dan kebahagiaannya saat ia kembali ke daratan nanti.

Penyelam itu pun terjun ke dalam air. Namun, apa yang terjadi di bawah sana? Dasar laut ternyata menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Ada ikan-ikan tropis yang berwarna-warni menari-nari di antara terumbu karang yang eksotis. Ada tanaman laut yang melambai-lambai dengan anggunnya. Ada cahaya matahari yang menembus kedalaman air menciptakan gradasi warna yang memukau mata.

Banyak penyelam yang akhirnya terlena. Mereka terpaku melihat keindahan ikan-ikan itu. Mereka asyik bermain-main dengan terumbu karang. Mereka lupa bahwa tujuan utama mereka adalah mengambil mutiara di dasar sana. Mereka lupa bahwa tabung oksigen di punggung mereka terus berkurang tekanannya setiap detik. Hingga akhirnya, alarm berbunyi tanda oksigen hampir habis. Dengan panik, mereka mencoba berenang kembali ke permukaan, namun tangan mereka kosong. Mereka kembali tanpa membawa mutiara, tanpa membawa permata. Mereka kembali dalam keadaan merugi karena telah menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang hanya sekadar “pemandangan” sementara.

Ma’ asyiral Muslimin,
Analogi ini adalah cerminan hidup kita.
• Tabung Oksigen itu adalah umur kita. Setiap tarikan nafas kita adalah berkurangnya jatah oksigen kehidupan kita. Kita tidak pernah tahu kapan jarum indikatornya akan menyentuh angka nol.
• Dasar Samudera itu adalah dunia tempat kita berpijak saat ini.
• Mutiara dan Permata itu adalah amal shalih, shalat kita, zakat kita, akhlak mulia kita, dan pengabdian kita kepada Allah.
• Ikan warna-warni dan terumbu karang itu adalah perhiasan dunia: harta yang melimpah, jabatan yang mentereng, popularitas di media sosial, dan segala kesenangan semu yang seringkali membuat kita lupa akan misi utama kita.

Betapa banyak manusia yang gagal dalam “penyelaman” hidup ini bukan karena mereka tidak mampu beramal, tetapi karena mereka lupa tujuan. Mereka terlalu sibuk memoles “pemandangan” dunia mereka hingga lupa mengumpulkan bekal untuk kembali ke “permukaan” akhirat.

Membedah Surah Al-Hadid Ayat 20
Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pencipta yang paling mengenal karakter ciptaan-Nya, telah memberikan deskripsi yang sangat akurat tentang apa itu dunia dalam Al-Qur’anul Karim. Mari kita renungkan firman-Nya dalam Surah Al-Hadid ayat 20:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ

Dalam ayat ini, Allah merinci lima fase atau karakteristik yang biasanya menyelimuti kehidupan manusia di dunia:
1. La’ ibun (Permainan)
Dunia ini disebut permainan karena sifatnya yang sementara dan seringkali tidak serius. Lihatlah anak-anak yang bermain; mereka begitu antusias, tertawa, terkadang bertengkar memperebutkan mainan, namun ketika sore tiba dan orang tua memanggil pulang, permainan itu selesai. Semua mainan ditinggalkan. Begitulah dunia. Jabatan yang kita banggakan, kekayaan yang kita tumpuk, pada akhirnya hanyalah “mainan” yang akan kita tinggalkan saat “waktu pulang” (kematian) tiba.

2. Lahwun (Senda Gurau)
Senda gurau adalah sesuatu yang melalaikan. Sesuatu yang membuat kita asyik sehingga melupakan kewajiban yang lebih penting. Berapa banyak waktu kita habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Berapa jam dalam sehari kita habiskan hanya untuk menatap layar ponsel, melihat kehidupan orang lain yang tampak indah, sementara hubungan kita dengan Allah semakin renggang? Itulahlahwun, pencuri waktu yang paling halus.

3. Zinatun (Perhiasan)
Manusia secara fitrah menyukai keindahan. Namun, perhiasan dunia seringkali menjadi jebakan. Kita berlomba-lomba mempercantik casing kehidupan kita: rumah yang paling megah, mobil yang paling mewah, pakaian yang paling bermerek. Semua itu dilakukan demi mendapatkan pengakuan dari sesama manusia. Padahal, Allah tidak melihat rupa dan harta kita, melainkan melihat hati dan amal perbuatan kita. Mengejar perhiasan dunia tanpa batas hanya akan membuat kita merasa selalu kurang dan tidak pernah puas.

4. Tafakhurun Bainakum (Saling Berbangga)
Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Saling berbangga tentang siapa yang lebih sukses, siapa yang anaknya lebih berprestasi, siapa yang jabatannya lebih tinggi. Persaingan ini seringkali melahirkan kesombongan dan merendahkan orang lain. Kita lupa bahwa semua kelebihan yang kita miliki adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali.

5.Takathurun fil Amwali wal Awlad (Berlomba dalam Harta dan Keturunan)
Obsesi untuk memperbanyak kuantitas. Banyak orang terjebak dalam angka-angka: berapa saldo rekeningnya, berapa banyak cabangnya, berapa banyak pengikutnya. Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada jumlah, padahal kebahagiaan sejati terletak pada keberkahan. Harta yang banyak tanpa berkah hanya akan menjadi beban di dunia dan hisab yang berat di akhirat.

Allah menutup ayat ini dengan perumpamaan yang sangat indah: dunia itu seperti hujan yang menumbuhkan tanaman yang hijau royo-royo, mengagumkan para petani. Namun tak lama kemudian, tanaman itu menguning, kering, dan hancur menjadi sampah. Begitulah siklus dunia; seindah apa pun ia hari ini, esok ia akan sirna.

Siapakah Orang yang Cerdas?
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam pandangan Islam, definisi kecerdasan tidaklah diukur dari tingkat IQ yang tinggi atau gelar akademik yang berderet. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan standar kecerdasan yang sangat berbeda dalam sabdanya:

اﻟْﻜَﻴْﺲُ ﻣَﻦْ دَانَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ وَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ اﻟْﻤَﻮْتِ، وَاﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ أَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَاﻫَﺎ وَﺗَﻤَﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻠَﻪِ

Artinya: “Orang yang cerdas (al-kay yis) adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)


Orang yang cerdas adalah mereka yang memiliki visi jangka panjang. Mereka tahu bahwa hidup di dunia ini paling lama hanya 60 sampai 70 tahun, sementara hidup di akhirat adalah selamanya. Maka, adalah sebuah ketidakcerdasan jika seseorang menghabiskan seluruh energinya untuk membangun istana di tempat persinggahan yang hanya sebentar, namun membiarkan rumah masa depannya yang abadi terbengkalai tanpa persiapan.

Kata “Dunya” dalam bahasa Arab berasal dari akar kata dunuw yang berarti dekat, atau
danâ’ahyang berarti rendah atau hina. Dunia disebut demikian karena ia sangat dekat dan cepat hilang, serta nilainya rendah jika dibandingkan dengan akhirat. Orang yang cerdas tidak akan menukar permata yang abadi dengan pecahan kaca yang hanya berkilau sesaat.

Menyeimbangkan Kebutuhan vs Keinginan
Ma’ asyiral Muslimin rahimakumullah,
Salah satu penyebab utama mengapa manusia begitu terobsesi dengan dunia adalah ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan manusia itu sebenarnya terbatas dan sederhana. Untuk bertahan hidup, kita hanya butuh makan secukupnya, pakaian untuk menutup aurat dan melindungi tubuh, serta tempat tinggal untuk berteduh. Allah telah menjamin rezeki untuk memenuhi kebutuhan setiap makhluk-Nya. Tidak ada satu pun hewan melata di bumi ini kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya.

Namun, yang tidak terbatas adalah keinginan. Keinginan dipicu oleh nafsu, gengsi, dan gaya hidup. Kita ingin makan di tempat yang paling mahal bukan karena lapar, tapi demi status. Kita ingin membeli pakaian baru setiap bulan bukan karena tidak punya baju, tapi karena ingin dianggap trendi. Kita ingin rumah yang lebih besar bukan karena kurang tempat, tapi karena ingin lebih hebat dari tetangga.

Ketika keinginan menjadi panglima dalam hidup, maka dunia akan terasa sempit. Kita akan terus merasa kurang, terus merasa lelah mengejar sesuatu yang tidak ada ujungnya. Inilah yang membuat banyak orang stres, depresi, bahkan menghalalkan segala cara demi memuaskan keinginan duniawinya. Mereka lupa bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Seandainya manusia memiliki dualembah emas, niscayaiaakan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa menyumbat mulut manusia kecuali tanah(kematian).”

Teladan Sahabat: Menjadikan Dunia Sebagai Wasilah
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Apakah Islam melarang kita menjadi kaya? Apakah Islam melarang kita memiliki jabatan? Tentu tidak. Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia secara ekstrem hingga meninggalkan segala urusan duniawi. Yang diajarkan Islam adalah meletakkan dunia di tangan, bukan di hati.

Jadikan dunia sebagai perangkat (wasilah) untuk mencapai tujuan akhirat. Lihatlah teladan dari sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah salah satu orang terkaya di masanya. Namun, beliau menggunakan kekayaannya sebagai “tiket” menuju surga.

Ketika umat Islam di Madinah mengalami krisis air, Utsman membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi dengan harga yang sangat mahal, lalu beliau wakafkan untuk kepentingan umat. Ketika tentara Islam membutuhkan perlengkapan perang, Utsman mendonasikan ribuan unta dan emasnya. Beliau paham betul bahwa harta yang ia simpan akan habis, sedangkan harta yang ia sedekahkan akan kekal di sisi Allah. Hingga hari ini, jejak kedermawanan beliau masih terasa di tanah suci. Inilah contoh orang yang dunianya terlihat sangat sukses, namun orientasi utamanya tetaplah akhirat.

Begitu pula dengan kita hari ini. Apa pun profesi kita, jadikan itu sebagai ladang ibadah.
• Jika Anda seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur, yang dengan hartanya ia bisa membangun masjid, menyantuni anak yatim, dan menggerakkan ekonomi umat.
• Jika Anda seorang pejabat atau pemimpin, jadikan kekuasaan Anda untuk menegakkan keadilan dan menolong orang-orang yang terzalimi. Satu tanda tangan Anda yang membela kebenaran bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat nanti.
• Jika Anda seorang guru, jadikan setiap ilmu yang Anda ajarkan sebagai jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun Anda sudah tiada.

Setiap aset duniawi yang kita miliki—baik itu harta, ilmu, jabatan, maupun keluarga—semuanya adalah alat. Di tangan orang yang beriman, alat-alat ini akan digunakan untuk membangun peradaban dan menjemput ridha Allah. Namun di tangan orang yang lalai, alat-alat ini justru akan menjadi jerat yang menyeretnya ke dalam kebinasaan.

Pesan Moral dan Muhasabah
Hadirin yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup khutbah pertama ini, mari kita bawa pulang beberapa poin penting untuk kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Ingatlah Batas Waktu: Umur kita adalah modal utama. Jangan biarkan ia habis hanya untuk menonton “ikan warna-warni” dunia tanpa membawa “mutiara” amal shalih. Sadarilah bahwa setiap hari yang berlalu membawa kita selangkah lebih dekat ke liang lahat.
2. Sederhanakan Hidup: Fokuslah pada pemenuhan kebutuhan dan kendalikan keinginan. Hidup sederhana bukan berarti miskin, tetapi hidup yang tidak diperbudak oleh materi. Dengan menyederhanakan keinginan, hati akan menjadi lebih tenang dan fokus pada ibadah akan lebih terjaga.
3. Evaluasi Niat: Periksalah kembali niat kita dalam bekerja dan beraktivitas. Apakah murni mencari materi, ataukah ada niat luhur untuk beribadah kepada Allah? Ubahlah setiap rutinitas duniawi menjadi nilai ukhrawi dengan niat yang benar.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar mampu memahami hakikat kehidupan ini dengan benar. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tertipu oleh kesenangan dunia yang semu, dan semoga kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang cerdas, yang sukses di dunia dan mulia di akhirat.


ﺑَﺎرَكَ اﻟﻠﻪُ ﻟِﻲْ وَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ اﻟْﻘُﺮْآنِ اﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ وَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲْ وَإِﻳَﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦَ اﻵْﻳَﺎتِ وَاﻟﺬْﻛْﺮِ اﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ. أَﻗُﻮْلُ ﻗَﻮْﻟِﻲْ ﻫَﺬَا وَأَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ اﻟﻠﻪَ ﻟِﻲْ وَلكمْ وَﻟِﺴَﺎﺋِﺮِ اﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ وَاﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎتِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُوْهُ إِﻧَﻪُ ﻫُﻮَ اﻟْﻐَﻔُﻮْرُ اﻟﺮَﺣِﻴْﻢُ.

Khutbah Kedua
اﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَﻪِ ﺣَﻤْﺪًا ﻛَﺜِﻴﺮًا ﻃَﻴْﺒًﺎ ﻣُﺒَﺎرَﻛًﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺤِﺐ رَﺑﻨَﺎ وَﻳَﺮْﺿَﻰ. أَﺷْﻬَﺪُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﻪَ إِﻻَ اﻟﻠَﻪُ وَﺣْﺪَهُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ، وَأَﺷْﻬَﺪُ أَنَ ﻣُﺤَﻤَﺪًا ﻋَﺒْﺪُهُ وَرَﺳُﻮﻟُﻪُ اﻟَﺬِي ﻻَ ﻧَﺒِﻲَ ﺑَﻌْﺪَهُ. اﻟﻠَﻬُﻢَ ﺻَﻞْ وَﺳَﻠْﻢْ وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴْﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَﺪٍ وَﻋَﻠَﻰ آﻟِﻪِ وَﺻَﺤْﺒِﻪِ وَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎنٍ إِﻟَﻰ ﻳَﻮْم اﻟﺪْﻳﻦِ.
أَﻣَﺎ ﺑَﻌْﺪُ:
ﻓَﻴَﺎ ﻋِﺒَﺎدَ اﻟﻠَﻪِ، اﺗَﻘُﻮا اﻟﻠَﻪَ ﺣَﻖَ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ وَﻻَ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَ إِﻻَ وَأَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮنَ.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah kedua yang singkat ini, marilah kita kembali meneguhkan komitmen kita untuk senantiasa memprioritaskan akhirat dalam setiap langkah kehidupan kita. Dunia ini hanyalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memanen. Apa yang kita tanam

hari ini, itulah yang akan kita petik hasilnya esok. Jika kita menanam kebaikan, kejujuran, dan ketaatan, maka kebahagiaanlah yang akan kita tuai. Namun sebaliknya, jika kita menanam kelalaian dan kemaksiatan, maka penyesalanlah yang akan kita rasakan.

Ingatlah doa yang sering kita panjatkan, Rabbanaatinafiddunya hasanah, wafil akhirati
hasanah, wa qina’adzabannar.Doa ini mengajarkan kita untuk meminta kebaikan di dunia, namun kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan yang mengantarkan kita pada kebaikan di akhirat. Kebaikan dunia yang tidak membawa kebaikan akhirat bukanlah hasanahyang sejati, melainkan ujian yang menyamar.

Marilah kita tutup rangkaian ibadah Jum’at ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap istiqamah di atas jalan-Nya.


إِنَ اﻟﻠَﻪَ وَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠﻮنَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻨَﺒِﻲْۚ ﻳَﺎ أَﻳﻬَﺎ اﻟَﺬِﻳﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﺻَﻠﻮا ﻋَﻠَﻴْﻪِ وَﺳَﻠْﻤُﻮا ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ.
اﻟﻠَﻬُﻢَ ﺻَﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَﺪٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺤَﻤَﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْﺮَاﻫِﻴﻢَ وَﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْﺮَاﻫِﻴﻢَ إِﻧَﻚَ ﺣَﻤِﻴﺪٌ ﻣَﺠِﻴﺪٌ. وَﺑَﺎرِكْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَﺪٍ وَﻋَﻠَﻰ آلِ ﻣُﺤَﻤَﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎرَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ إِﺑْﺮَاﻫِﻴﻢَ وَﻋَﻠَﻰ آلِ إِﺑْﺮَاﻫِﻴﻢَ إِﻧَﻚَ ﺣَﻤِﻴﺪٌ ﻣَﺠِﻴﺪٌ.
اﻟﻠَﻬُﻢَ اﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ وَاﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎتِ وَاﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ وَاﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎتِ اﻷَْﺣْﻴَﺎءِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ وَاﻷَْﻣْﻮَاتِ إِﻧَﻚَ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﻣُﺠِﻴﺐُ اﻟﺪَﻋَﻮاتِ.
اﻟﻠَﻬُﻢَ أَﻋِﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ذِﻛْﺮِكَ وَﺷُﻜْﺮِكَ وَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎدَﺗِﻚَ.
اﻟﻠَﻬُﻢَ ﻻَ ﺗَﺠْﻌَﻞِ اﻟﺪﻧْﻴَﺎ أَﻛْﺒَﺮَ ﻫَﻤْﻨَﺎ وَﻻَ ﻣَﺒْﻠَﻎَ ﻋِﻠْﻤِﻨَﺎ وَﻻَ إِﻟَﻰ اﻟﻨَﺎرِ ﻣَﺼِﻴﺮَﻧَﺎ.
اﻟﻠَﻬُﻢَ ﺑَﺎرِكْ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻲ رَﺟَﺐٍ وَﺷَﻌْﺒَﺎنَ وَﺑَﻠْﻐْﻨَﺎ رَﻣَﻀَﺎنَ.
رَﺑَﻨَﺎ آﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ اﻟﺪﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً وَﻓِﻲ اﻵْﺧِﺮَةِ ﺣَﺴَﻨَﺔً وَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَابَ اﻟﻨَﺎرِ.
ﻋِﺒَﺎدَ اﻟﻠَﻪِ، إِنَ اﻟﻠَﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْلِ وَاﻹِْﺣْﺴَﺎنِ وَإِﻳﺘَﺎءِ ذِي اﻟْﻘُﺮْﺑَﻰ وَﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦِ اﻟْﻔَﺤْﺸَﺎءِ وَاﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ وَاﻟْﺒَﻐْﻲِ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَﻜُﻢْ ﺗَﺬَﻛَﺮُونَ. ﻓَﺎذْﻛُﺮُوا اﻟﻠَﻪَ اﻟْﻌَﻈِﻴﻢَ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻛُﻢْ وَاﺷْﻜُﺮُوهُ ﻋَﻠَﻰ ﻧِﻌَﻤِﻪِ ﻳَﺰِدْﻛُﻢْ وَﻟَﺬِﻛْﺮُ اﻟﻠَﻪِ أَﻛْﺒَﺮُ وَاﻟﻠَﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗَﺼْﻨَﻌُﻮنَ.

Referensi
[1]Quran.com. (n.d.). Surah Al-Hadid Ayat 20. Diakses dari
[2]At-Tirmidzi, Hadits No. 2459. (n.d.). Jami’ at-Tirmidzi. Diakses dari
[3]Al-Ghazali, I. (n.d.). Ihya Ulumuddin. (Analogi Penyelam Dunia).
[4]Muslim, Hadits No. 1048. (n.d.). Shahih Muslim. (Hadits tentang Lembah Emas).

Balai Dakwah Banjarnegara

Pimpinan Balai Dakwah Banjarnegara dan Redaksi Majalah Al Qomar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close